Ilustrasi perebutan lithium antara kekuatan global di balik transisi energi hijau, yang memicu konflik geopolitik dan eksploitasi tambang. Foto: Generated by AIDi tengah kampanye besar transisi energi global, dunia mulai memuja lithium seperti “emas baru” abad ini. Negara-negara berlomba mengamankan pasokan demi baterai mobil listrik, penyimpanan energi, hingga industri teknologi hijau.Namun ada ironi yang jarang dibahas: semakin hijau dunia ingin terlihat, semakin brutal perebutan sumber daya yang terjadi di belakangnya. Transisi energi ternyata tidak otomatis melahirkan dunia yang lebih damai, tetapi justru membuka babak baru kompetisi geopolitik dan eksploitasi ekonomi.Dalam seminggu terakhir, harga lithium global kembali melonjak akibat gangguan pasokan dan meningkatnya permintaan industri kendaraan listrik serta energy storage. Situasi ini menunjukkan bahwa energi hijau kini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan juga arena perebutan pengaruh global.Masalahnya, narasi “green energy” sering dipromosikan seolah bersih dari konflik. Padahal, pola yang terjadi sangat mirip dengan perebutan minyak di masa lalu. Negara maju membutuhkan lithium untuk mempertahankan agenda dekarbonisasi mereka, tetapi sumber dayanya banyak berada di negara berkembang, seperti Argentina, Bolivia, Chile, Zimbabwe, dan beberapa kawasan Afrika.Akibatnya, negara-negara penghasil mineral kritis kembali diposisikan sebagai pemasok bahan mentah murah, sementara keuntungan terbesar tetap dinikmati negara industri yang menguasai teknologi baterai dan rantai produksi. Dengan kata lain, transisi hijau berisiko hanya mengganti bentuk ketergantungan lama dengan versi baru yang lebih “ramah lingkungan” di permukaan.Ilustrasi bendera China. Foto: Samuel Borges Photography/ShutterstockChina saat ini menjadi aktor yang paling agresif dalam perebutan lithium global. Beijing menguasai lebih dari 75% pemrosesan lithium dunia dan terus memperluas investasi tambang di Amerika Latin serta Afrika. Amerika Serikat dan Uni Eropa mulai merespons dengan membangun rantai pasok alternatif demi mengurangi dominasi China.Yang terjadi kemudian bukan sekadar kompetisi ekonomi biasa, melainkan juga perlombaan dalam mengamankan sumber daya strategis sebelum negara lain lebih dulu menguasainya. Dalam konteks ini, mobil listrik tidak bisa lagi dipandang murni sebagai simbol kepedulian lingkungan, tetapi juga instrumen perebutan pengaruh geopolitik global.Yang lebih mengkhawatirkan, obsesi terhadap lithium justru bisa menciptakan “green colonialism” atau kolonialisme hijau. Negara berkembang ditekan untuk membuka investasi tambang besar-besaran atas nama pembangunan berkelanjutan, tetapi masyarakat lokal sering menjadi pihak yang paling dirugikan.Tambang lithium membutuhkan air dalam jumlah sangat besar dan berpotensi merusak ekosistem lokal, terutama di wilayah kering seperti Amerika Latin. Ironisnya, masyarakat yang kehidupannya terdampak justru sering tidak menikmati manfaat utama dari industri tersebut. Dunia sedang membangun mobil listrik untuk mengurangi emisi karbon, tetapi di saat yang sama membuka ruang eksploitasi baru terhadap wilayah pinggiran global.Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi "Apakah energi hijau diperlukan atau tidak?" melainkan "Siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari transisi ini?" Jika transisi energi hanya memindahkan pusat perebutan dari minyak ke lithium tanpa mengubah pola ketimpangan global, dunia sebenarnya belum keluar dari logika lama. Kita hanya mengganti bahan bakarnya, bukan sistemnya. Energi hijau seharusnya menjadi kesempatan menciptakan tata ekonomi global yang lebih adil, bukan sekadar wajah baru dari perebutan sumber daya yang selama ini terus berulang.