Pengunjuk rasa membentangkan poster dalam aksi solidaritas untuk jurnalis dan aktivis GSF 2.0 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (21/5/2026). Foto: Didik Suhartono/ANTARA FOTOTindakan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, yang mengunggah video aktivis kemanusiaan Gaza dalam kondisi terikat dan bersujud memicu kecaman internasional. Sejumlah pihak dari Amerika Serikat hingga Eropa menilai tindakan tersebut merendahkan martabat para relawan yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 menuju Gaza.Di tengah gelombang kritik itu, pemerintah Indonesia memastikan sembilan WNI relawan GSF yang sempat ditahan Israel telah dibebaskan dan kini dalam proses pemulangan. Pemerintah RI juga mengecam perlakuan yang disebut tidak manusiawi terhadap para relawan, sementara sejumlah pihak masih mendalami dugaan kekerasan yang terjadi selama penahanan.AS-Eropa Kecam Israel yang Tampilkan Video Aktivis GSF Tertangkap-BersujudMenteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, mempublikasikan video yang menampilkan sejumlah aktivis kemanusiaan Gaza yang mereka tangkap pada Rabu (20/5). Pada video itu, para aktivis yang tertangkap nampak terikat tangannya. Mereka juga bersujud.Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir bereaksi saat aktivis armada ditahan oleh pasukan Israel di Pelabuhan Ashdod, Israel, dalam cuplikan layar yang diambil dari video yang dirilis pada 20 Mei 2026. Foto: Kantor Itamar Ben Gvir/Handout via Reuters"Kemarahan universal dan kecaman untuk setiap pejabat Israel, terutama perilaku tercela Ben Gvir. Memburu (aktivis) flotilla itu bodoh, tapi Ben Gvir telah mengkhianati harga diri negaranya," kata Huckabee lewat akun X-nya.Selain itu, Belgia dan Prancis melakukan langkah diplomatik lebih konkret. Mereka memanggil Duta Besar Israel atas perilaku Ben Gvir yang tak dapat diterima."Aktivis kemanusiaan diperlakukan sangat buruk, tak dapat diterima," kata Carney, dilansir AFP.Kemlu Cek Dugaan Kekerasan 9 WNI Relawan Global Sumud Flotilla di Penjara IsraelDirektur Perlindungan WNI Kemlu RI Henny Hamidah mengatakan sedang memverifikasi dugaan adanya kekerasan terhadap sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 setelah kapal mereka dicegat militer Israel.Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri RI, Henny Hamidah, saat memberikan keterangan pers di Kemlu RI, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan“Kalau terkait video-video itu, kami masih belum memastikan video itu benar atau tidak, namun demikian kita akan terus mencari tahu kebenaran dari video-video tersebut,” kata Henny saat memberikan keterangan pers di Kemlu RI, Jakarta, Kamis (21/5).Henny menjelaskan, berdasarkan informasi terakhir, sembilan WNI tersebut berada dalam penanganan otoritas Israel setelah kapal misi kemanusiaan yang mereka tumpangi diintersepsi militer Israel dan dibawa ke Pelabuhan Ashdod.Persoalan hukum mereka ditangani salah satu lembaga hukum non-profit yang ada di Israel, Adalah.“Seluruh aktivis Global Sumud Flotilla serta Koalisi Freedom Flotilla yang ditahan telah dibebaskan dari fasilitas penahanan Ktziot dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju proses deportasi,” tulis Adalah dalam keterangannya, Kamis (21/5).Menlu Benarkan 9 WNI Relawan GSF Sudah Dibebaskan Israel, Kini Proses PemulanganMenteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono membenarkan kabar sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang sempat ditahan militer Israel kini telah dibebaskan dan sedang dalam proses pemulangan ke Indonesia.“Pemerintah Indonesia dengan penuh rasa syukur menyampaikan bahwa sembilan warga negara Indonesia yang ditangkap oleh militer Israel dalam pencegatan kapal dan penangkapan relawan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2.0 saat ini dalam perjalanan meninggalkan wilayah Israel menuju Istanbul, Turki, dan akan segera melanjutkan perjalanan kembali ke tanah air,” kata Sugiono dalam keterangannya, Kamis (21/5).Menteri Luar Negeri Sugiono di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparanSugiono menyebut Pemerintah RI mengapresiasi Pemerintah Turki yang turut membantu proses pemulangan para WNI tersebut.“Pemerintah Indonesia sekali lagi menegaskan kecamannya atas perlakuan tidak manusiawi yang diterima para relawan selama masa penahanan. Tindakan yang merendahkan martabat warga sipil dalam sebuah misi kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional yang tidak dapat ditoleransi,” kata Sugiono.Netanyahu & Menlu Israel Kecam Ben Gvir yang Unggah Video Aktivis DitangkapMenteri Keamanan Israel Itamar Ben Gvir mengunggah video sejumlah aktivis kemanusiaan yang ditangkap Israel saat mereka hendak berlayar menuju Gaza pada Rabu (20/5). Dalam video yang diunggah Ben Gvir itu, para aktivis tampak terikat pada bagian tangannya dan mereka bersujud dikelilingi sejumlah aparat Israel."Anda justru membuat kerusakan pada negara dengan perilaku memalukan ini, dan ini bukan untuk pertama kali. Anda membuang sia-sia upaya profesional banyak orang, termasuk tentara IDF sampai Kementerian Luar Negeri," ucap Saar, dikutip dari akun X resminya, @gidoonsaar, Kamis (21/5).Gideon Sa'ar. Foto: Getty ImagesSementara Netanyahu juga menyampaikan hal senada. Ben Gvir telah mencoreng nama Israel di dunia."Saya bangga dengan kinerja kementerian yang saya pimpin melawan para pendukung teror. Ya, mungkin ada beberapa gambar yang Gideon Saar tidak suka, tapi bagi saya, itu kebanggaan," ucap Ben Gvir dilansir AFP. Relawan Sumud Flotilla Jadi Korban Kekerasan-Disuruh Sujud oleh IsraelKoordinator Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Maimon Herawati membenarkan adanya kekerasan yang dialami oleh relawan Global Sumud Flotilla (GSF) yang ditahan Israel. Kekerasan tersebut diketahui dari video yang dibagikan Menteri Keamanan Israel Itamar Ben-Gvir.Ketua Koordinator GPCI yang sedang bertugas di Turki Maimon Herawati saat konferensi pers update terkini upaya pembebasan 9 delegasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Jakarta, Rabu (20/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan"Kalau video kekerasan itu memang terjadi. Salah satu perempuan yang berteriak 'free Palestine' lalu kemudian rambutnya dijambak dan kepalanya didorong ke bawah itu sahabat saya. Beliau berasal dari Irlandia," ujarnya yang hadir secara virtual dalam konferensi pers GPCI di Jakarta, Rabu (20/5).Namun, ia belum mengetahui siapa saja orang-orang yang ditangkap dan diperlakukan seperti itu sebab wajah-wajahnya tertutup."Pertanyaannya apakah kekerasan itu terjadi? Terjadi karena memang begitulah Israel. Kita harus tahu mereka jauh lebih brutal disiksa oleh penjahat kemanusiaan itu," tambahnya.