Bos CIA Datangi Kuba Saat Negara Itu Kehabisan BBM

Wait 5 sec.

Direktur CIA John Ratcliffe berbicara mengenai konflik di Iran di Ruang Konferensi Pers James S. Brady, Gedung Putih, Washington, DC (6/4/2026). Foto: Saul Loeb/AFPBos CIA, John Ratcliffe, mengunjungi Kuba pada Kamis (14/5). Kunjungan ini dilakukan di tengah pengumuman Kuba bahwa negara itu kehabisan BBM.AS dan Kuba merupakan dua negara yang terlibat konflik berkepanjangan selama beberapa dekade. Sebagai badan intelijen resmi AS, CIA berada di jantung utama konflik kedua negara tersebut.Informasi mengenai lawatan Ratcliffe dikonfirmasi langsung oleh CIA. Berdasarkan sejumlah foto yang beredar di media sosial X, Ratcliffe didampingi sejumlah pejabat saat menemui bos intelijen Kuba, Romero Curbelo.Kedatangan Ratcliffe berlangsung ketika Kuba mengalami pemadaman listrik berkepanjangan. Blokade BBM yang diperintahkan Presiden AS Donald Trump disebut menjadi pemicu kondisi gelap gulita di negara tersebut.Kuba telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi krisis BBM. Namun, sejauh ini baru satu tanker BBM dari Rusia yang berhasil masuk ke Kuba.“BBM sudah habis. Dampak blokade memang menyebabkan kerugian signifikan bagi kami karena kami belum bisa memperoleh bahan bakar,” kata Menteri Energi Kuba Vicente de la O Levy, seperti dikutip dari AFP.Di saat bersamaan, Trump berulang kali menegaskan akan menumbangkan rezim komunis di Kuba.Terbaru, pemerintahan Trump disebut mencoba mendakwa adik mantan pemimpin Kuba, Fidel Castro, yakni Raul Castro, dengan berbagai tuduhan.Meski mendapat tekanan dari AS, Pemerintah Kuba memandang lawatan Ratcliffe sebagai upaya meredakan ketegangan kedua negara.“Pertemuan dengan Ratcliffe berlangsung dalam konteks yang ditandai oleh kompleksitas hubungan bilateral, dengan tujuan untuk berkontribusi pada dialog politik antara kedua negara,” demikian bunyi pernyataan pemerintah Kuba.“Pertukaran tersebut memungkinkan untuk menunjukkan secara tegas bahwa Kuba bukan ancaman bagi keamanan nasional AS, dan tidak ada alasan sah untuk memasukkannya ke dalam daftar negara yang diduga mensponsori terorisme,” lanjut pernyataan tersebut.