IHSG Potensi Tembus 7.000 Juli Ini, Indikator Baru HSC Direspons Positif Pasar

Wait 5 sec.

Refleksi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/9). Foto: Puspa Perwitasari/ANTARA FOTOIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih memiliki ruang penguatan setelah ditutup di level 6.175 pada perdagangan Jumat (17/7).Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, mengatakan peluang IHSG melanjutkan reli masih terbuka, terutama jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus mereda."Melihat posisi penutupan Jumat kemarin (17 Juli 2026 -red) di level 6.175, saya rasa peluang untuk menyentuh 7.000, apalagi 8.000 di bulan Juli ini probabilitasnya sangat besar, asalkan Selat Hormuz aksesnya terbuka lagi,” jelas Gunarto kepada kumparan, Sabtu (18/7).Menurut Gunarto, terbukanya kembali akses Selat Hormuz akan mendorong penurunan harga minyak dunia, sehingga meningkatkan minat investor global untuk kembali masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia."Aset investasi dari global bakal ke emerging markets lagi seperti Indonesia. Apalagi kita ada euforia dari penetapan rating oleh S&P,” ucapnya. Ilustrasi pergerakan bursam saham. Foto: Jamal Ramadhan/kumparanLebih lanjut, Gunarto menyebut indikator High Shareholding Concentration (HSC) oleh BEI yang menambahkan price impact ratio (PIR) mendapat respons positif, karena mampu meningkatkan kualitas pengawasan pasar."Sejauh ini respons pasar dan para analis cukup positif karena kebijakan ini dianggap memberikan logika pengawasan yang sangat masuk akal,” kata Gunarto.Dia menjelaskan, indikator baru PIR dinilai lebih efektif mendeteksi saham yang terlihat likuid, tetapi sebenarnya memiliki kedalaman pasar (market depth) yang tipis serta kepemilikan yang terkonsentrasi.Menurutnya, dampak penerapan metodologi baru langsung terlihat dengan bertambahnya jumlah emiten yang masuk daftar HSC."Ada 37 emiten baru yang terseret masuk ke daftar High Shareholding Concentration (HSC), menggenapkan totalnya menjadi 51 emiten,” jelasnya.Gunarto juga menilai indikator PIR HSC menjadi peringatan bagi investor untuk lebih berhati-hati dalam menilai likuiditas saham."Pasar merespons ini sebagai warning keras agar lebih jeli menilai likuiditas fundamental suatu saham agar tidak terjebak situasi mudah beli tapi sulit jual,” tutur Gunarto.Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: ShutterstockSementara itu Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai secara teknikal IHSG masih memiliki potensi melanjutkan penguatan sepanjang Juli 2026.Dalam skenario optimistis yang disusun Nafan, IHSG berpeluang menguji level 6.666 sebagai target realistis (wave C), bahkan menuju 7.320 sebagai target optimistis (wave 3).Senada, Nafan juga mengatakan perubahan metodologi HSC seharusnya dipandang sebagai upaya memperkuat integritas pasar modal Indonesia, bukan sebagai sinyal memburuknya kualitas pasar.Kata Nafan, penggunaan indikator PIR membuat mekanisme pengawasan menjadi lebih sensitif, sehingga potensi risiko yang sebelumnya sulit terdeteksi kini dapat diidentifikasi lebih dini."Untuk penerapan indikator price impact ratio lebih tepat dipandang sebagai peningkatan kualitas pengawasan dan transparansi pasar, bukan semata-mata memburuknya kualitas pasar modal Indonesia,” ujar Nafan.Status HSC, kata Nafan, menjadi pertimbangan tambahan bagi investor institusi yang memiliki standar manajemen risiko dan persyaratan likuiditas tertentu."Apabila likuiditas dinilai terbatas, mereka cenderung mengurangi eksposur atau meminta liquidity premium yang lebih tinggi,” kata Nafan.