Dokter Sarankan Jemaah Haji Bawa 'Apotek Mini' saat Armuzna

Wait 5 sec.

Ilustrasi Jemaah Haji. Foto: Cindhyade/ShutterstockMenjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), jemaah haji Indonesia diimbau menyiapkan “apotek mini” pribadi di dalam tas kecil yang selalu dibawa selama perjalanan ibadah.Imbauan tersebut disampaikan dokter yang tergabung dalam petugas haji Indonesia, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, untuk membantu jemaah tetap sehat dan mandiri di tengah kondisi Armuzna yang padat dan penuh aktivitas fisik.Menurut dr Fathi, saat pemberangkatan menuju Armuzna, koper besar jemaah akan ditinggal di hotel sehingga jemaah hanya membawa tas ransel berisi perlengkapan penting. Perlengkapan kesehatan pribadi menjadi sangat krusial untuk mengantisipasi kondisi darurat selama perjalanan.“Di Armuzna, kepadatan jemaah sangat tinggi dan jarak menuju pos kesehatan bisa terasa jauh. Karena itu jemaah sebaiknya memiliki P3K mandiri agar keluhan ringan bisa segera ditangani sebelum menjadi berat,” ujarnya, Rabu (20/5).Ia menjelaskan, salah satu perlengkapan terpenting yang wajib dibawa adalah oralit. Menurutnya, cuaca panas ekstrem saat Armuzna membuat risiko dehidrasi sangat tinggi, terutama bagi jemaah lansia.“Oralit ini bisa menjadi penyelamat saat tubuh mulai lemas, pusing, atau kehilangan cairan akibat panas,” jelasnya.Jemaah juga dianjurkan membawa pelembap berbahan petroleum jelly tanpa parfum untuk mencegah lecet pada paha dan tumit akibat berjalan jauh menuju lokasi lontar jumrah.“Lecet kecil bisa menjadi masalah besar saat Armuzna karena jemaah harus banyak berjalan kaki,” katanya.Untuk mengatasi keluhan umum seperti sakit kepala, pegal, atau demam ringan, jemaah juga disarankan membawa obat pereda nyeri seperti parasetamol yang dinilai relatif aman bagi kebanyakan orang.Dokter Fathi juga mengingatkan pentingnya membawa obat rutin pribadi dengan stok minimal lima hingga enam hari. Obat tersebut harus disimpan di tas Armuzna, bukan di koper besar yang ditinggal di hotel.“Jangan sampai obat rutin tertinggal. Ini sangat penting terutama bagi jemaah yang memiliki penyakit bawaan,” tegasnya.Selain itu, perlengkapan sederhana seperti plester luka, obat maag, obat diare, hingga minyak kayu putih atau aromaterapi juga dianjurkan tersedia di dalam tas kecil jemaah.Menurutnya, perubahan pola makan, kelelahan, serta kondisi cuaca dan kerumunan massa bisa memicu berbagai gangguan kesehatan ringan selama puncak haji.Tak kalah penting, dr Fathi meminta jemaah mengemas seluruh obat dalam plastik klip bening agar aman dari air dan mudah ditemukan saat kondisi darurat.Ia juga menyarankan setiap jemaah membawa botol semprot air untuk membantu menurunkan suhu tubuh ketika terpapar panas matahari di Armuzna.“P3K mandiri ini menjadi salah satu bekal penting agar jemaah tetap sehat, kuat, dan mandiri selama menjalani puncak ibadah haji,” pungkasnya.