Ilustrasi orang desa tidak pakai dolar tetapi dipengaruhi oleh dolar. Foto: Gemini AI.Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa “orang desa tak memakai dolar” sekilas terdengar masuk akal. Secara harfiah, masyarakat desa memang tidak bertransaksi menggunakan dolar. Mereka memakai rupiah, berjual beli di pasar lokal, dan menjalankan kehidupan ekonomi yang tampak sederhana. Namun jika kita membacanya melalui kacamata Karl Marx, persoalan ini jauh lebih dalam. Bagi Marx, kenyataan sosial tidak dapat dipahami hanya dari apa yang tampak di permukaan. Yang menentukan kehidupan manusia justru sering tersembunyi dalam struktur ekonomi yang tidak kasat mata.Bagi Marx, ekonomi bukan sekadar soal uang yang dipegang seseorang. Ekonomi adalah jaringan relasi produksi yang menentukan bagaimana manusia hidup, bekerja, dan bertahan. Seorang petani di desa mungkin tidak pernah memegang dolar seumur hidupnya. Tetapi ketika ia membeli pupuk dengan harga yang melonjak karena bahan bakunya dipengaruhi pasar internasional, sesungguhnya hidupnya sedang ditentukan oleh sistem ekonomi global yang berpusat pada mata uang seperti dolar.Di sinilah Marx berbicara tentang basis ekonomi (economic base). Basis ekonomi adalah struktur produksi yang menopang seluruh kehidupan sosial: harga, tenaga kerja, distribusi, bahkan cara manusia berpikir. Apa yang tampak sebagai keputusan individu sesungguhnya dibentuk oleh sistem yang lebih besar.Petani merasa membeli pupuk karena kebutuhan bercocok tanam. Namun harga pupuk itu ditentukan oleh relasi perdagangan internasional, biaya energi global, dan nilai tukar. Artinya, petani itu tidak bebas sepenuhnya. Ia terikat oleh struktur kapital yang tidak ia kendalikan. Menurut Marx, inilah bentuk dominasi modern: manusia hidup di bawah sistem yang menentukan nasibnya, tetapi sistem itu tampak begitu alamiah sehingga tidak disadari.Marx menyebut fenomena ini sebagai fetisisme komoditas. Fetisisme komoditas terjadi ketika hubungan sosial antar-manusia disembunyikan di balik benda-benda ekonomi. Contohnya begini: ketika harga pupuk naik, petani melihatnya sekadar sebagai “harga naik.” Ia tidak langsung melihat bahwa kenaikan itu adalah hasil keputusan pasar global, relasi produksi internasional, spekulasi kapital, atau kebijakan ekonomi negara-negara besar.Ilustrasi memahami konsep fetisisme komoditas. Foto: Gemini AI. Komoditas tampak berdiri sendiri, seolah memiliki “kehendak” untuk naik atau turun. Padahal di baliknya ada relasi kuasa yang sangat kompleks. Ketika orang berkata “desa tidak memakai dolar,” pernyataan itu justru memperkuat fetisisme ini. Ia membuat hubungan antara desa dan kapital global tampak terputus, padahal sesungguhnya sangat erat.Marx juga berbicara tentang kesadaran palsu (false consciousness). Kesadaran palsu adalah ketika kelas yang dirugikan oleh sistem justru gagal menyadari bagaimana sistem itu bekerja. Jika rakyat desa diyakinkan bahwa gejolak dolar bukan urusan mereka, maka mereka bisa menerima kenaikan harga sebagai sesuatu yang biasa, tanpa melihat akar strukturalnya. Mereka mungkin mengeluh soal pupuk mahal, harga sembako naik, atau biaya hidup meningkat. Tetapi jika mereka percaya bahwa semua itu tidak ada hubungannya dengan sistem ekonomi global, maka mereka kehilangan kemampuan untuk mengkritik struktur yang sebenarnya menindas mereka.Ilustrasi kelas yang dirugikan oleh sistem justru gagal menyadari bagaimana sistem itu bekerja. Foto: Gemini AI.Dalam pandangan Marx, ini sangat berbahaya. Sebab kekuasaan kapital paling efektif justru ketika ia tidak terlihat sebagai kekuasaan. Kapitalisme modern tidak perlu memaksa petani dengan kekerasan fisik. Ia cukup mengatur harga, distribusi, akses pasar, dan nilai tukar. Petani akan tunduk karena kebutuhan hidup memaksanya mengikuti aturan sistem.Di titik inilah dolar menjadi simbol penting. Bukan karena dolar itu sendiri adalah musuh, melainkan karena ia melambangkan dominasi kapital global atas kehidupan lokal. Ketika nilai dolar menguat, harga impor naik, biaya produksi meningkat, inflasi merembet ke desa, dan rakyat kecil menanggung akibatnya. Mereka tidak memegang dolar, tetapi mereka menanggung logikanya.Marx akan mengatakan bahwa ini adalah bentuk keterasingan (alienation). Manusia terasing dari kekuatan yang mengatur hidupnya. Petani bekerja keras di sawah, tetapi tidak menguasai harga hasil panennya. Ia menghasilkan nilai, tetapi nilai itu ditentukan oleh pasar yang jauh dari jangkauannya. Ia hidup dari tanahnya sendiri, tetapi nasib ekonominya ditentukan oleh fluktuasi global yang tak bisa ia kendalikan. Itulah paradoks kapitalisme menurut Marx: manusia menciptakan sistem ekonomi, tetapi akhirnya sistem itu menguasai manusia.Ilustrasi keterasingan seorang petani. Foto: Gemini AI.Karena itu, jika Marx mendengar pernyataan “orang desa tak memakai dolar,” ia mungkin akan bertanya: “Siapa yang diuntungkan ketika rakyat percaya bahwa mereka tidak terhubung dengan struktur global yang sebenarnya menentukan hidup mereka?” Pertanyaan ini penting karena filsafat Marx selalu mengajak kita membongkar ilusi.Bagi Marx, tugas berpikir bukan menerima kenyataan sebagaimana ia tampak, melainkan menyingkap relasi kuasa yang tersembunyi di baliknya. Maka benar, orang desa memang tak memegang dolar. Tetapi menurut Karl Marx, justru itulah ironi terbesar kapitalisme: manusia bisa sepenuhnya ditentukan oleh sesuatu yang bahkan tak pernah mereka sentuh.