Fatherless: Ketika Anak Tumbuh Tanpa Kehadiran Emosional Ayah

Wait 5 sec.

ilustrasi: fatherless foto:chatGPTIstilah fatherless belakangan semakin sering dibicarakan di media sosial. Banyak orang menggunakannya untuk menjelaskan kondisi anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah, baik karena perceraian, kematian, hubungan keluarga yang renggang, maupun karena ayah hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional. Namun, pembahasan tentang fatherless sering kali berhenti pada candaan atau stigma semata, padahal persoalan ini jauh lebih dalam. Fatherless bukan hanya tentang tidak adanya sosok laki-laki di rumah, melainkan tentang hilangnya rasa aman, dukungan emosional, perhatian, dan keterikatan yang penting dalam perkembangan anak.Banyak penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa hubungan anak dengan ayah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan emosi, rasa percaya diri, cara anak membangun relasi, hingga kesehatan mentalnya di masa dewasa. Michael E. Lamb dalam buku The Role of the Father in Child Development (2010) menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil, terutama hubungan dengan orang tua, memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan kepribadian anak. Ia menulis:“Pengalaman masa kanak-kanak membentuk kepribadian dan perilaku seseorang di kemudian hari.”Kalimat tersebut menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil membentuk perilaku dan kepribadian seseorang di masa depan. Karena itu, hubungan anak dengan ayah tidak bisa dianggap sepele. Banyak luka emosional pada orang dewasa sebenarnya berakar dari pengalaman emosional mereka ketika masih anak-anak.Ayah Bukan Sekadar Pencari NafkahDi masyarakat, ayah sering dipahami hanya sebagai pencari nafkah. Selama kebutuhan ekonomi terpenuhi, banyak orang merasa tugas seorang ayah sudah selesai. Padahal, penelitian modern menunjukkan bahwa peran ayah jauh lebih luas daripada sekadar memberi uang.Michael E. Lamb menjelaskan bahwa ayah memiliki banyak peran dalam kehidupan anak, mulai dari pendamping, pengasuh, pelindung, pengajar, hingga sumber dukungan emosional. Ia menulis:“Para peneliti, teoretikus, dan praktisi tidak lagi berpegang pada keyakinan sederhana bahwa ayah secara ideal hanya menjalankan satu peran yang bersifat tunggal dan universal.”Artinya, ayah tidak bisa dipahami hanya dalam satu fungsi semata. Anak membutuhkan lebih dari sekadar biaya sekolah atau uang jajan. Anak juga membutuhkan pelukan, validasi, rasa aman, perhatian, dan keterlibatan emosional.Sayangnya, banyak anak tumbuh dengan ayah yang hadir secara fisik tetapi jauh secara emosional. Ada ayah yang sibuk bekerja sepanjang waktu, ada yang mudah marah, ada yang dingin dan sulit diajak bicara, bahkan ada yang memilih menjauh setelah perceraian. Kondisi seperti ini sering meninggalkan luka emosional yang tidak langsung terlihat.Fenomena fatherless ternyata bukan persoalan kecil di Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, terus menjadi perhatian serius.Berdasarkan hasil olahan data Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik Maret 2024, sebanyak 15,9 juta anak Indonesia berpotensi mengalami fatherless. Angka tersebut setara dengan sekitar 20,1 persen dari total anak di Indonesia.Dalam laporan tersebut dijelaskan: “Sebanyak 20,1 persen anak Indonesia berpotensi tumbuh fatherless.”Menariknya, fatherless dalam data tersebut tidak selalu berarti anak benar-benar tidak memiliki ayah. Sebagian anak memang tinggal tanpa ayah di rumah, tetapi sebagian lainnya tetap tinggal bersama ayah yang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak memiliki keterlibatan emosional yang cukup dengan anak.Laporan itu juga menyebutkan:“4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah.”dan“11,5 juta anak tinggal bersama ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam per minggu.”Data tersebut memperlihatkan bahwa fatherless bukan hanya tentang kehilangan ayah karena perceraian atau kematian, tetapi juga tentang hilangnya kedekatan emosional akibat tekanan ekonomi, budaya kerja, dan pola pengasuhan yang masih menganggap ayah hanya bertugas mencari nafkah.Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan emosional ayah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak. Michael E. Lamb dalam The Role of the Father in Child Development (2010) menjelaskan:“Ayah merupakan pihak yang berperan penting dalam perkembangan anak-anak mereka.”Kutipan tersebut menegaskan bahwa ayah memiliki kontribusi penting dalam perkembangan anak, bukan hanya secara ekonomi tetapi juga secara emosional, sosial, dan psikologis.Luka Emosional yang Tidak Selalu DisadariAnak yang tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan ayah sering kali mengalami kekosongan batin yang sulit dijelaskan. Mereka mungkin tampak baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya menyimpan rasa ditolak, tidak dicintai, atau merasa tidak cukup berharga.Sara McLanahan dan Gary Sandefur dalam buku Growing Up with a Single Parent: What Hurts, What Helps (1994) menjelaskan bahwa anak yang tumbuh tanpa salah satu orang tua biologis memiliki risiko lebih besar mengalami berbagai masalah perkembangan. Mereka menulis:“Anak-anak yang tumbuh dalam rumah tangga dengan hanya satu orang tua biologis, secara rata-rata berada dalam kondisi yang kurang baik dibandingkan anak-anak yang tumbuh dalam rumah tangga dengan dua orang tua biologis.”Kutipan tersebut menunjukkan bahwa secara rata-rata, anak yang tumbuh hanya dengan satu orang tua biologis menghadapi tantangan perkembangan yang lebih berat dibanding anak yang tumbuh bersama kedua orang tua. Namun, penting dipahami bahwa persoalannya bukan semata-mata karena tidak adanya laki-laki di rumah, melainkan karena hilangnya dukungan emosional, perhatian, stabilitas, dan keterlibatan pengasuhan yang biasanya ikut hilang ketika sosok ayah tidak hadir.Luka emosional akibat fatherless sering muncul dalam bentuk yang tidak disadari. Ada anak yang tumbuh menjadi pribadi sangat tertutup karena sejak kecil merasa emosinya tidak pernah didengar. Ada yang menjadi terlalu haus validasi karena tidak pernah mendapatkan pengakuan dari ayahnya. Ada juga yang kesulitan mempercayai orang lain karena pengalaman kehilangan membuatnya takut ditinggalkan lagi.Selain itu, kondisi fatherless juga dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Banyak anak yang tumbuh dengan perasaan harus selalu kuat sendiri karena sejak kecil terbiasa menghadapi masalah tanpa dukungan emosional dari ayah. Akibatnya, mereka sering kesulitan meminta bantuan, sulit terbuka tentang perasaan, atau merasa dirinya tidak layak dicintai.Dalam kehidupan sehari-hari, luka emosional ini kadang muncul dalam bentuk yang sederhana tetapi berpengaruh besar. Misalnya mudah merasa cemas ketika diabaikan, takut kehilangan orang terdekat, terlalu bergantung pada validasi pasangan, atau justru menghindari hubungan emosional karena takut kecewa lagi.Tidak sedikit pula anak fatherless yang tumbuh dengan pertanyaan di dalam dirinya, seperti “Apakah aku tidak cukup berharga?” atau “Kenapa aku tidak dipilih untuk dicintai sepenuhnya?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering terbawa hingga dewasa apabila luka emosionalnya tidak dipahami dan diproses dengan baik.Karena itu, fatherless bukan hanya persoalan keluarga, tetapi juga persoalan kesehatan mental dan sosial. Luka emosional yang tidak ditangani dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.Fatherless Tidak Selalu Berarti Ayah Tidak AdaBanyak orang mengira fatherless hanya terjadi ketika ayah meninggal atau meninggalkan keluarga. Padahal, seorang anak juga bisa merasa fatherless meskipun ayahnya tinggal serumah setiap hari.Kondisi ini sering disebut sebagai emotionally absent father, yaitu ayah yang hadir secara fisik tetapi tidak benar-benar terlibat secara emosional. Misalnya, ayah yang tidak pernah mendengarkan cerita anak, tidak pernah memberi dukungan emosional, terlalu otoriter, mudah meremehkan perasaan anak, atau hanya hadir sebagai sosok yang ditakuti.Anak yang tumbuh dalam kondisi seperti ini sering merasa kesepian meskipun rumahnya terlihat utuh. Mereka belajar memendam emosi sendiri karena merasa tidak punya tempat aman untuk bercerita. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental, kepercayaan diri, bahkan kemampuan mengelola emosi.Michael E. Lamb juga menjelaskan bahwa kualitas hubungan ayah dengan anak jauh lebih penting dibanding sekadar keberadaan fisik semata. Kehadiran emosional ayah berpengaruh terhadap perkembangan sosial dan psikologis anak.Karena itu, menjadi ayah bukan hanya tentang berada di rumah atau memberi nafkah, tetapi juga tentang membangun hubungan emosional yang sehat dengan anak.Dampak Fatherless pada Anak Perempuan dan Laki-LakiLuka emosional akibat fatherless bisa muncul berbeda pada setiap anak. Anak perempuan misalnya, sering tumbuh dengan kebutuhan validasi yang tinggi karena sejak kecil kurang mendapatkan rasa aman dan penghargaan dari figur ayah. Sebagian menjadi sangat takut ditinggalkan dalam hubungan, sementara sebagian lain justru sulit percaya pada laki-laki.Di sisi lain, anak laki-laki yang kehilangan figur ayah kadang mengalami kebingungan dalam membangun identitas diri. Mereka mungkin kesulitan mengekspresikan emosi secara sehat karena tidak memiliki contoh hubungan emosional yang baik. Sebagian tumbuh dengan kemarahan yang dipendam, sebagian lagi merasa harus terlihat kuat setiap saat karena sejak kecil tidak pernah diajarkan cara mengelola emosi.Michael E. Lamb dalam buku The Role of the Father in Child Development (2010) juga menjelaskan:“Keterlibatan ayah yang positif berkaitan dengan perkembangan sosial, emosional, dan kognitif yang positif pada anak.”Kutipan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan ayah yang positif memiliki hubungan erat dengan perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak. Artinya, kehadiran emosional ayah tidak hanya memengaruhi hubungan keluarga, tetapi juga membentuk rasa percaya diri, kestabilan emosi, serta kemampuan anak membangun hubungan sosial yang sehat di masa depan.Namun, penting dipahami bahwa tidak semua anak fatherless pasti rusak atau gagal dalam hidupnya. Banyak anak tetap tumbuh menjadi pribadi yang sehat, kuat, dan berhasil karena mendapatkan dukungan dari ibu, keluarga, teman, guru, atau lingkungan yang baik.Yang menjadi persoalan bukan semata kehilangan ayah, tetapi ketika kehilangan itu disertai pengabaian emosional dan tidak adanya dukungan psikologis yang memadai.Michael E. Lamb juga menjelaskan bahwa kualitas hubungan ayah dengan anak jauh lebih penting dibanding sekadar keberadaan biologis semata. Ia menulis:“Kualitas hubungan antara ayah dan anak lebih penting daripada banyaknya waktu yang dihabiskan ayah bersama anak-anak mereka.”Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa yang paling dibutuhkan anak sebenarnya bukan hanya kehadiran fisik ayah, tetapi kualitas hubungan emosional yang hangat, sehat, dan penuh keterlibatan.Pentingnya Memutus Rantai LukaSalah satu hal paling menyedihkan dari luka emosional adalah kenyataan bahwa luka itu sering diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Banyak orang tua sebenarnya tidak berniat menyakiti anaknya, tetapi mereka tumbuh dengan kekosongan emosional yang sama dan tidak pernah belajar bagaimana mengekspresikan kasih sayang secara sehat.Dalam budaya patriarki, laki-laki sering dibesarkan dengan tuntutan untuk selalu kuat, tidak boleh menangis, dan harus memendam emosinya sendiri. Akibatnya, banyak ayah hadir hanya sebagai pencari nafkah, tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional dalam kehidupan anaknya. Padahal, anak tidak hanya membutuhkan kebutuhan materi, tetapi juga perhatian, dukungan, pelukan, dan rasa aman dari sosok ayahnya.Ayah yang sejak kecil tidak pernah mendapatkan kedekatan emosional sering kali tumbuh menjadi pribadi yang sulit menunjukkan kasih sayang kepada anaknya sendiri. Bukan karena mereka tidak mencintai anaknya, tetapi karena mereka sendiri tidak pernah diajarkan bagaimana cara mencintai secara sehat. Akibatnya, luka emosional itu terus berulang dan diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.Karena itu, memutus rantai fatherless bukan hanya soal menghadirkan ayah di rumah, tetapi menghadirkan ayah di hati anaknya. Anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Anak hanya membutuhkan sosok yang mau hadir, mendengar, memahami, dan membuat mereka merasa dicintai serta berharga.Pada akhirnya, kehadiran emosional seorang ayah memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan anak. Sebab luka terbesar dalam hidup seseorang sering kali bukan berasal dari kebencian, melainkan dari perasaan tidak dianggap, tidak didengar, dan tidak dicintai oleh orang yang paling diharapkan kehadirannya.