Fadli Zon di acara Anugerah kebudayaan Indonesia 2026 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Jumat (6/11/2026). Foto: Achtar Firdausy/kumparanKementerian Kebudayaan (Kemenbud) menggelar Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2026 di Plaza Insan Berprestasi, kompleks Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Jakarta, Jumat (6/11). Gelaran ini merupakan upaya pemerintah memajukan kebudayaan Indonesia.Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menekankan AKI 2026 bukan seremonial semata. Menurutnya, amanah konstitusi dalam Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 menjadi pondasi penggerak pemajuan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.“Artinya, kita semua mempunyai satu kewajiban yang sama untuk memajukan. Dan memajukan kebudayaan nasional itu termasuk di dalamnya adalah melindungi, melestarikan, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina kebudayaan,” kata Fadli dalam sambutannya.Fadli menjelaskan, ada sepuluh objek pemajuan kebudayaan, mulai dari bahasa, manuskrip, adat-istiadat, teknologi tradisional, pangan lokal, permainan rakyat, termasuk seni. Pemajuan budaya, kata dia, bukan hanya tanggung jawab pemerintah tapi juga membutuhkan kolaborasi banyak pihak.Karena itu, melalui AKI 2026, pemerintah memberikan penghargaan atas perjuangan, dedikasi dan kontribusi dari tokoh, komunitas, lembaga pemajuan kebudayaan Indonesia melalui karya, pemikiran, dan pengabdiannya. Secara khusus, Fadli juga memberikan penghormatan kepada warga negara asing atas kontribusi dan dedikasi luar biasa mempromosikan budaya Indonesia. Di sisi lain, pemerintah daerah perlu menggenjot pemajuan budaya.Fadli menjelaskan, pemerintahan yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto memiliki perhatian besar kemajuan budaya lewat program revitalisasi museum, cagar budaya, taman budaya hingga Istana Keraton. Stimulus yang diberikan pemerintah pusat diharapkan Fadli dapat mendukung pemda dalam memajukan kebudayaan. Namun Fadli mengingatkan pemda agar memiliki kreativitas termasuk berkolaborasi dengan pihak swasta dan masyarakat agar program berjalan optimal.“Saya kira penghargaan ini kita harapkan menjadi satu tonggak gitu ya, apresiasi dari pemerintah, dalam hal ini adalah Kementerian Kebudayaan, atas kekayaan budaya, keragaman budaya kita yang saya sebut selalu di mana-mana mega cultural diversity, cultural megadiversity. Jadi keberagaman yang luar biasa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote yang terwakili saya kira dari hampir semua provinsi,” katanya.“Kita berharap ini ke depan kita menjadikan kebudayaan ini selain sebagai kekuatan pemersatu kita, sebagai binding power kita, kebudayaan juga harus menjadi source of identity, menjadi sumber identitas dan jati diri kita. Tapi yang juga di dalam pemanfaatan, bagaimana kebudayaan ini menjadi ekonomi budaya, menjadi engine of economic growth, menjadi penyumbang di dalam pertumbuhan kita,” sambung Fadli Zon.Apresiasi Keseriusan PemerintahSuasana acara Anugerah Budaya Indonesia yang diselengarakan oleh Kementrian Kebudayaan, Jumat (6/11/2026). Foto: Achtar Firdausy/kumparanPendiri Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali, Guy Philippe Augier, salah satu penerima penghargaan kategori Indonesiais, mengapresiasi keseriusan pemerintah Indonesia dalam memajukan kebudayaan. Baginya, sudah banyak yang dilakukan pemerintah untuk melestarikan budaya termasuk mempromosikannya ke mancanegara.“Saya pikir, pemerintah memang luar biasa, sudah berapa generasi, saya lihat sudah tiga atau empat menteri atau wakil menteri sebelumnya yang memang kerja keras, yang cari solusi, dan coba bantu untuk promosi budaya. Ada 540 museum di seluruh negara, dan saya pikir ini jauh lebih bagus dari berapa banyak negara di ASEAN,” tutur Philippe.Pria berkebangsaan Prancis ini mengapresiasi penghargaan yang diberikan pemerintah Indonesia. Selama 20 tahun mengembangkan Museum Pasifika, Philippe mendatangkan lebih dari 67.000 kunjungan anak sekolah, 10 kepala negara dan lebih dari 40 ambassador. Phillippe juga menerbitkan buku seni dan katalog untuk mempromosikan kesenian Indonesia, konservasi dan repatriasi karya seni dari Indonesia dan tentang Indonesia. Karena itu, program yang dilakukan pemerintah Indonesia, bagi Phillippe perlu didukung banyak pihak.“Pemerintah Indonesia sudah sadar tentang kesempatan untuk promosi budaya, karena promosi budaya juga akan membantu ekonomi, akan tarik pariwisata (wisatawan) dari luar negeri, dan akan jauh lebih terkenal. Dengan semua kualitas dan semua fasilitas yang ada di negara ini, saya pikir, pemerintah memang luar biasa,” tutur dia.Apresiasi juga disampaikan Kepala UPT Museum Provinsi Kalimantan Barat sebagai perwakilan penerima kategori museum. Diharapkan penghargaan dari Kementerian Kebudayaan ini mendorong peningkatan kualitas layanan, fasilitas, pemeliharaan koleksi agar budaya lokal setempat semakin dikenal banyak orang.“Tentunya dengan dari kami, tentunya kami harus memperbaiki segala bentuk layanan maupun fasilitas, maupun promosi museum kami agar ke depannya memang kunjungan maupun partisipasi dari masyarakat terhadap kemajuan kebudayaan itu dapat berkembang lebih pesat,” ujar dia.Dalam catatannya, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Museum Kalimantan Barat pada tahun 2025 mencapai ribuan pengunjung. Peningkatan trafik kunjungan juga terjadi pada wisatawan lokal dari luar Kalbar.“Jadi untuk total keseluruhan pengunjung Museum Kalimantan Barat itu dari mancanegara maupun dari turis Indonesia ataupun lokal, maupun sampai ke tingkat anak sekolah, itu berjumlah 13.000 di tahun 2025, data yang kami miliki, seperti itu,” sambungnya.Sekilas AKI 2026Direktur Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo, dalam laporannya menjelaskan AKI merupakan bentuk apresiasi pemerintah kepada individu, komunitas, lembaga, dan pihak-pihak yang telah memberikan kontribusi bagi pemajuan kebudayaan Indonesia.Penyelenggaraan AKI juga menjadi salah satu upaya untuk mengenali dan mendokumentasikan kerja-kerja kebudayaan yang berlangsung di berbagai wilayah dan bidang, sekaligus memberikan pengakuan serta dedikasi serta konsistensi para pelakunya.Berdasarkan daftar nominasi yang dihimpun, para nomine memiliki latar belakang, bidang kerja, dan juga rekam jejak yang beragam. Nomine berasal dari berbagai daerah dan lingkungan kerja kebudayaan dengan berkontribusi terkait pelestarian, pengembangan, pendokumentasian, pendidikan, dan juga penyebarluasan informasi, pengelolaan ruang kebudayaan, hingga promosi dan diplomasi kebudayaan Indonesia di luar negeri.Dalam penyelenggaraan, proses AKI meliputi pengumpulan dan pemeriksaan berkas usulan, penelaahan profil serta rekam jejak nomine, dan proses verifikasi bersama tim penilai.Pemeriksaan dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kontribusi masing-masing nomine, kesinambungan kiprah, dan juga karya atau program yang telah dihasilkan, serta dampaknya bagi masyarakat dan pemajuan kebudayaan di Indonesia.“Dalam proses penilaian, tim penilai turut mencermati bukti dan dokumen yang disampaikan para pengusul. Penilaian tidak semata-mata didasarkan pada lamanya suatu lembaga berdiri atau popularitas seorang tokoh, tetapi juga memperhatikan substansi, kontribusi, konsistensi kerja, capaian, dan relevansinya terhadap pemajuan kebudayaan,” ujarnya.Berikut para peraih anugerah:Kategori Anjungan Daerah TMII1. Anjungan Daerah Jawa Tengah2. Anjungan Daerah Kalimantan Selatan3. Anjungan Daerah LampungKategori Media1. Antara2. Majalah Magle3. RRIKategori Museum1. Bayt Al Quran dan Museum Istiqlal2. Museum Bank Indonesia3. Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara4. Museum Perkebunan Indonesia5. Museum Polri6. Museum RA Kartini Jepara7. Museum Jawa Tengah Ranggawarsita8. Museum Sandi9. Museum Taruna Abdul Djalil10. UPT Museum Provinsi Kalimantan BaratKategori Pemerintah Daerah1. Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah2. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat3. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur4. Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara5. Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor6. Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo7. Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal8. Pemerintah Daerah Kota Balikpapan9. Pemerintah Daerah Kota Makassar10. Pemerintah Daerah Kota PariamanKategori Taman Budaya1. Taman Budaya Provinsi Jawa Barat2. UPT Taman Budaya Gunung Kidul3. UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan SelatanKategori Indonesianis & Diaspora Indonesia1. Ahmed Safwat Abdel Fattah, Seni Pencak Silat, Mesir2. Alexey Yurievich Drugov, Pengajar Bahasa Indonesia, Rusia3. Diego Leonardo Zapatero Aroz, Wayang Topeng Malangan, Spanyol4. Warner Wieiglein, Museum Papua di Gelnhausen, Jerman , Jerman5. Guy Philippe Augier, Buku Seni dan Katalog untuk mempromosikan Kesenian Indonesia, Konservasi dan repatriasi karya seni dari Indonesia dan tentang Indonesia, Pendiri Museum Pasifika, Prancis6. Habib Zarbaliyev, Jurusan Studi Indonesia di Azerbaijan University of Languages (AUL), Azerbaijan7. Hedwig Ingrid Riqmodis Hinzler, Sastra Jawa-Bali dan Seni pertunjukan wayang, Belanda8. Ilaria Meloni, Promosi kebudayaan Indonesia di Vatikan dan Italia, Italia9. Inge-Marie L. Holst, Sejarah Seni rupa modern Indonesia, Denmark10. Maerin Sangil, Pencak Silat, Denmark11. Martin Van Bruinessen, Kebudayaan Indonesia, Belanda12. Miroslaw Wawrowski, TMII di Polandia, Polandia13. Mogamat Ammaar De La Rey, Pencak Silat, Afrika Selatan14. Olivier Blancquaert, Pencak Silat, Belanda15. Paul Slamet Somohardjo, Kebudayaan Jawa, Suriname16. Peter Moran, Gamelan Jawa, Irlandia17. Antonia Soriente, Bahasa dan Sastra Indonesia, Italia18. Emeritus Mitsuo Nakamura, Islam Kultural Indonesia, Jepang19. Margaret Kartomi, Musik Tradisional Indonesia, Australia20. Ugo Monticone, Film Bali, Kanada21. Viktor Aleksandrovich Pogadaev, Bahasa Sastra dan kebudayaan Indonesia, RusiaDiaspora1. Anisah Rahmawati, Pendiri Restoran Nom Nom Beijing, China2. Azhar Rizal, Pendiri Batavia Indonesian Halal Restaurant & Cafe, Vietnam3. Desak Putu Warti, Seni Tari dan Gamelan Bali, Australia4. Dyah Sri Ayoe Rachmayani Narang Huth, Sastra, Seni Lukis, Ilmu Pengetahuan Seni dan Budaya, Indonesia-Jerman5. Prabowo Himawan, Kepala Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia & Direktur Pusat Kajian Bahasa dan Sastra Indonesia di Taras Shechenko National University of Kyiv, Ukraina6. Surya Suryadi, Akademisi, filolog, dan peneliti kebudayaan Indonesia di Leiden University, Belanda7. Kasim, Mengembangkan dan memperkenalkan kulinerIndonesia berbasis vegan melalui Restoran Padmanadi, Kanada8. Meily Aristia, Pendiri Restoran Warung Nusantara, Turki9. Nina Hanafi, Pengelola Restoran Djakarta Bali, Prancis10. Sumarsam, Maestro Gamelan, Amerika Serikat11. Sandra Suryani Sardjono, Fonder dan President Tracing Pattern Foundation/pelestari, dokumentasi ilmiah dan reoatriasi mandiwi warisan budaya Indonesia, Amerika Serikat12. Wanita Tekun Pertiwi (Anita) Sobron, Pengelola Restaurant Indonesia, Prancis13. Zulfan Ibrahim, Pemilik dan Pengelola Restoran Bali-Bali, Inggris