Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi di Malaysia. Foto: Kumenko Volodymyr/ShutterstockOrganisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan utang obligasi oleh pemerintah dan korporasi global bisa mencapai USD 29 triliun pada tahun 2026, meningkat dari realisasi tahun 2025 sebesar USD 27 triliun.Dalam riset yang bertajuk 'Global Debt Report 2026', dikutip Sabtu (16/5), OECD menyebutkan bahwa pasar utang global sedang menghadapi tantangan sulit meliputi ketegangan geopolitik, sengketa perdagangan, dan lingkungan makroekonomi yang tidak pasti.OECD juga menilai, biaya pinjaman jangka panjang telah meningkat dan pergeseran penerbitan obligasi ke arah jatuh tempo yang lebih pendek meningkatkan risiko refinancing. Peran investor yang lebih sensitif terhadap harga juga dapat membuat pasar utang lebih rentan terhadap guncangan.Oleh karena itu, lanjutnya, ketahanan pasar utang di masa depan tidak terjamin. Hal ini sangat penting karena peningkatan skala usaha kecerdasan buatan (AI) dan peningkatan pengeluaran pertahanan diperkirakan akan semakin meningkatkan pinjaman dari pasar.“Tantangan-tantangan ini harus dikelola dengan cermat untuk memastikan bahwa pasar obligasi pemerintah dan korporasi, dengan ukuran gabungan sebesar USD 109 triliun, terus menyediakan pembiayaan yang stabil bagi pemerintah dan perusahaan,” jelasnya.OECD mencatat proyeksi utang yang akan dipinjam pemerintah dan perusahaan dari pasar obligasi pada tahun 2026 mencapai rekor senilai USD 29 triliun, 17 persen lebih banyak daripada tahun 2024.“Pemerintah dan perusahaan akan meminjam USD 29 triliun dari pasar obligasi pada tahun 2026. Ini adalah USD 4 triliun, atau 17 persen lebih tinggi daripada tahun 2024, dan dua kali lipat jumlah sepuluh tahun yang lalu,” tulis laporan OECD tersebut.Adapun 78 persen dari pinjaman oleh pemerintah OECD pada tahun 2026 yang akan digunakan untuk membiayai kembali utang yang ada.“Pinjaman pemerintah pusat di negara-negara OECD mencapai USD 17 triliun pada tahun 2025. Pinjaman korporasi dari pasar juga meningkat, mencapai USD 6,8 triliun,” imbuh OECD.Ilustrasi Gedung di Arab Saudi. Foto: Previtte/ShutterstockKendati demikian, OECD menilai kenaikan suku bunga pasca-2022 terus berdampak pada pasar utang global. Meskipun suku bunga jangka pendek stabil di negara-negara OECD pada tahun 2025, imbal hasil obligasi 30 tahun meningkat secara signifikan di sebagian besar negara.Pemerintah dan korporasi pun menanggapi peningkatan biaya bunga jangka panjang tersebut dengan mengalihkan penerbitan mereka ke jangka waktu yang lebih pendek.“Meskipun menurunkan biaya bunga dalam jangka pendek, pergeseran ini juga meningkatkan risiko refinansiasi jangka pendek,” katanya.Di sisi lain, perubahan basis investor dapat membuat pasar lebih rentan terhadap guncangan. Bank sentral, pemegang utang pemerintah domestik terbesar di banyak negara OECD, mengurangi kepemilikan obligasi mereka. Hal ini membuktikan pasar semakin bergantung pada investor yang sensitif terhadap harga, seperti hedge fund, rumah tangga, dan investor asing tertentu.“Pergeseran ini dapat meningkatkan volatilitas pasar. Hal ini juga berdampak pada pasar obligasi korporasi, sehingga penerbitan obligasi korporasi baru yang terus meningkat harus diserap oleh basis investor yang lebih kecil,” tutur OECD.Utang Obligasi untuk AIIlustrasi artificial intelligence. Foto: ShutterstockSementara itu, penerbitan obligasi korporasi diprediksi mencapai USD 1,2 triliun oleh 9 pemain utama AI untuk mendanai kebutuhan belanja modal pada tahun 2026-2030.“Pinjaman untuk AI diperkirakan akan berdampak signifikan pada pasar utang korporasi. Sektor teknologi secara tradisional kurang bergantung pada pembiayaan eksternal dibandingkan sebagian besar sektor lainnya,” masih tulis laporan OECD.Pada tahun 2025, 9 pemain utama mengumpulkan USD 122 miliar dari pasar obligasi, hampir setengah dari total penerbitan obligasi perusahaan teknologi secara global.Secara kumulatif, mereka memperkirakan pengeluaran modal sebesar USD 4,1 triliun untuk tahun 2026-2030. Jumlah ini sebesar USD 1,1 triliun lebih banyak daripada total pengeluaran modal oleh semua perusahaan non-keuangan AS pada tahun 2025.“Terlepas dari meningkatnya tingkat utang dan serangkaian guncangan dalam beberapa tahun terakhir, pasar utang tetap tangguh. Namun, tekanan pada pasar utang semakin meningkat dan akan terus menguji ketahanannya,” tutupnya.