Dok: AIAda satu adegan kecil dalam Dilan ITB 1997 yang terasa sederhana, tetapi justru menjadi kritikan bagi realitas pendidikan hari ini. Dilan duduk di kantin kampus, berbincang santai, menulis, lalu tertawa bersama kawan-kawannya. Tidak ada kepanikan tentang sertifikasi, deadline magang, atau ketakutan menjadi pengangguran setelah wisuda. Kampus dalam dunia Dilan adalah ruang hidup di mana manusia bertumbuh sebelum dijadikan "produk siap kerja."Namun pertanyaan sederhana sekaligus mengusik kemapanan kita: masihkah kampus tanah air hari ini mampu melahirkan sosok seperti Dilan? Jawabannya mungkin tidak nyaman. Karena jika Dilan hidup di zaman sekarang, besar kemungkinan ia justru dianggap sebagai mahasiswa bermasalah. Terlalu santai. Kurang Kompetitif. Tidak agresif membangun personal branding. Bahkan mungkin akan dicap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Di sini, film Dilan ITB 1997 menjadi menarik karena ia menghadirkan kampus bukan sebagai mesin produksi, melainkan sebagai ruang hidup. Apakah yang ditampilkan Dilan merupakan masa lalu yang ideal, atau sekadar ilusi yang mengelabuhi krisis hari ini?Kampus Hari ini: Pabrik Gelar dengan Aroma Ketakutan Ada perubahan besar yang jarang disadari dalam dunia pendidikan tinggi kita: kampus tidak lagi menjual ilmu, tetapi menjual rasa aman. Mahasiswa masuk universitas bukan lagi untuk mencari pengetahuan, melainkan membeli harapan agar tidak menganggur. Orang tua tidak lagi bertanya, "Apa yang ingin kamu pelajari?" Mereka bertanya, "Jurusan apa yang cepat dapat kerja?" Akibatnya, universitas perlahan berubah fungsi. Ia tidak lagi diperlakukan sebagai ruang intelektual, tetapi sebagai pabrik legitimasi ekonomi. IPK menjadi mata uang. Sertifikat menjadi komoditas. Organisasi kampus berubah menjadi portofolio LinkedIn. Bahkan magang yang dulu dimaksudkan sebagai proses belajar kini berubah menjadi perlombaan mencari validasi industri. Ironisnya, semua itu dilakukan dalam suasana ketakutan kolektif. Takut tertinggal. Takut tidak relevan. Takut tidak diterima pasar kerja. Dan ketakutan itu dipelihara terus-menerus oleh sistem. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per awal tahun 2026 memperlihatkan hal tersebut. Tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi berada pada kisaran 5,25-6,04%. Angka ini kerap dipakai dalam menjustifikasi kegagalan sebuah pendidikan tinggi dalam menghasilkan lulusan "siap pakai." Lalu muncullah solusi yang terdengar heroik: tutup prodi yang dianggap tidak relevan. Masalahnya, solusi itu terlalu malas untuk disebut sebagai solusi. Menutup Prodi: Cara Cepat Menyembunyikan Kegagalan Negara Wacana penutupan prodi terdengar tegas di permukaan. Negara tampak hadir. Pemerintah kelihatan bekerja. Tetapi semakin keras sebuah kebijakan terdengar, sering kali semakin dangkal fondasi berpikirnya. Logika penutupan prodi dibangun dari asumsi sederhana: jika lulusannya sulit mendapat pekerjaan, berarti prodinya gagal. Padahal persoalannya jauh lebih kompleks. Coba kita jujur. Apakah pengangguran sarjana murni disebabkan oleh kurikulum? Tidak sepenuhnya. Masalah utamanya justru terletak pada struktur ekonomi yang gagal menciptakan lapangan kerja berkualitas dalam jumlah cukup. Indonesia setiap tahun memproduksi jutaan lulusan, tetapi pertumbuhan industri strategis berjalan lambat. Akibatnya, banyak sarjana akhirnya bekerja di sektor yang tidak sesuai dengan bidangnya. Ini bukan sekedar skills mismatch. Ini adalah system mismatch. Namun alih-alih membenahi struktur ekonomi, negara justru memilih jalan paling mudah yakni menyalahkan kampus. Prodi dianggap seperti produk gagal di pasar swalayan. Jika tidak laku, tinggal ditarik dari rak. Selesai. Padahal pendidikan bukanlah supermarket. Ia bukan pula tempat menjual barang berdasarkan tren musiman. Jika logika pasar diterapkan sepenuhnya, maka filsafat, sastra, sejarah, bahkan ilmu sosial akan dianggap tidak penting karena tidak menghasilkan keuntungan cepat. Di sinilah bahaya terbesar pendidikan hari ini: nilai ilmu diukur berdasarkan kecepatan menghasilkan uang. Kalau Dilan kuliah sekarang dan memilih sastra atau seni, mungkin kampus sendiri akan menyuruhnya pindah jurusan demi "masa depan." Bukan karena ia bodoh, tetapi karena sistem tidak lagi punya kesabaran terhadap proses berpikir yang tidak bisa diukur secara instan. Dari Ruang Diskusi ke Ruang Distribusi Krisis pendidikan tinggi semakin terlihat ketika kampus mulai dibebani fungsi-fungsi yang bahkan tidak berkaitan langsung dengan pendidikan. Institusi yang seharusnya memfokuskan dirinya pada pendidikan, riset, pengembangan ilmu, dan pembentukan intelektual justru dialihkan menjadi perpanjangan tangan birokrasi operasional. Bayangkan perubahan simboliknya. Kantin dalam dunia Dilan adalah ruang percakapan. Tempat lahirnya ide, candaan, puisi, bahkan keresahan politik. Kampus perlahan kehilangan identitasnya sebagai ruang berpikir dan berubah menjadi ruang administrasi. Yang lebih berbahaya, perubahan ini dinormalisasi atas nama "kontribusi sosial." Padahal kontribusi universitas seharusnya hadir melalui riset, inovasi, atau pengembangan kebijakan berbasis data. Bukannya dengan menjadi dapur raksasa negara. Apabila tren ini berlanjut, kampus akan dikenal sebagai tempat pelaksanaan program dan tidak lagi menjadi tempat lahirnya ide-ide. Dilan tidak akan menulis lagi puisi di sana. Mungkin ia sibuk mengatur distribusi bahan makanan dengan motor andalannya.Dilan dan Generasi yang Kehilangan Waktu untuk Berpikir Ada alasan mengapa publik begitu emosional menyambut film Dilan ITB 1997. Bukan semata karena nostalgia atau romansa. Film itu menghadirkan sesuatu yang mulai langka: manusia yang punya waktu untuk merenung dan berpikir. Hari ini mahasiswa hidup dalam ritme yang bisa dibilang brutal. Mereka dipaksa produktif bahkan sebelum memahami dirinya sendiri. Kuliah harus cepat. Magang harus banyak. Relasi harus strategis. Semua harus punya nilai tukar. Mahasiswa tidak lagi diberi ruang untuk gagal secara intelektual. Padahal justru dari kegagalan itulah pemikiran lahir. Dilan menjadi simbol dari sesuatu yang hilang: keberanian untuk tidak selalu terburu-buru menjadi "berguna." Dan mungkin inilah ironi terbesar pendidikan kita hari ini. Kampus sibuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja, tetapi lupa mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan. Mereka dilatih menjadi kompetitif, tetapi tidak diajarkan memahami kecemasan. Mereka diajarkan menjadi adaptif, tetapi tidak diajarkan berpikir kritis terhadap sistem yang memaksa mereka terus beradaptasi. Akibatnya, kampus menghasilkan lulusan yang cakap bekerja, tetapi mudah lelah secara mental. Pintar berbicara di ruang wawancara, tetapi bingung memahami dirinya sendiri. Pendidikan yang Kehilangan Imajinasi Masalah terbesar pendidikan tinggi tanah air sebenarnya bukan soal kurikulum, bukan soal akreditasi, bahkan bukan soal pengangguran. Masalah terbesarnya adalah hilangnya imajinasi tentang tujuan pendidikan itu sendiri. Kampus tidak lagi membayangkan manusia seperti apa yang ingin dibentuk. Yang dipikirkan hanya lulusan seperti apa yang cepat diserap pasar. Ini sebabnya kebijakan pendidikan kita selalu reaktif. Setiap pergantian menteri berganti jargon. Link and match, Merdeka Belajar, digitalisasi, hilirisasi, AI. Semuanya terdengar modern, tetapi tidak pernah menyentuh pertanyaan paling dasar: Untuk apa sebenarnya pendidikan tinggi ada? Jika jawabannya hanya untuk memenuhi pasar kerja, maka universitas tidak lagi berbeda dengan balai pelatihan kerja. Dan jika itu terjadi, maka Dilan memang tidak akan punya tempat di kampus hari ini. Bukan karena ia tidak cerdas, tetapi karena sistem tidak lagi menghargai manusia yang berpikir di luar angka. Pada titik tersebut, kampus mungkin masih berdiri megah. Gedungnya semakin modern. Teknologinya semakin canggih. Tetapi jiwanya sudah lama hilang.