BorneoFlash.com, JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengambil sejumlah langkah untuk menekan dampak kenaikan harga obat akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengatakan BPOM telah menerapkan berbagai kebijakan, termasuk mempermudah perubahan kemasan dan memberikan fleksibilitas dalam pengadaan bahan baku obat.“BPOM mempermudah perubahan kemasan dan memberikan fleksibilitas penggunaan bahan baku. Misalnya, perusahaan dapat beralih dari pemasok di satu negara ke pemasok di negara lain. Kami berharap kebijakan ini dapat menekan atau setidaknya menstabilkan harga obat,” ujar Taruna usai menghadiri Kick Off Pekan Jamu 2026 di Jakarta, Selasa.Taruna menjelaskan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS turut mendorong kenaikan harga bahan baku obat karena industri farmasi masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut membuat pelaku industri menyesuaikan harga untuk menjaga keberlangsungan usaha.Menurutnya, kenaikan harga obat sulit dihindari karena industri farmasi masih mengimpor sebagian besar bahan baku obat, khususnya obat kimia, yang berasal dari industri petrokimia. Pelaku pasar juga memperdagangkan bahan baku tersebut menggunakan dolar AS.“Terdapat kecenderungan kenaikan harga obat. Lebih dari 30 persen bahan baku obat kimia berasal dari industri petrokimia, sementara pelaku pasar umumnya memperdagangkan komoditas petrokimia, termasuk bahan bakar dan turunannya, menggunakan dolar AS,” katanya.Meski demikian, BPOM terus berkolaborasi dengan berbagai pihak dan memberikan kemudahan regulasi untuk membantu industri farmasi menekan dampak kenaikan harga obat.Taruna menegaskan, penguatan dolar AS, kondisi geopolitik global, dan meningkatnya harga bahan baku menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga obat. Namun, pemerintah terus berupaya mengendalikan dampaknya agar tidak membebani masyarakat secara berlebihan.“Kami berharap kenaikan harga obat tidak terjadi secara ekstrem. Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk mengendalikan dampaknya,” ujarnya.Sebagai informasi, nilai tukar rupiah pada Selasa pagi melemah 54,50 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.859 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per dolar AS. (*)