Tumpukan tebu diatas lori sebelum dilakukan penimbangan di Pabrik Gula (PG) Mojo. Foto: Mohammad Ayudha/ANTARA FOTOWakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan ekspansi kebun tebu untuk program campuran etanol untuk bensin atau bioetanol akan memanfaatkan lahan rusak (degraded land).Hanif menjelaskan saat ini produksi molase dari tebu belum bisa dipasok untuk bahan bakar, karena seluruhnya masih dimanfaatkan untuk keperluan pertanian dan perkebunan."Sebagian besar masih digunakan untuk pertanian untuk makan ternak, kayak recycling gitu ya, dia muter ke situ. Kalau itu terganggu akan mengganggu produk-produk pertanian dan peternakan. Sehingga untuk khusus untuk etanol, mungkin kita perlu tingkatkan lagi dengan skenario yang berbeda," jelas Hanif saat ditemui di kantor Kemenko Pangan, Jumat (6/11).Hanif mengatakan kepastian luas ekspansi kebun tebu masih didalami oleh Kemenko Pangan bersama Kementerian ESDM, Kementerian ATR/BPN, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kehutanan, karena menyangkut tata ruang.Meski begitu, Hanif menuturkan pemerintah mencatat saat ini terdapat 9,7 juta hektare lahan rusak yang bisa dimanfaatkan untuk penanaman tebu. Pasalnya, Presiden Prabowo meminta agar pembukaan lahan perkebunan dan pertanian tidak menggunakan kawasan hutan."Jadi perintah beliau tegas tidak ada hutan alam lagi yang dikonversi, sehingga kita kemudian mengalihkan semua rencana merelokasi area pada degraded land yang memang telah telah terjadi di negara kita. Jadi jumlahnya hampir 9,7 juta hektare yang hari ini terus kita analisis," ungkap Hanif.Hanif menegaskan lahan bekas kebakaran lahan dan hutan (karhutla) di Kalimantan tidak bisa digunakan untuk penanaman tebu, karena berbeda karakteristik. Menurutnya, lahan rusak yang bisa dimanfaatkan yakni di Pulau Jawa."Tebu ini karakternya lahannya tertentu ya, tidak semua seperti Kalimantan tidak bisa. Jadi lebih kepada Pulau Jawa yang karakter iklimnya pada saat ditanam ada hujan, pada saat mau panen itu harus kemarau. Nah ini karakter itu hanya di dimiliki oleh beberapa lokasi misal Lampung, kemudian Jawa dan Nusa Tenggara," tutur Hanif.Hanif memastikan kawasan hutan yang terdampak karhutla juga tidak akan dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan atau pertanian, termasuk tebu, lantaran akan direhabilitasi. Sama halnya dengan lahan rusak yang termasuk hutan negara (state forest).Berdasarkan catatan Hanif, dari total 9,7 juta hektare lahan rusak, jika dikurangi dengan hutan negara yang perlu direhabilitasi, sisanya sekitar 6 juta hektare. Sisa lahan rusak tersebut akan dimanfaatkan untuk tebu maupun program Food Estate.Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, saat ditemui usai rapat Jumat (6/11/2026). Foto: Fariza/kumparan"Sekitar enam koma sekian setelah dikurangi state forest ya, hutan negara, kawasan hutan negara. Jadi sekitar itu, dan sekarang kita sedang dalami dengan sangat serius," tegas Hanif.Kementerian Pertanian telah menghitung perluasan lahan kebun tebu untuk program bioetanol sebesar 2 juta hektare. Angka tersebut untuk memenuhi pasokan etanol untuk program mandatori bioetanol 20 persen alias E20. Namun, Hanif menyebutkan angka tersebut masih perlu dikoordinasi ulang.Hal ini mengingat terdapat rencana percepatan mandatori bioetanol yang dicanangkan Prabowo. Kepala Negara itu menargetkan Indonesia bisa mencapai persentase bioetanol 50 persen atau E50, menyusul keberhasilan program biodiesel."Kita hitung ulang ya, kita tapi dari desain dari Kementerian Pertanian angkanya seperti itu. Namun sekali lagi kita mau verifikasi ya, karena indikatif petanya kita, petanya masih belum satu peta. Jadi untuk itu kita masih overlay dengan banyak peta untuk mendukung kebijakan dari E50," ujar Hanif.Produktivitas TebuDi sisi lain, Hanif mencatat saat ini Indonesia memiliki 560.000 hektare tanaman tebu dengan produksi rata-rata hampir mencapai 3 juta ton per tahun. Produksi tersebut masih bisa memenuhi konsumsi dalam negeri, kecuali untuk industri yang masih impor.Hanif berharap akan ada peningkatan produktivitas tebu, yang saat ini masih di angka 65 sampai 70 ton per hektare per tahun. Peningkatan juga dilakukan terhadap rendemen atau persentase kandungan gula dalam tebu."Rendemen kita masih di angka 6,4 sampai 7 persen, negara lain sudah mencapai 12. Bapak Presiden dalam arahan pada beberapa bulan yang lalu meminta agar kita mencapai angka 10 persen," tutur Hanif.