Ilustrasi refleksi diri terkait hubungan orang tua dan anak serta pengaruhnya terhadap kesehatan mental. /PexelsBelakangan ini, istilah narcissistic parent semakin sering muncul di media sosial. Banyak anak mulai membagikan pengalaman mereka tentang orang tua yang terlalu mengontrol, sulit meminta maaf, suka membandingkan anak, atau membuat anak merasa bersalah ketika tidak menuruti keinginan mereka. Dari situ, muncul pertanyaan yang mungkin diam-diam juga dirasakan banyak orang: “Jangan-jangan orang tuaku narsistik?”Tapi dalam psikologi, istilah narsistik sebenarnya tidak sesederhana sekadar egois atau ingin menang sendiri. Tidak semua orang tua yang keras, perfeksionis, atau cerewet bisa langsung disebut memiliki gangguan kepribadian narsistik. Karena itu, penting untuk memahami hal ini secara lebih hati-hati, agar kita tidak mudah melakukan self-diagnosis hanya berdasarkan konten media sosial.Dalam dunia psikologi, Narcissistic Personality Disorder (NPD) dijelaskan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders atau DSM-5 sebagai pola kepribadian yang ditandai dengan kebutuhan akut untuk selalu dikagumi, merasa diri paling penting, dan rendahnya empati terhadap orang lain. Orang yang punya kecenderungan narsistik biasanya sangat membutuhkan validasi dan sulit menerima kritik.Meski begitu, diagnosis gangguan kepribadian tidak bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan asesmen psikologis yang mendalam oleh profesional. Akan tetapi, beberapa orang tua memang dapat menunjukkan narcissistic traits atau dapat disebut kecenderungan narsistik dalam pola pengasuhannya.Dalam hubungan orang tua dan anak, kondisi ini disebut sebagai narcissistic parenting. Pada pola pengasuhan seperti ini, anak terkadang diperlakukan bukan sebagai individu yang memiliki perasaan dan kebutuhan sendiri, melainkan sebagai “perpanjangan diri” orang tua.Ilustrasi hubungan orang tua dan anak dalam pola pengasuhan yang memengaruhi perkembangan psikologis anak./PexelsPrestasi anak menjadi kebanggaan pribadi orang tua. Nilai bagus dianggap bukti bahwa mereka berhasil mendidik. Sebaliknya, kegagalan anak bisa dianggap sebagai aib keluarga. Tidak jarang, anak akhirnya tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya akan dihargai ketika berhasil.Kalimat-kalimat seperti:“Mama tuh cuma mau yang terbaik buat kamu.”atau“Kamu harusnya bisa lebih dari ini.”mungkin terdengar biasa saja. Bahkan sering dianggap bentuk perhatian. Namun, pada beberapa kondisi, kalimat seperti itu dapat membuat anak merasa bahwa kasih sayang yang ia terima selalu memiliki syarat.Psikolog humanistik Carl Rogers menyebut bahwa setiap individu membutuhkan unconditional positive regard, yaitu penerimaan tanpa syarat. Anak perlu merasa dicintai bukan hanya saat berhasil, tetapi juga ketika gagal, bingung, atau sedang tidak baik-baik saja. Ketika penerimaan itu tidak didapatkan, anak bisa tumbuh dengan rasa takut mengecewakan orang lain.Hal inilah yang sering membuat banyak anak dari pola pengasuhan narsistik menjadi people pleaser. Mereka terbiasa menekan perasaan sendiri demi menjaga suasana tetap aman. Mereka takut berkata “tidak”, takut dianggap mengecewakan, dan sering merasa bersalah ketika memprioritaskan diri sendiri.Tanpa sadar, anak menjadi sangat bergantung pada validasi eksternal. Mereka merasa berharga hanya ketika dipuji, berhasil, atau memenuhi ekspektasi orang lain.Psikolog Heinz Kohut menjelaskan bahwa individu dengan kecenderungan narsistik umumnya memiliki kebutuhan besar terhadap validasi karena konsep dirinya sebenarnya rapuh. Dalam konteks pengasuhan, kebutuhan validasi itu bisa membuat orang tua menggantungkan harga dirinya pada anak. Anak akhirnya tidak diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri.Di kehidupan sehari-hari, pola seperti ini sering kali sulit dikenali karena terlihat “normal”. Terlebih di budaya Asia, termasuk Indonesia, kontrol orang tua sering dianggap bentuk kasih sayang.Akibatnya, ketika anak mulai merasa terluka oleh pola pengasuhan tertentu, mereka justru merasa bersalah karena menganggap dirinya durhaka. Padahal, memahami luka masa kecil bukan berarti membenci orang tua.Selain memengaruhi hubungan dengan orang tua, pola pengasuhan narsistik juga dapat berdampak pada kondisi psikologis anak ketika dewasa. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kritik dan validasi bersyarat lebih rentan mengalami low self-esteem, kecemasan berlebih, hingga kesulitan membangun hubungan yang sehat.Tidak sedikit juga anak yang akhirnya kesulitan memahami emosinya sendiri karena sejak kecil terbiasa mendengar respons seperti:“Kamu terlalu sensitif.”“Jangan lebay.”“Masalah kecil aja nangis.”Ilustrasi dampak emosional yang dapat muncul akibat pola pengasuhan yang kurang suportif./PexelsDalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai emotional invalidation, yaitu ketika emosi seseorang dianggap salah, berlebihan, atau tidak penting. Jika terjadi terus-menerus, anak bisa terbiasa memendam emosi dan merasa bahwa perasaannya tidak layak didengar.Dari perspektif psikodiagnostik, pola-pola seperti ini penting untuk dipahami karena pengalaman masa kecil memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian dan kondisi psikologis seseorang. Namun, penting juga untuk diingat bahwa memahami karakteristik perilaku berbeda dengan menegakkan diagnosis.Media sosial sering kali membuat istilah “narsistik” terdengar sederhana, padahal kepribadian manusia jauh lebih kompleks dari sekadar potongan cerita di internet.Pada akhirnya, hubungan orang tua dan anak seharusnya menjadi tempat paling aman untuk bertumbuh. Anak tidak seharusnya merasa harus menjadi sempurna agar layak dicintai.Karena kasih sayang yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang terus-menerus merasa kurang.