Kita Mulai Terbiasa Hidup di Tengah Sampah

Wait 5 sec.

TPA Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Foto: Dokumentasi pribadiPersoalan sampah di Indonesia sampai sekarang masih menjadi masalah yang sulit diselesaikan, terutama di wilayah perkotaan. Jumlah penduduk yang terus bertambah, aktivitas masyarakat yang semakin padat, dan pola konsumsi yang berubah membuat volume sampah ikut meningkat dari waktu ke waktu.Namun di sisi lain, sistem pengelolaan sampah di banyak daerah masih belum mampu mengimbangi peningkatan tersebut. Akibatnya, persoalan sampah terus muncul dan perlahan menjadi pemandangan yang dianggap biasa oleh masyarakat.Padahal, dampak dari sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan semata. Tumpukan sampah yang tidak terkelola dapat memengaruhi kualitas lingkungan, menimbulkan pencemaran, bahkan berdampak pada kesehatan masyarakat. Sayangnya, kondisi seperti ini sering kali baru mendapat perhatian ketika sampah mulai menumpuk di jalan, mencemari saluran air, atau menimbulkan bau yang mengganggu aktivitas warga.Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2025, jumlah sampah yang belum terkelola di Indonesia mencapai 109.092 ton per hari. Sementara itu, sampah yang berhasil terkelola tercatat sebesar 35.747 ton per hari. Data tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Indonesia masih menghadapi tantangan yang cukup besar, baik dari sisi fasilitas, sistem pengangkutan, maupun keterlibatan masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah dari rumah tangga.Kondisi tersebut juga terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hampir seluruh kabupaten/kota di wilayah ini masih memiliki persentase sampah belum terkelola yang sangat tinggi. Kabupaten Lombok Barat misalnya, memiliki persentase sampah belum terkelola sebesar 99,71% dengan timbulan sampah mencapai 305 ton per hari. Kabupaten Lombok Tengah mencapai 99,61% dengan timbulan 451 ton per hari, sedangkan Kabupaten Lombok Timur mencapai 99,75% dengan timbulan 583 ton per hari.Ilustrasi Lombok. Foto: Rob Travel/ShutterstockSelain itu, Kabupaten Sumbawa tercatat memiliki sampah belum terkelola sebesar 99,97% dengan timbulan mencapai 290 ton per hari. Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima bahkan sama-sama berada pada angka 99,99%. Sementara itu, Kota Mataram sebagai pusat perkotaan di Nusa Tenggara Barat juga masih menghadapi persoalan serupa dengan persentase sampah belum terkelola sebesar 99,07%.Melihat tingginya angka tersebut, persoalan sampah di Nusa Tenggara Barat sebenarnya tidak lagi dapat dianggap sebagai persoalan biasa. Permasalahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah. Di beberapa kawasan permukiman, fasilitas seperti tempat sampah, TPS, maupun layanan pengangkutan sampah masih belum memadai. Kondisi inilah yang pada akhirnya memengaruhi perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.Masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan, mencampur seluruh jenis sampah dalam satu tempat, atau memilih membakar sampah karena minimnya fasilitas yang tersedia. Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, persoalan sampah akan semakin sulit dikendalikan di masa mendatang.Padahal, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah telah menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan untuk menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Artinya, tanggung jawab pengelolaan sampah tidak hanya berada di tangan pemerintah daerah saja. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih baik.Karena itu, persoalan sampah seharusnya tidak hanya diperhatikan ketika tumpukan sampah mulai terlihat di ruang publik. Kesadaran untuk mengurangi, memilah, dan mengelola sampah perlu mulai dibangun dari lingkungan rumah tangga dan kehidupan sehari-hari. Sebab, jika masyarakat terus terbiasa hidup di tengah persoalan sampah, dampak lingkungan yang lebih besar akan semakin sulit dihindari.