Jangan buang kepala udang: Limbah ini bisa jadi pangan cuan dan menguntungkan perempuan

Wait 5 sec.

● Kepala udang sering kali dibuang dan berakhir menjadi limbah tambak yang mengancam biota sungai.● Para perempuan di Samarinda Seberang mengolah limbah kepala udang menjadi biskuit beras hingga bubur kering.● Dukungan ekternal diperlukan untuk menghubungkan penguatan gizi, hingga penguatan ekonomi keluarga nelayan.Masyarakat sekitar Sungai Mahakam, khususnya di Samarinda, Kalimantan Timur, banyak menggantungkan hidup pada hasil perikanan dan tambak udang.Di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang, satu keluarga nelayan bisa memanen total sekitar 70 kilogram udang vaname dan 50 kilogram udang windu setiap bulannya.Hampir separuh berat udang berasal dari bagian kepalanya, sehingga sekitar 60 kilogram kepala udang yang diperoleh dari panen tiga bulan, berpotensi menjadi limbah jika tidak diolah kembali.Sering kali, limbah kepala udang dibuang ke sungai, berisiko menimbulkan bau tidak sedap dan memicu kematian ikan massal. Daripada dibuang, limbah kepala udang yang mengandung banyak nutrisi sebenarnya bisa dimanfaatkan.Penelitian kami tahun 2025 mengajak para istri nelayan di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang untuk mengolah limbah kepala udang menjadi makanan berpotensi gizi, sekaligus penggerak roda perekonomian warga lokal.Kepala udang kaya giziMenurut penelitian tahun 2020 di Thailand, kepala udang kaya asam lemak omega-3 dan antioksidan astaksantin. Keduanya bermanfaat menjaga kesehatan jantung, mengatur tekanan darah, serta mengurangi risiko peradangan.Kepala udang juga mengandung banyak mineral penting bagi tubuh, seperti kalsium, magnesium, fosfor, zat besi, dan zink. Dalam 100 gram (satu mangkuk kecil) kepala udang, terdapat sekitar 2,2-6,9 gram lemak yang mengandung omega-3 (EPA dan DHA) sebanyak 0,25-1,08 gram.Selain itu, terdapat mineral seperti kalsium (1.235-2.305 mg), kalium (151-206 mg), natrium (151-328 mg), magnesium (59-118 mg), dan zat besi (1,3-3,4 mg)—tergantung jenis udangnya. Baca juga: Model baru restorasi agar tambak udang bisa berdampingan dengan pemulihan mangrove Produk pangan yang potensialBersama kelompok istri nelayan setempat, kami mengolah limbah kepala udang menjadi bahan makanan berbentuk bubuk. Prosesnya diawali dengan mencuci kepala udang. Lalu, mengeringkannya dengan oven ataupun disangrai sebelum akhirnya dihaluskan pakai grinder (alat penggilingan). Sekitar 35 kilogram kepala udang dapat diolah menjadi 7—9 kilogram bubuk. Bubuk ini kemudian diracik untuk membuat kaldu, biskuit beras, abon, serta bubur kering. Untuk memastikan kualitasnya, kami mengukur kandungan gizi produk olahan kepala udang menggunakan NutriSurvey (aplikasi analisis gizi). Dalam 100 gram biskuit beras , misalnya, terkandung sekitar 284,3 kkal energi, 23,2 gram protein, 7,1 gram lemak, dan 29,3 gram karbohidrat. Adapun kandungan mineralnya diperkirakan mencakup kalsium 41,2 mg, fosfor 220,6 mg, zat besi 1,2 mg, dan zink 1,4 mg. Baca juga: Pelarangan atau pengelolaan, mana lebih efektif bagi benur lobster. Ini kata peneliti Meski kandungan tersebut baik untuk kesehatan, penelitian uji klinis menunjukkan efek langsungnya masih sangat terbatas. Nutrisi pada bahan baku juga tidak otomatis sama dengan produk akhirnya. Pemanasan dan proses pengolahan dapat memengaruhi karakteristik dan kandungan gizi pangan sehingga analisis produk akhir tetap diperlukan.Kami juga belum melakukan uji penerimaan produk bubur kering kepala udang langsung pada anak. Uji lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah produk ini benar-benar menyehatkan, serta sesuai dengan selera dan kebutuhan mereka.Sejauh ini, produk limbah udang berpotensi meningkatkan pemanfaatan pangan bergizi dan keragaman pangan keluarga.Menggerakkan perekonomian wargaPemanfaatan kepala udang juga membuka peluang ekonomi bagi keluarga nelayan, terutama ketika pendapatan dari hasil tangkapan menurun mengikuti musim. Dalam program pemberdayaan ini, kelompok istri nelayan mendapatkan pelatihan pengolahan, keamanan dan kehalalan pangan, serta peralatan yang mendukung produksi. Agar berkelanjutan, upaya ini membutuhkan ekosistem yang melibatkan berbagai pihak. Pemerintah daerah dapat menguatkan kelompok usaha, ruang produksi, jejaring usaha, serta promosi dan pemasaran. Selain itu, kader posyandu yang mengikuti pelatihan juga dapat memperkenalkan pemanfaatan pangan lokal sebagai alternatif menu pendamping makan anak.Dengan kolaborasi tersebut, kepala udang tidak lagi sekadar limbah, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk menghubungkan pengurangan limbah, pemenuhan gizi, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi keluarga nelayan. Putri Anggreini terafiliasi dengan Universitas Mulawarman. Ia menerima dana dari DPPM BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2026 melalui kontrak Nomor 657/DST/UN17.L1/PM.01.01/2026.