GKJ Gondokusuman Yogya Adakan Gelar Budaya Sambut PDS 2027, Terbuka Lintas Agama

Wait 5 sec.

Panitia Gelar Budaya Pra Pekan Doa Sedunia 2027 menggelar rapat persiapan kegiatan Simfoni Doa: Harmoni dalam Budaya, Kamis (5/11), di GKJ Gondokusuman, Yogyakarta. Foto: Pnadangan Jogja/Danang BK.Rangkaian Pra Pekan Doa Sedunia (PDS) 2027 akan digelar di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman, Kota Yogyakarta, pada 13–15 November 2026. Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, kegiatan bertajuk Simfoni Doa: Harmoni dalam Budaya ini turut membuka ruang bagi masyarakat lintas agama melalui sarasehan, pertunjukan kesenian, dan kegiatan ekonomi warga.Koordinator Simponi Doa: Harmoni dalam Doa, Kegiatan Pra PDS 2027, Rendi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang agama melalui kebudayaan. Persoalan yang dibahas juga tidak terbatas pada kehidupan keagamaan, tetapi mencakup kondisi sosial dan kebudayaan Indonesia saat ini.“Jadi kegiatan gelaran budaya Pekan Doa Sedunia ini, Pra Pekan Doa Sedunia ini sebenarnya bagian dari bentuk solidaritas masyarakat secara umum sebenarnya. Jadi gereja sebagai gereja yang terbuka, inklusif untuk seluruh agama,” ujar Rendi.Rendi, Koordinator Gelar Budaya Simfoni Doa: Harmoni dalam Budaya dalam rangkaian Pra Pekan Doa Sedunia 2027. Foto: Pandangan Jogja/Danang BK.Untuk memperluas keterlibatan masyarakat, panitia mengundang sejumlah perguruan tinggi dan organisasi lintas agama, di antaranya UIN Sunan Kalijaga, Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Gadjah Mada (UGM), UPN, Fatayat, Gusdurian, dan Srikandi Lintas Iman. Organisasi gereja juga turut diundang dalam kegiatan tersebut.Rendi mengatakan, keterlibatan berbagai kelompok masyarakat diharapkan dapat membuka ruang diskusi mengenai persoalan yang dihadapi Indonesia melalui sudut pandang kebudayaan.“Jadi kita ingin mengumpulkan Indonesia di tempat ini sebagai wujud kita mau mendoakan Indonesia dengan cara kita sendiri berdiskusi dengan cara kita sendiri yaitu berdiskusi dengan kebudayaan kita sebagai masyarakat Indonesia,” katanya.Suasana persiapan kegiatan Pra Pekan Doa Sedunia 2027 di dalam GKJ Gondokusuman, Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja/Danang BK.Sementara itu, Ketua Pelaksana PDS 2027, Joko Pamungkas, mengatakan penyelenggaraan tahun ini dibuat berbeda dengan memperluas keterlibatan masyarakat di luar umat Kristen dan Katolik.“Jadi kita memang ingin merangkul semuanya bahwa sekarang saat ini untuk kebersamaan itu menjadi barang yang langka, yang barang yang mudah dikoyak-koyak. Oleh karena itu kita dari bawah untuk merajut kembali semua umat begitu,” katanya.Sarasehan akan menghadirkan tiga pembicara, yakni Dr. Leonard Chrysostomos Epafras, akademisi dan peneliti kajian lintas agama dari Universitas Gadjah Mada (UGM); RA Yashinta Sekarwangi, anggota DPD RI daerah pemilihan DIY; serta RM Rosarius S. Nugroho, Pr., pastor Katolik. Ketiganya akan membahas hubungan budaya antargenerasi dengan kepemimpinan nasional, peran anak muda dalam politik, serta refleksi terhadap budaya reformasi saat ini.Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman, Yogyakarta, menjadi lokasi penyelenggaraan Pra Pekan Doa Sedunia 2027. Foto: Pandangan Jogja/Danang BK.Selain diskusi, kegiatan ini menghadirkan pertunjukan kesenian dari kelompok gereja Kristen dan Katolik yang memadukan unsur budaya daerah. Salah satu penampilan yang direncanakan adalah kesenian hadroh oleh kelompok Katolik dari Babatan.“Hadroh kan budaya teman-teman kita muslim begitu tapi mereka membuat itu menjadi suatu budaya yang akhirnya bisa dinikmati bersama, dinyanyikan bersama begitu untuk semuanya,” ujar Rendi.Gelar budaya akan berlangsung pada Sabtu (14/11) di area luar GKJ Gondokusuman. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan HUT ke-113 GKJ Gondokusuman.Rangkaian pertunjukan juga direncanakan melibatkan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) melalui penampilan tari budaya. Panitia turut menyiapkan video mapping berdurasi sekitar 10–20 menit yang menampilkan sejarah Pekan Doa Sedunia.Selain pertunjukan, pasar ekonomi jemaat akan digelar pada Sabtu dan Minggu dengan melibatkan usaha kecil milik warga sekitar dan jemaat gereja.Rendi menegaskan bahwa penyelenggaraan gelar budaya ini bukan sekadar menghadirkan pertunjukan, melainkan juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk melakukan refleksi bersama.“Makanya di dalam acara ini tuh bukan hingar-bingar yang kita kita kejar, tetapi bagaimana kita mau punya rasa sadar betul bahwa acara ini perlu kita lakukan untuk kita bisa merefleksi diri juga sebagai bagian dari Pekan Doa Sedunia itu sendiri,” pungkasnya.