● Marapthon, acara livestreaming nonstop Reza Arap dan AAA Clan digadang menjadi acara nomor 1.● Tak hanya secara nasional, jumlah penontonnya juga mengalahkan kanal populer seperti IShowSpeed.● Banyak hal yang bisa dipelajari dari Marapthon untuk menginspirasi kreator konten lainnya.Marapthon, acara livestream nonstop yang digawangi kreator konten Reza Oktovian (Reza Arap) dan teman-temannya AAA Clan, dalam waktu singkat menjelma menjadi fenomena internet yang sensasional. Sejak season pertama akhir 2024 lalu hingga season 3 yang rampung kemarin, puluhan juta orang rela menyaksikan “subathon” ini di kanal YouTube YB.Subathon adalah kependekan dari subscribe marathon. Pada dasarnya, ini merupakan tantangan bagi streamer untuk menggelar siaran langsungnya berdasarkan jumlah penonton dan subscribers yang mereka raih secara real-time.Secara kasat mata, format acara Marapthon hanya berupa ngalor-ngidul ala obrolan warung kopi. Lalu para pesohor dan tokoh, mulai dari musisi lokal seperti Ariel Noah, musisi internasional seperti Rich Bryan, hingga praktisi medis senior seperti dr Boyke berkenan berpartisipasi. Marapthon diklaim telah menjadi acara livestream dengan penonton real-time terbanyak yang bahkan mengalahkan kanal IshowSpeed. Rataan rendah Marapthon ditonton langsung oleh puluhan ribu orang dan dengan rekor tertinggi 800 ribu lebih. Traffic tinggi memang fundamental dalam internet. Itulah yang membuat Marapthon bisa fenomenal dan sensasional. Namun, tentunya banyak faktor di dalamnya yang bisa kita ulas bersama. Baca juga: Tidak melulu soal metrik, menggaet ‘influencer’ perlu pendekatan personal, kebebasan, dan kepercayaan Keunikan dalam mengemas acaraFaktor Reza Oktovian yang memiliki basis jutaan pengikut di bidang gim, musik, gaya hidup, dan hiburan memang penting, tapi bukan segalanya. Diperlukan faktor teknis penunjang agar acara ini bisa sebesar sekarang.Marapthon menjadi fenomenal karena ia menggabungkan sensasi live, ketidakpastian momen, partisipasi penonton, dan ekosistem klip lintas platform.Studi tentang liveness, menjelaskan konsep siaran langsung bukan hanya teknis siaran berlangsung real-time. Konsep tersebut juga tentang klaim bahwa penonton sedang mengakses sesuatu yang terjadi saat ini dan, karena itu, layak diikuti sekarang juga.Yang membedakan adalah Marapthon bekerja dengan tidak menawarkan narasi dan settingan yang rapi layaknya acara di televisi. Banyak momennya justru terlihat spontan, acak, dan sehari-hari. Misalnya obrolan panjang, candaan internal, tamu yang datang, permainan, momen emosional, konflik kecil, hingga bagian-bagian yang mungkin terasa biasa saja bercampur menjadi satu.Justru ketidakpastian itulah yang menjadi daya tariknya. Hanya berpegangan dengan jadwal live saja, penonton merasa selalu ada kemungkinan sesuatu terjadi sekarang: tamu muncul, peristiwa lucu meledak, percakapan berubah arah, perkelahian, dan momen kecil lainnya. Baca juga: Kecerdikan KitKat ubah krisis perampokan jadi ‘super campaign’ Ibarat menonton siaran langsung sepak bola, orang menantikannya karena selalu ada kemungkinan dan drama yang mungkin terjadi. Kesan bahwa sesuatu terjadi secara langsung dan tidak sepenuhnya dapat diprediksi itulah yang efektif memantik rasa penasaran orang.Penonton menjadi bagian yang tak bisa dilepaskanMarapthon adalah peristiwa media yang unik karena diramaikan oleh para penontonnya sebagai bagian dari acara. Dari acara ini, kita melihat hubungan antara host dan penonton dalam livestream dapat membentuk keterikatan emosional dan rasa komunitas yang kuat. Penonton menonton siaran sambil mengomentari momen tertentu, memotongnya menjadi klip, menyebarkannya, memperdebatkannya, bahkan cekcok dengan para host. Semua itu justru menjadikannya bagian dari percakapan publik.Siaran utama hanya berfungsi seperti mesin produksi momen. Setelah itu, berbagai potongan momen bergerak ke platform lain: dipotong, diberi konteks baru, dikomentari, diperdebatkan, lalu disebarkan ulang. Suatu ketika, seorang member AAA clan mendadak diminta melakukan IRL di Singapore. Dinamika ini disebut spreadable media, yaitu media digital tidak hanya beredar karena didistribusikan oleh produsen, tetapi karena audiens ikut menyebarkan, menilai, memaknai, dan mengalirkannya ke jaringan mereka sendiri.Di sinilah Marapthon menjadi menarik. Ia tidak sebatas acara yang ditonton, tetapi juga peristiwa yang terus diproduksi ulang oleh penontonnya melalui klip, komentar, meme, dan percakapan lintas platform. Baca juga: Akibat kebelet viral, tempat wisata potensial kerap layu sebelum berkembang Bukan donasi biasaKita tak perlu lagi membahas perputaran cuan jika melihat besarnya traffic dan perhatian masyarakat pada siaran langsung ini. Bisa dipastikan ada antrean panjang brand dan sponsor yang ingin masuk ke dalam Marapthon.Namun, dimensi ekonomi yang menarik kita ulas adalah donasi. Dalam livestream, donasi tidak selalu hanya berfungsi sebagai dukungan kepada kreator tapi juga memberi peluang para donatur untuk mendapatkan visibilitas. Semakin banyak komentar, klik, durasi menonton, dan interaksi penonton semakin besar juga nilai bagi platform. Acara ini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga pasar perhatian: perhatian host dan audiens menjadi komoditas yang bisa diperebutkan, dibeli, dan dimanfaatkan untuk promosi.Dengan minimal Rp10 ribu, sebuah donasi ditampilkan secara real-time saat siaran berlangsung. Jika kamu memiliki sedikit modal sedikitnya Rp1 juta, donasimu akan dibacakan langsung oleh para host. Tentunya ini jadi aksi promosi yang murah bukan? Baca juga: Masa depan pemasaran produk mewah: Langkah berani YSL ikut ‘live commerce’ Fenomena ini memperlihatkan bagaimana batas antara hiburan, komunitas, dan iklan semakin kabur dalam livestreaming. Donasi yang tampak personal bisa sekaligus menjadi strategi promosi yang terlihat spontan tapi membawa kepentingan komersial. Dengan demikian, ekonomi Marapthon tidak hanya bergerak melalui platform dan kreator, tetapi juga melalui penonton yang ikut membeli visibilitas di tengah keramaian yang tercipta.Apakah akan ada yang menggeser Marapthon?Apakah akan ada livestream lain yang mampu mengulang, bahkan melampaui Marapthon? Peluang itu pasti ada melihat kreativitas kreator konten dan besarnya basis penonton potensial di Indonesia.Yang membuat Marapthon fenomenal adalah kombinasi antara beberapa hal: figur yang sudah memiliki basis penggemar, format yang terbuka terhadap kejutan, komunitas yang aktif, ekosistem klip lintas platform, kemampuan menciptakan percakapan publik, dan momentum yang tepat. Baca juga: Tak hanya ‘followers’, kreator konten juga perlu edukasi literasi digital Kini livestream bisa menjadi peristiwa budaya populer. Di era platform, yang membuat sebuah tontonan besar bukan hanya apa yang terjadi di layar, tetapi juga bagaimana publik ikut menjadikannya peristiwa.Ke depannya tinggal bagaimana para kreator konten bisa menyajikan tema dan keseruan baru bagi penonton. Dan yang tidak kalah penting adalah konsistensi dan ketahanan agar bisa terus terlihat, relevan, dan dikenali dalam ekonomi perhatian digital.Jusuf Ariz Wahyuono tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.