Rupiah Tertekan, Harga Produk Makanan-Minuman Berpotensi Naik 5-6%

Wait 5 sec.

Ilustrasi makanan dan minuman yang cocok untuk musim hujan. Foto: RachenArt/ShutterstockKetua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman memperkirakan harga jual produk makanan dan minuman berpotensi naik sekitar 5-6 persen pada awal 2027. Hal ini menyusul tekanan pada nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini.Adhi mengatakan, industri makanan dan minuman masih bergantung pada bahan baku impor sehingga pelemahan rupiah menjadi salah satu kekhawatiran pelaku usaha. Pada akhirnya biaya pengadaan bahan baku semakin mahal, sementara industri juga menghadapi tantangan dari sisi distribusi.“Kelihatannya demikian ya (mengerek harga jual produk). Tapi kalau saya lihat, ini kan sudah menjelang akhir tahun ya. Kalau perusahaan menengah-besar punya daya tahan industri yang lumayan cukup ya, sehingga kita ada yang masih kontrak lama, ada yang masih punya stok bahan baku, stok bahan produk jadi, sehingga kita masih mungkin,” kata Adhi di sela-sela gelaran Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin), di Bogor, Jumat (6/11).Berbeda dengan perusahaan menengah-besar, industri kecil dan menengah (IKM) memiliki daya tahan lebih terbatas karena persediaan bahan bakunya relatif sedikit. Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan terhadap kenaikan biaya produksiBerdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot tercatat sebesar Rp 18.139 per dolar AS pada Jumat (6/11) pukul 13.33 WIB. Posisi tersebut menguat 57 poin atau 0,32 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.Akibat tekanan pada nilai tukar rupiah ini, Adhi memperkirakan penyesuaian harga produk akan mulai terjadi pada awal tahun depan. Menurut dia, rata-rata kenaikan harga di industri makanan dan minuman diperkirakan sekitar 5–6 persen.“Rata-rata kalau saya lihat industri mamin tuh average ya sekitar 5–6 persen lah. Itu pun sudah cukup tinggi gitu ya, karena price sensitive,” ujarnya.Ongkos Kontainer ke Australia Naik Jadi USD 3.000Selain pelemahan rupiah, kenaikan biaya logistik internasional turut membebani industri makanan dan minuman. Adhi mencontohkan ongkos pengiriman satu kontainer ke Australia yang sebelumnya sekitar USD 1.000 kini meningkat menjadi USD 3.000.Kenaikan juga terjadi pada pengiriman ke China. Jika sebelumnya ongkos kontainer berada di kisaran USD 200–USD 300, kini biayanya mencapai USD 700– USD 800. Sementara itu, pengiriman ke kawasan Timur Tengah menghadapi beban biaya yang lebih besar.“Kemarin kami diskusi dengan beberapa buyer dari Australia, sekarang ke Australia aja yang biasanya cuma USD 1.000, sekarang USD 3.000 per kontainer. Yang ke China biasanya cuma USD 200–USD300, sekarang bisa USD 700–USD 800,” tutur Adhi.Menghadapi kondisi tersebut, pelaku industri mulai mencari alternatif jalur logistik, termasuk untuk pengiriman ke Timur Tengah. Industri juga berupaya mencari alternatif negara pemasok bahan baku yang pasokannya mengalami hambatan.Adhi menilai pemenuhan kebutuhan bahan baku dari dalam negeri akan menjadi solusi yang lebih baik bagi industri. Namun, upaya tersebut membutuhkan strategi jangka panjang agar pasokan lokal dapat memenuhi kebutuhan produksi.Singkong Melimpah, Harga Tepung Tapioka Justru MahalPekerja mengeringkan olahan singkong untuk menjadi tepung tapioka di rumah produksi tepung tapioka di Ganeas, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu (13/9/2026). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTOAdhi juga mengakui saat ini ada kenaikan harga tepung tapioka meskipun pasokan singkong di dalam negeri disebut melimpah. Dia menyoroti kenaikan harga tersebut sebab tapioka merupakan bahan baku yang digunakan dalam kegiatan produksi.Adhi mengatakan persoalan harga tepung tapioka tersebut telah dibahas bersama Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Saat ini, pemerintah tengah mencari solusi untuk mengatasi persoalan tersebut.“Karena sebetulnya singkong banyak katanya, tapi tapiokanya mahal,” ujarnya.Menurut Adhi, ketersediaan bahan baku menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri makanan dan minuman. Selain tapioka, industri juga menghadapi persoalan pasokan bahan baku lain yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri.Dia berharap pemerintah dapat mencari solusi agar ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan makanan dan minuman lebih terjamin.Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman di sela-sela gelaran Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin), di Bogor, Jumat (6/11). Widya/kumparan