Populer: Prabowo Tanggapi Rupiah Melemah; Klaim Pangan RI Aman

Wait 5 sec.

Presiden Prabowo Subianto meninjau Koperasi Desa Merah Putih, Kabupaten Nganjuk, (16/5/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat PresidenPelemahan rupiah dan tanggapan Prabowo menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Sabtu (16/5). Selain itu, klaim ketahanan pangan RI juga menyita perhatian. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:Prabowo soal Rupiah Melemah: Rakyat di Desa Nggak Pakai Dolar KokPresiden Subianto menanggapi dinamika pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang menjadi sorotan ekonomi baru-baru ini. Dalam sambutannya pada Peresmian Museum Marsinah di Nganjuk pada Sabtu (16/5), Prabowo menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat, khususnya di pedesaan, tidak secara langsung merasakan dampak fluktuasi ini karena aktivitas sehari-hari mereka tidak melibatkan penggunaan mata uang asing.“Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa rupiah begini, dolar begini, orang rakyat di desa nggak pake dolar, kok,” kata Prabowo dalam sambutannya saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Sabtu (16/5).Prabowo menekankan bahwa kondisi ekonomi Indonesia secara fundamental masih kuat dan stabil di tengah kepanikan global yang melanda banyak negara. Ia menegaskan ketersediaan pangan dan energi dalam negeri aman. Berdasarkan data Bloomberg pada Sabtu siang (16/5) pukul 13.23 WIB, satu dolar AS tercatat setara Rp 17.596, menunjukkan pergerakan nilai tukar yang terus dipantau.Lebih lanjut, dalam kesempatan terpisah saat meresmikan 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes), Prabowo mengidentifikasi pihak-pihak yang lebih merasakan tekanan pelemahan rupiah adalah mereka yang sering bepergian ke luar negeri atau pelaku usaha. Meskipun demikian, ia tetap memastikan fundamental ekonomi nasional kokoh, memberikan sinyal optimisme di tengah ketidakpastian global.Klaim Pangan RI Aman: Banyak Negara Beli Beras dari KitaPrabowo menyoroti ketahanan pangan nasional sebagai tantangan krusial bagi 287 juta jiwa penduduk Indonesia. Dalam pidatonya di Nganjuk pada Sabtu (16/5), Prabowo menegaskan keberhasilan pemerintah menjaga ketersediaan pangan, menolak pandangan efisiensi impor beras dan jagung. Ia mengeklaim bahwa swasembada pangan telah menjadikan Indonesia lebih aman dan siap menghadapi krisis global dibandingkan negara lain.“Dan akhirnya sejarah, takdir, dan kenyataan membuktikan bahwa karena kita sudah lebih dulu aman soal pangan, krisis apa pun di luar negara kita, kita relatif, relatif lebih aman, lebih siap menghadapi cobaan,” ucap Prabowo dalam Peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).Sebagai indikator penguatan posisi pangan Indonesia, Prabowo mengungkapkan adanya permintaan beras dari berbagai negara, termasuk tetangga. Ia mencontohkan keputusan India dan Bangladesh yang menghentikan ekspor beras, jagung, dan gandum, yang kemudian membuat negara-negara tersebut melirik pasokan dari Indonesia. Fenomena ini menunjukkan perubahan dinamika pasar komoditas pangan global yang signifikan.Meskipun demikian, Prabowo menekankan pentingnya menjaga kepentingan petani dalam negeri. Ia menginstruksikan Direktur Utama Bulog untuk tidak menjual beras terlalu murah kepada negara pembeli, guna memastikan petani tetap memperoleh keuntungan optimal. Hal ini juga menjadi strategi untuk mengamankan kebutuhan pangan domestik dalam menghadapi potensi krisis global jangka panjang.