Ilustrasi ruang publik. Foto: Getty ImagesBila ingin menyelami dinamika kehidupan orang Indonesia saat ini, temuan studi bertajuk Navigating the In-Between di awal tahun 2026 sepintas mungkin bisa menjawab. Data studi ini menunjukkan bahwa orang Indonesia sekarang memilih sikap untuk lebih berpijak pada kenyataan hidup dengan perasaan waswas, tanpa ngoyo mengejar ambisi.Di dalam negeri, biaya hidup terasa naik, banyak kabar pemutusan hubungan kerja, pekerjaan tidak selalu aman, dan banyak keluarga hidup dalam posisi yang serba tanggung—cukup untuk hari ini, tapi belum tentu untuk besok, juga seakan menjadi induk bala kegalauan berjamaah.Naluri manusiawi pun secara dominan muncul untuk berusaha menjadi lebih kuat, lebih hemat, dan lebih mandiri. Akibatnya, seperti temuan studi Mandiri Institute dan YouGov yang menunjukkan makin seringnya berseliweran narasi sosial seperti "Kurangi nongkrong dulu yuk, fokus kerja dulu," seakan membawa kesan bahwa "Tak perlu ngumpul-ngumpul dulu," karena nanti lebih boros dan meningkatkan pengeluaran yang tidak perlu.Namun, kita kemudian lupa bahwa manusia dalam kodrat psikososialnya sesungguhnya tidak dirancang untuk menjalani hidup sendirian. Sejatinya, manusia tetap harus berkumpul dan saling mendekat.Ilustrasi berkumpul bersama teman-teman. Foto: ShutterstockDalam keilmuan psikososial, dikenal sebuah konsep sederhana yaitu social closeness atau kedekatan sosial. Konsep ini mulanya dicetuskan oleh seorang profesor neurosains, Julianne Lunstad, lewat berbagai kajian antropologi kesehatan komunitas yang ditelitinya dari sejumlah negara dunia ketiga.Dalam ranah ke-Indonesia an, kedekatan sosial ini telah menjadi ‘DNA sosiologis’ masyarakat kita. Psikolog legendaris dari Universitas Indonesia, Saparinah Sadli, sejak 1980 an telah tegas menyimpulkan bahwa sendi psikososial negeri ini dibangun atas relasi komunal, bukan individual—tentunya merujuk pada konteks kedekatan sosial.Kita bisa dengan mudah becermin pada norma lokalis, seperti gotong royong, kerja bakti, arisan, pengajian, ronda malam; di mana semua itu, menurut Saparinah Sadli, bukanlah aktivitas sosial semata, melainkan mekanisme akar rumput yang saling menjaga, sesuai konteks kedekatan sosial yang dikaji Lunstad.Suka tidak suka, hidup di Indonesia tidak pernah benar-benar sendiri. Akan selalu ada tetangga kepo yang tahu gerak-gerik kita, ada emak-emak rempong yang saling mengingatkan jadwal arisan atau posyandu, dan bahkan selalu ada bapak-bapak yang ngumpul di warung kopi sekadar untuk berbagi cerita.Ilustrasi nongkrong sambil minum kopi. Foto: ShutterstockPertanyaannya: Mengapa kedekatan ini perlahan terasa melemah? Secara akademis, ada beberapa lapisan penjelasan yang bisa kita tarik.Aspek perubahan struktur sosial akibat modernisasi menjadi salah satu faktor pemicunya. Dalam teori klasik psikososial, pergeseran dari masyarakat komunal ke masyarakat urban-industrial sering kali diikuti dengan melemahnya ikatan sosial primer.Namun, hipotesis relevan lainnya menyodorkan gagasan bahwa dinamika sosial-politik beberapa tahun terakhir turut mempercepat erosi kedekatan sosial ini. Fenomena ini sering dikaitkan dengan konsep social polarization, di mana perbedaan pandangan politik tidak lagi berhenti pada perbedaan opini, tetapi berkembang menjadi jarak emosional antarindividu.Ilustrasi peduli kesehatan mental. Foto: SewCream/ShutterstockSituasi ini sangatlah konsisten dengan temuan studi dari Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa (Kaukus Keswa) usai Pemilihan Presiden tahun 2024, yang menemukan bahwa konflik sosial dan pertentangan psikologis antartetangga menjadi begitu tajamnya akibat perbedaan pilihan politik. Bahkan, situasi tersebut turut meningkatkan risiko kecemasan dan rasa syak wasangka hingga 2 kali lipat.Jika semakin didalami, kondisi ini menciptakan lingkungan sosial yang tidak lagi mendorong kedekatan, tetapi justru memperkuat jarak. Studi dari Ibrahim Nor (2025) menjelaskan bahwa perbedaan pilihan politik, preferensi sosial, hingga narasi yang dibentuk oleh media dan algoritma digital mempertegas batas sosial yang sebelumnya lebih cair.Indonesia—yang meskipun secara historis memiliki kohesi sosial yang kuat—tidak sepenuhnya kebal terhadap fenomena ini. Sekarang kita bisa melihat bagaimana ruang publik sering diwarnai oleh polarisasi, percakapan yang dulu hangat bisa berubah menjadi tegang hanya karena perbedaan pilihan parpol, bahkan dalam lingkaran keluarga atau pertemanan, topik tertentu menjadi ‘sensitif’ dan dihindari, persis seperti studi Kaukus Keswa di tahun 2024 lalu.Ilustrasi partai politik. Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTODalam perspektif ketahanan mental komunitas, kondisi ini berdampak langsung pada kedekatan sosial yang orisinil. Karena sejatinya kedekatan membutuhkan rasa aman, sehingga ketika rasa aman terganggu—karena takut dihakimi, disalahpahami, atau dikonfrontasi—orang cenderung menarik diri, hingga kemudian menghilangkan daya interaksi sosial, yang lama-kelamaan juga melenyapkan kepercayaan.Padahal, kondisi dunia hari ini justru menuntut manusia untuk semakin dekat, dan bukan berjarak. Dalam berbagai kajian kesehatan masyarakat dan sosiologi, setiap krisis selalu memperlihatkan satu pola yang konsisten: komunitas dengan jaringan sosial yang kuat cenderung lebih mampu bertahan, beradaptasi, dan bahkan pulih lebih cepat.Kedekatan sosial—identik dengan paham Lunstad dan Saparinah Sadli—bekerja sebagai buffer terhadap stres. Kedekatan sosial tentu tidak serta-merta menghilangkan masalah, tetapi membuat beban menjadi lebih ringan untuk ditanggung.Indonesia sudah pernah membuktikan hal ini. Dalam berbagai fase sulit—dari krisis ekonomi 1998, berbagai bencana alam dahsyat, hingga masa pandemi—yang paling cepat bergerak bukan selalu sistem formal, melainkan masyarakat itu sendiri.Ilustrasi komunitas. Foto: ThinkstockTetangga yang saling berbagi makanan, komunitas yang menggalang bantuan, keluarga yang saling menopang tanpa banyak perhitungan, semuanya merupakan bentuk nyata dari social closeness yang bekerja sebagai strategi bertahan hidup bersama. Artinya, kedekatan sosial bukan hanya nilai moral atau budaya, melainkan juga strategi kebangsaan yang terbukti efektif.Maka, terdapat pertanyaan penting saat ini: Bagaimana agar kita menjadi semakin dekat? Mungkin, kita perlu mulai dari hal paling sederhana, yaitu membangun kembali kebiasaan hadir, menyapa, mendengar, dan memberi perhatian tanpa distraksi.Meskipun intervensi sistemik wajib dilakukan pengambil kebijakan—agar potensi anti kohesif memudar dan kedekatan sosial terautostimulasikan—kita tidak bisa hanya menunggu figur atau kebijakan hadir untuk memperbaiki sesuatu yang sejatinya telah hidup di tingkat paling dasar bangsa ini, yaitu relasi antarmanusia. Kedekatan sosial tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari oleh setiap individu.Karena jika kita menunggu semuanya ideal, situasi politik yang tenang, ekonomi yang stabil, atau perbedaan yang benar-benar hilang, kita akan terus menunda untuk menjadi dekat. Padahal, justru kondisi yang tidak ideal inilah membuat kedekatan jadi paling bermakna. Karena menjadi manusia Indonesia seutuhnya bukan tentang seberapa jauh kita melangkah sendiri, melainkan tentang seberapa kuat kita saling menggenggam dan semakin dekat dengan sesama.