Pangdam Iskandar Muda Tegaskan Tak Ada Amunisi Tajam Saat Bentrok di Pidie

Wait 5 sec.

Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra, Pangdam Iskandar Muda Brigjen TNI Mahesa Fitriadi, dan Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan usai memberikan keterangan pers di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh, Jumat (6/11/2026). Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTOPanglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), Brigjen TNI Mahendra Fitriadi, menegaskan tidak ada amunisi tajam yang digunakan personel TNI saat bentrokan dengan warga di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, Rabu (4/11) lalu.Mahendra menyebut, personel TNI memang melepaskan tembakan peringatan menggunakan peluru hampa dan peluru karet ketika situasi bentrokan memanas. Namun, ia memastikan seluruh tembakan yang menggunakan peluru karet diarahkan ke atas, bukan ke warga.“Saya yakini, dan saya pertanggungjawabkan, tidak ada satu butir pun amunisi tajam,” kata Mahendra saat memberikan keterangan kepada wartawan di Banda Aceh, Jumat (6/11).Ia menjelaskan, tembakan peringatan dilakukan setelah personel TNI mendapat lemparan batu dan kayu dari sejumlah warga. Menurutnya, aparat sempat berupaya mundur, tetapi massa disebut masih mengejar personel.“Di situlah diperintahkan menembak peringatan dengan peluru hampa. Ada peluru karet, untuk sementara ini peluru karet pun digunakan untuk nembak ke atas, bukan diarahkan ke warga,” ujarnya.Ilustrasi TNI. Foto: Erick Fahrizal/ShutterstockMahendra mengatakan, penggunaan senjata dalam situasi tersebut tetap memiliki prosedur. Ia menyebut keputusan mengeluarkan tembakan peringatan diambil komandan yang berada di lapangan setelah situasi dinilai tidak terkendali.Meski demikian, Pangdam mengakui pihaknya masih mendalami penggunaan senjata dalam insiden tersebut. TNI telah mengonsolidasikan personel yang terlibat di Kodim dan belum mengembalikan mereka ke satuan masing-masing.Senjata yang dibawa personel saat kejadian juga telah dipisahkan untuk diperiksa. Langkah itu dilakukan guna mengidentifikasi senjata yang meletus atau digunakan untuk memberikan tembakan peringatan.“Senjata yang dipakai saja kami pisahkan, kemudian tentu ada teknik-teknik untuk mencari mana senjata yang meletus saat itu atau memberi peringatan,” katanya.Ia menambahkan, tim internal TNI juga akan turun ke lokasi kejadian untuk melakukan pendalaman. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu dan belum dapat disampaikan hasilnya dalam dua hari pertama setelah insiden.Bentrokan di Tiro terjadi saat aparat menertibkan pengibaran Bendera Bulan Bintang dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Peristiwa tersebut mengakibatkan satu warga meninggal dunia, 13 warga lainnya terluka, serta enam personel TNI mengalami luka-luka.Pangdam menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, lima personel TNI masih menjalani perawatan di Kodim Sigli, sementara satu personel lainnya telah diperbolehkan kembali.Mahendra menyampaikan bahwa pihaknya tidak mengharapkan kejadian tersebut terjadi. Ia juga meminta masyarakat, khususnya warga Tiro, tetap tenang dan bersama-sama menjaga situasi agar tetap aman dan damai.“Kami mohon untuk seluruh masyarakat, khususnya masyarakat di Tiro, kami juga mengimbau untuk tidak panas. Mari kita sama-sama menjaga situasi yang aman, tertib, damai,” ujarnya.Sebelumnya, TNI AD melalui keterangan Korem 011/Lilawangsa menyebut, personel melakukan tindakan pengamanan secara bertahap dengan menggunakan amunisi hampa dan peluru karet setelah terjadi pelemparan terhadap aparat.Namun, hingga kini penyebab pasti kematian Abzalul Riza, warga yang meninggal dalam insiden tersebut, belum dijelaskan secara rinci. Berdasarkan keterangan dari Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Tgk Abdullah Syafi'i (RSUD TAS), Mutiara Timur, Pidie, dr Kamaruzzaman, terdapat luka robek di bagian dada atas bagian kanan di dekat bahu jenazah.“Cuma kami tidak bisa pastikan itu luka akibat tembakan atau hal lain krn kita hanya melakukan visum luar saja, tidak diautopsi,” ujar Kamaruzzaman saat dihubungi, Kamis (5/11).Untuk tahap selanjutnya, TNI akan melakukan investigasi internal yang diharapkan dapat mengungkap penggunaan senjata dan rangkaian peristiwa yang menyebabkan jatuhnya korban.