Solen Feyissa/PexelsBayangkan kita baru saja selesai lari dan langsung mengecek smartwatch (jam tangan pintar). Ternyata skor kebugaran (VO₂max) kita justru anjlok. Kalori yang terbakar tercatat sangat minim dan skor pemulihan kita begitu rendah. Perangkat ini bahkan menyarankan kita untuk berhenti olahraga selama tiga hari ke depan.Padahal, perasaan kita justru sebaliknya: lari tadi terasa sangat menyenangkan.Lantas, mengapa jam tangan kita malah menunjukkan hasil yang bertolak belakang?Jawabannya sederhana: akurasi smartwatch dan berbagai alat pemantau kebugaran lainnya memang tidak selalu bisa diandalkan.Jangan terlalu berpatokan pada jam pintarPenggunaan teknologi kebugaran seperti smartwatch sudah jadi tren utama selama dekade terakhir. Jutaan orang di seluruh dunia menggunakannya setiap hari.Perangkat ini sangat memengaruhi cara kita memandang kesehatan dan olahraga. Lewat data yang muncul, kita bisa melihat jumlah kalori yang terbakar, tingkat kebugaran, hingga proses pemulihan tubuh setelah beraktivitas. Bahkan, kita sering mengandalkannya untuk tahu kapan tubuh sudah siap berolahraga lagi. Namun, perlu diingat bahwa jam pintar tidak mengukur sebagian besar metrik tersebut secara langsung. Banyak angka yang tertera sebenarnya hanyalah hasil perkiraan. Dengan kata lain, akurasinya mungkin tidak seakurat yang kita duga.1. Kalori yang terbakarFitur penghitung kalori adalah salah satu fungsi yang paling populer pada jam pintar. Sayangnya, tingkat akurasinya masih jauh dari harapan.Perangkat ini bisa saja mencatat pengeluaran energi (jumlah kalori yang terbakar) lebih rendah atau bahkan lebih tinggi dari angka aslinya. Selisih kesalahan perhitungannya mencapai lebih dari 20%. Tingkat kesalahan ini berbeda-beda tergantung jenis aktivitasnya. Misalnya, saat melakukan latihan beban, bersepeda, hingga latihan intensitas tinggi (HIIT), akurasi data jam pintar cenderung memiliki margin kesalahan jauh lebih besar.Temuan ini penting karena banyak orang sering menjadikan angka-angka tersebut sebagai patokan dalam mengatur porsi makan mereka.Sebagai contoh, jika jam tangan kita mencatat jumlah kalori yang terbakar terlalu tinggi, kita mungkin merasa perlu makan lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan. Akibatnya, tubuh kita berisiko mengalami kenaikan berat badan. Sebaliknya, jika jam tersebut mencatat angka yang terlalu rendah, kita mungkin malah kurang makan—yang akhirnya bisa berdampak buruk pada performa olahraga kita.2. Jumlah langkahMenghitung jumlah langkah merupakan cara yang bagus untuk mengukur aktivitas fisik secara umum. Namun, jam pintar tidak selalu bisa menangkap datanya dengan sempurna.Dalam kondisi olahraga normal, jam pintar bisa meleset menghitung langkah sekitar 10% lebih rendah daripada aslinya. Aktivitas seperti mendorong kereta bayi, membawa beban, atau berjalan dengan ayunan lengan yang terbatas cenderung membuat perhitungan langkah menjadi kurang akurat. Sebab, jam pintar sangat mengandalkan gerakan tangan untuk mendeteksi setiap langkah kita.Hal ini sebenarnya bukan masalah besar bagi kebanyakan orang. Jumlah langkah tetap menjadi indikator yang berguna untuk memantau tingkat aktivitas harian kita secara umum. Namun, sebaiknya kita menganggap angka tersebut sebagai perkiraan, bukan sebuah ukuran yang benar-benar pasti.3. Detak jantungJam pintar memperkirakan detak jantung kita menggunakan sensor yang mengukur perubahan aliran darah pada pembuluh darah di pergelangan tangan.Metode ini tergolong akurat saat kita sedang beristirahat atau melakukan aktivitas berintensitas rendah. Namun, tingkat akurasinya akan menurun seiring dengan meningkatnya intensitas olahraga kita.Selain itu, gerakan lengan, keringat, warna kulit, hingga seberapa kencang kita memakai jam tangan juga bisa memengaruhi hasil pengukuran detak jantung. Artinya, tingkat akurasi alat ini bisa berbeda-beda bagi setiap orang.Kondisi ini bisa menjadi masalah bagi mereka yang mengandalkan zona detak jantung sebagai panduan latihan. Kesalahan kecil saja pada data tersebut bisa membuat kita berlatih pada intensitas yang keliru. Baca juga: What are heart rate zones, and how can you incorporate them into your exercise routine? 4. Pemantauan TidurHampir semua jam pintar di pasaran saat ini menyediakan fitur “skor tidur” dan membagi waktu istirahat kita ke dalam beberapa tahapan. Antara lain tidur ringan (light sleep), tidur nyenyak (deep sleep), hingga fase rapid eye movement (REM) alias tahap mimpi disertai peningkatan aktivitas otak yang bikin mata bergerak cepat saat tertidur.Standar emas untuk mengukur kualitas tidur sebenarnya adalah polisomnografi. Ini adalah tes laboratorium yang merekam aktivitas otak. Sementara itu, jam pintar hanya memperkirakan kualitas tidur kita berdasarkan gerakan tubuh dan detak jantung saja. Metode ini memang cukup mumpuni untuk mendeteksi kapan kita tertidur atau terbangun. Masalahnya, perangkat ini jauh kurang akurat dalam mengidentifikasi tahapan-tahapan tidur secara spesifik.Jadi, meski smartwatch menunjukkan bahwa kita “kurang tidur nyenyak”, hasil tersebut belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya. Baca juga: How do sleep trackers work, and are they worth it? A sleep scientist breaks it down 5. Skor pemulihanSebagian besar jam pintar memantau variabilitas detak jantung (heart rate variability) dan menggabungkannya dengan skor tidur untuk membuat metrik “kesiapan” atau “pemulihan”.Variabilitas detak jantung mencerminkan bagaimana tubuh kita merespons stres. Di laboratorium, angka ini diukur menggunakan elektrokardiogram (EKG). Namun, jam pintar memperkirakannya menggunakan sensor di pergelangan tangan yang jauh lebih rentan terhadap kesalahan pengukuran.Artinya, sebagian besar metrik pemulihan ini didasarkan pada dua pengukuran yang tidak akurat (variabilitas detak jantung dan kualitas tidur). Hasilnya adalah sebuah angka yang mungkin tidak mencerminkan kondisi pemulihan kita sebenarnya.Akibatnya, jika jam tangan menyatakan bahwa kita belum pulih, kita mungkin akan memilih untuk melewatkan jadwal latihan. Padahal tubuh kita sebenarnya terasa bugar dan siap untuk beraktivitas.6. VO₂maxHampir semua perangkat saat ini bisa memperkirakan VO₂max kita, sebuah angka yang menunjukkan tingkat kebugaran maksimal seseorang. Metrik ini mengukur jumlah oksigen maksimum yang dapat digunakan tubuh kita saat sedang berolahraga.Cara terbaik untuk mengukur VO₂max sebenarnya melibatkan penggunaan masker khusus guna menganalisis jumlah oksigen yang kita hirup dan embuskan. Ini dilakukan untuk menentukan seberapa banyak oksigen yang digunakan tubuh dalam menghasilkan energi.Jam tangan pintar tentu tidak bisa mengukur penggunaan oksigen secara langsung. Perangkat tersebut hanya memberikan estimasi berdasarkan detak jantung dan pergerakan tubuh kita.Masalahnya, jam pintar cenderung mencatat angka VO₂max yang terlalu tinggi bagi orang yang kurang aktif dan justru mencatat angka yang terlalu rendah bagi mereka yang lebih bugar.Artinya, angka yang muncul di layar jam pintar mungkin tidak benar-benar mencerminkan tingkat kebugaran kita sesungguhnya.Apa yang sebaiknya dilakukan?Meski data dari jam pintar rentan terhadap kesalahan, bukan berarti perangkat ini tidak berguna sama sekali. Smartwatch tetap bisa membantu kita memantau tren kesehatan secara umum dalam jangka panjang. Namun, sebaiknya kita tidak terlalu terpaku pada fluktuasi harian atau angka-angka yang sangat spesifik dari perangkat ini.Hal yang tak kalah penting coba perhatikan apa yang dirasakan oleh tubuh kita, termasuk bagaimana performa kita saat berlatih, serta sejauh apa proses pemulihannya. Indikator alami ini kemungkinan besar bisa memberikan gambaran yang jauh lebih akurat dibandingkan apa yang tertera di layar jam pintar kita.Adinda Ghinashalsabilla Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa InggrisHunter Bennett tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.