Merbabu, Menjemput Janji yang Terkubur

Wait 5 sec.

Ilustrasi: Bersama Para Pendaki Gunung Merbabu via Thekelan (Sumber: Foto Pemilik)Keinginan yang telah terkubur, tapi dibongkar lagi oleh Sandi. Ia dahulu ingin mendaki gunung yang sudah direncanakan bersama teman-teman nya, itu waktu ketika ia beranjak umur 17 tahun. Yang mana sudah bersepakat bersama teman-teman nya ketika sedang ngobrol di teras masjid. Karena waktu itu Sandi berada di pesantren yang menjadikan Ia terhalang oleh dunia digital, sebab Ia sedang menekun belajar di sana, tapi kalau kata guru besar kami. Beliau bilang kita sedang jihad fisabilillah.Kemudian jelang ketika memasuki dunia kuliah di semester pertama, Ia sudah terlupakan oleh rencana nya yang dibuat bersama teman-teman nya. Akan tetapi seiring berjalan waktu ketika Ia beranjak di semester empat, mulailah Ia tergesit untuk meraih keinginan nya, pergi mendaki ke Gunung Merbabu yang membuat isi pikiran nya penasaran, yang sebenarnya apa tujuan Ia untuk naik gunung?Sebelum itu Sandi lagi ngobrol bersama teman rumah nya, untuk merencanakan naik gunung tersebut yang membuat Sandi sangat terkesan karena ketika hendak naik gunung harus mempunyai fisik yang kuat disertai mental yang sehat, lalu harus mempunyai perlengkapan barang yang imbang, supaya memudahkan kita untuk mendaki.Ketika Sandi sudah ada di tempat terminal Uki Cawang, sedang ada keributan yang membendung pasukan dari Sopir melawan para Satpam, sehingga situasi ini menjadi sangat ricuh dan tidak kondusif. Yang membuat rasa penasaran Sandi muncul akan hal yang lagi terjadi, akan tetapi ia hanya sekadar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Lalu kita diusir oleh pihak Satpam setempat, yang membuat kita merasa geram. Akhirnya kita masuk ke dalam bis, dan ketika masuk. Bis ini tidak memiliki mesin pendingin atau ruang pendingin. Sehingga dalam perjalanan kita dalam keadaan gerah dan panas.Selanjutnya, kita diberhentikan oleh Sopir di tempat rest area, yang baru mulai perjalanan tiba-tiba ada halangan. Yaitu masalah dari mesin bis yang sangat panas, yang membuat kita menjadi menunggu dari permasalahan tersebut, seiring berjalan nya waktu. Itu sekitar memakan waktu selama 5 jam untuk menunggu Bis yang layak untuk keberangkatan kita.Dan selama dalam perjalanan, akhirnya kita bisa menjalani dengan aman sampai ke tujuan. Setelah dari basecamp kita bergegas untuk menaiki ojek dahulu. Karena memang perjalanan yang cukup jauh. Jadi kita terpaksa untuk memangkas waktu agar menjadi lebih cepat. Sesampai di gapura Gunung Merbabu via Thekelan barulah kita foto-foto, maka setelah itu kita melanjutkan perjalanan mendaki ini.Ilustrasi: Keindahan Gunung Merbabu (Sumber: Foto Pemilik)Ketika selama di dalam perjalanan ini moment yang sangat menegangkan, karena waktu itu Sandi bertekad yakin dalam pikiran nya, bahwa pasti Ia akan berhasil dalam menjalankan keinginan ini. Kemudian beberapa selanjutnya cuaca mulai mendung dan angin mulai kencang dan seketika Sandi menuju arah ke pos 3. Langsung turun hujan deras yang membuat orang-orang buru-buru ke tempat tenda-tenda yang sudah disiapkan.Kemudian Sandi pun merasa bingung harus bagaimana untuk mencari cara biar dapat membangun sebuah tenda dalam kondisi yang genting. Akan tetapi tanpa berpikir panjang, maka Sandi langsung ikut teduh bersama teman pendaki nya, di tenda orang lain. Yang membuat ada rasa kedekatan antar sesama, walaupun itu orang yang tidak dikenal. Tapi empati di sana memang sangat tinggi terhadap sesama. Karena ketika di Gunung itu adalah sebuah tempat yang sangat terbatas akan dampak nya segi makanan dan minuman.Oleh karena itu kita sebaiknya mempunyai jiwa bertahan hidup di alam liar, maupun hidp yang tidak waras ini. Sehingga jika itu ada yang menimpa ke kita, setidaknya kita sudah mempersiapkan dengan matang. Dengan kata lain, ini akan berdampak ke diri kita menjadi lebih waspada terhadap diri sendiri. Waktu dilanda hujan ini memang cukup serius, yang membuat jiwa Sandi sedang di uji coba oleh Sang Alam Semesta.Maka Sandi tertegun akankah hidup nya akan berakhir sampai di sini. Karena ini pertama kali untuk mendaki gunung di dalam hidup nya, namun Sandi tetap terus berpikir secara rasional, bahwa ini akan sementara, dan tidak selamanya harus seperti ini. Kemudian ketika sudah berada di dalam tenda tersebut. Sandi ditawarkan makanan dan minuman oleh para pendaki yang lain. Dan itulah mengapa muncul ada rasa bersyukur bahwa Alam Semesta akan menyambut nya dengan melalui perantara manusia.Selang beberapa waktu, akhirnya hujan pun ikut reda. Dan di sinilah Sandi mencari kawan pendaki nya, lalu beberapa menit kemudian. Sandi mendengar suara ciri khas kawan nya, yang membuat Sandi bergegas untuk menghampiri suara tersebut. Maka bertemulah Sandi bersama kawan pendaki, lalu tanpa berpikir lama. Sandi dan kawan pendaki langsung membangun tenda yang sudah disediakan lahan nya. Karena waktu yang sudah malam membuat mereka ingin cepat-cepat beristirahat.Ilustrasi: Menikmati Keindahan Alam Semesta (Sumber: Foto Pemilik) Di kemudian hari. Sandi sudah mempersiapkan untuk summit ke puncak. Lalu sebelum keberangkatan kita membaca doa terlebih dahulu, karena agar dalam perjalanan menjadi lebih ringan tanpa ada beban. Maka setelah dalam perjalanan yang cukup panjang, kita sampai di puncak pemancar. Yang di mana ini adalah puncak yang bagi untuk pemula karena masih ada lagi puncak yang sebenarnya. Yaitu puncak Syarif tepat puncak yang sesungguhnya memiliki ketinggian 3.145 MdplDan ketika di kondisi puncak pemancar, para kawan pendaki mulai ada yang menyerah karena memang perjalanan yang sangat panjang, ditambah dengan kondisi yang cukup ekstrem melalui angin badai, dan kabut yang tebal. Membuat diri kita menjadi lebih waspada terhadap kondisi seperti ini. Lalu sisa dua orang, yaitu Sandi dan Iki mereka melanjutkan perjalanannya yang panjang menuju arah puncak syarif. Karena mereka penasaran apa yang ada terjadi di sanaKemudian setelah melewati perjalanan yang sangat panjang, dengan segala pengorbanan yang mereka lewati bersama akhirnya berhasil sampai di puncak syarif. Yang membuat mereka ada perasaan bahagia dan salut dalam diri karena sudah berhasil sejauh ini. Maka itu terbentuklah rasa kepercayaan diri yang berkembang dan pantang menyerah terhadap segala suatu kondisi yang terjadi. Sehingga ini yang membuat mental mereka semakin kebentuk menjadi lebih kuat dan tabah.Dengan demikian, mendaki gunung adalah suatu hal yang menarik bagi kita apabila ada rasa keinginan yang tinggi. Lalu mengajarkan kepada kita untuk saling peduli satu sama lain, dan saling menghargai terhadap sesama, karena mendaki gunung adalah bukan suatu hal yang mudah. Ini butuh dengan adanya fisik yang kuat dan mental yang sehat. Sehingga jika itu sudah terpenuhi, maka kita sudah lebih siap untuk mendaki.