Kepemimpinan Membumi: Pelajaran Jawa Kuno untuk Menjawab Krisis Pemimpin Modern

Wait 5 sec.

Dok: AIDi zaman ketika politik semakin ramai oleh pencitraan, kepemimpinan sering kali diukur dari seberapa sering seseorang tampil di layar, seberapa tinggi elektabilitasnya, atau seberapa banyak pengikutnya di media sosial. Kita hidup dalam situasi ketika penampilan sering lebih dihargai daripada keteladanan, dan popularitas kerap dianggap lebih penting daripada integritas.Padahal, dalam tradisi Jawa, kepemimpinan tidak pernah dimulai dari luar diri. Ia berawal dari kemampuan seseorang mengelola dirinya sendiri. Sebab seseorang yang belum mampu memimpin hawa nafsunya akan sulit dipercaya untuk memimpin orang lain.Kearifan ini terasa semakin relevan ketika kita menyaksikan berbagai persoalan di sekitar kita. Korupsi terus berulang meski aturan semakin banyak. Konflik muncul meski ruang dialog terbuka lebar. Kepercayaan publik menurun bukan karena kurangnya program, tetapi karena masyarakat semakin sulit menemukan keteladanan.Tradisi Jawa sejak lama mengingatkan bahwa kualitas sebuah komunitas, organisasi, bahkan negara, sangat dipengaruhi oleh kualitas pemimpinnya. Ketika pemimpinnya jujur, budaya kejujuran tumbuh. Ketika pemimpinnya sederhana, kesederhanaan menjadi teladan. Sebaliknya, ketika pemimpin mempertontonkan keserakahan, masyarakat perlahan menganggap keserakahan sebagai sesuatu yang wajar.Karena itu, kepemimpinan bukan pertama-tama soal kemampuan memerintah, melainkan kemampuan memberi contoh.Salah satu pelajaran menarik dari falsafah Jawa adalah ajakan belajar dari alam. Alam mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras dan mencolok.Angin, misalnya, memberi kehidupan tanpa pernah meminta pujian. Kita baru menyadari pentingnya udara ketika kehilangannya. Begitu pula pemimpin yang baik. Ia tidak sibuk mencari sorotan, tetapi bekerja memastikan sistem berjalan dan masyarakat merasakan manfaatnya. Banyak kepala desa, guru, relawan sosial, atau pemimpin komunitas bekerja seperti angin: tidak viral, tetapi dampaknya nyata.Bumi mengajarkan kerendahan hati. Ia berada di bawah, menanggung beban siapa pun yang berdiri di atasnya, tetapi tetap memberi kehidupan. Pemimpin yang memiliki watak bumi tidak merasa dirinya lebih tinggi karena jabatan. Semakin besar tanggung jawabnya, semakin besar pula kesediaannya untuk melayani. Ia tidak alergi kritik dan tidak merasa harga dirinya turun ketika harus mendengar keluhan rakyat secara langsung.Samudra mengajarkan keluasan hati. Dalam kehidupan publik hari ini, kritik sering dianggap serangan dan perbedaan pendapat diperlakukan sebagai permusuhan. Padahal pemimpin yang matang harus mampu menampung berbagai aspirasi tanpa kehilangan kejernihan berpikir. Seperti samudra yang menerima banyak aliran sungai, pemimpin perlu memiliki ruang yang cukup luas untuk mendengar, memahami, dan merangkul perbedaan.Sementara rembulan mengajarkan keteduhan. Masyarakat tidak selalu membutuhkan pemimpin yang paling keras suaranya. Dalam situasi sulit, rakyat justru membutuhkan sosok yang mampu menghadirkan ketenangan dan harapan. Ketika harga kebutuhan pokok naik, lapangan pekerjaan sulit, atau bencana datang bertubi-tubi, yang dicari masyarakat bukan sekadar pidato panjang, tetapi kepastian bahwa ada pemimpin yang memahami kegelisahan mereka.Falsafah Jawa juga mengenalkan perumpamaan menarik tentang pemimpin sumur dan pemimpin sungai.Pemimpin sumur memiliki banyak pengetahuan, tetapi menunggu orang datang kepadanya. Sebaliknya, pemimpin sungai aktif mengalirkan manfaat ke mana-mana. Ia tidak menunggu laporan menumpuk di meja kerja sebelum bergerak. Ia turun melihat persoalan, mendengar langsung suara masyarakat, dan mencari solusi sebelum masalah membesar.Di sinilah letak tantangan kepemimpinan Indonesia hari ini. Banyak institusi masih bekerja seperti sumur: menunggu aduan, menunggu perintah, menunggu masalah datang. Padahal masyarakat membutuhkan pemimpin yang bekerja seperti sungai: hadir, bergerak, dan menjangkau mereka yang paling membutuhkan.Untuk menjaga kualitas kepemimpinan itu, tradisi Jawa mewariskan tiga nasihat sederhana tetapi sangat penting.Pertama, ojo gumunan—jangan mudah terpukau. Tidak semua hal yang terlihat baru pasti lebih baik. Pemimpin harus mampu membedakan antara inovasi yang memang dibutuhkan dan tren sesaat yang hanya mengikuti arus.Kedua, ojo kagetan—jangan mudah panik. Banyak keputusan buruk lahir bukan karena kurangnya informasi, tetapi karena pemimpin bereaksi terlalu cepat tanpa pertimbangan yang matang. Dalam situasi krisis, ketenangan sering kali lebih berharga daripada keberanian yang terburu-buru.Ketiga, ojo dumeh—jangan mentang-mentang. Jabatan, kekayaan, pendidikan, maupun kekuasaan hanyalah titipan. Ketika seseorang merasa dirinya lebih penting daripada orang lain karena posisi yang dimiliki, saat itulah kepemimpinannya mulai kehilangan makna.Pada akhirnya, inti kepemimpinan Jawa sangat sederhana: menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Bukan manusia yang paling dipuji, bukan yang paling terkenal, dan bukan pula yang paling berkuasa.Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh perebutan pengaruh, masyarakat sesungguhnya merindukan pemimpin yang membumi. Pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang rakyat, tetapi juga hadir di tengah rakyat. Pemimpin yang tidak menjadikan jabatan sebagai alat untuk dilayani, melainkan sebagai kesempatan untuk mengabdi.Karena sejarah menunjukkan bahwa yang paling lama dikenang bukanlah mereka yang paling besar kekuasaannya, melainkan mereka yang paling besar manfaatnya.