Utang Negara Berkembang Membengkak, Tembus USD 9,4 T

Wait 5 sec.

Ilustrasi World Bank. Foto: ShutterstockLaporan tahunan International Debt Report yang dirilis Bank Dunia mengungkap total utang negara-negara berkembang membengkak 5,5 persen sepanjang 2025 hingga menembus USD 9,4 triliun. Capaian tersebut mencatatkan rekor tertinggi sekaligus laju pertumbuhan utang tercepat dalam empat tahun terakhir.Lonjakan utang ini terutama didorong oleh pesatnya ekspansi pinjaman dari sektor swasta. Di saat bersamaan, negara-negara termiskin harus menanggung lonjakan biaya pinjaman yang semakin mahal. Rata-rata suku bunga pinjaman baru bagi kelompok negara yang memenuhi syarat pinjaman lunak Bank Dunia melonjak ke posisi 8,2 persen, menjadi level tertinggi sejak akhir 1980-an.Dikutip dari The Guardian, Kepala Statistik Bank Dunia, Haishan Fu, menyampaikan bahwa terbukanya akses pembiayaan internasional saat ini diiringi oleh lonjakan beban bunga yang sangat memberatkan."Akses terhadap pembiayaan internasional memang membaik, tetapi harga pembiayaan tersebut tidak demikian. Negara-negara berpendapatan rendah dan menengah semakin banyak meminjam, membayar lebih mahal, dan dalam banyak kasus memiliki dana yang semakin sedikit untuk pembangunan jangka panjang," papar Fu dalam laporan resmi BPS dunia tersebut.Bank Dunia menilai lonjakan beban pembayaran utang luar negeri, baik cicilan pokok maupun bunga, menggerus kemampuan anggaran pemerintah negara berkembang untuk investasi jangka panjang. Data awal 2026 mengindikasikan laju penarikan utang baru masih berlangsung masif di tengah tingginya suku bunga pembiayaan global.Laporan tersebut menyoroti sejumlah pinjaman terbaru dengan penetapan suku bunga yang sangat tinggi, di antaranya Laos dengan suku bunga 11,5 persen, Republik Kongo sebesar 13,88 persen, serta Kenya sebesar 9,2 persen.Ancam Ketahanan PanganBank Dunia menekankan bahwa tingginya beban utang memperburuk dampak guncangan global terhadap keterjangkauan pangan masyarakat. Negara dengan beban utang yang menumpuk cenderung jauh lebih rentan saat menghadapi tekanan ekonomi eksternal."Ketahanan pangan dan gizi menjadi contoh konkret dari interaksi ini. Beban utang yang tinggi berkaitan erat dengan menurunnya daya beli masyarakat untuk memperoleh makanan sehat selama periode krisis global," tulis Bank Dunia.