Perang Dagang Minyak vs Emas: Harga Emas Terjun Bebas Usai AS Blokade Iran di Selat Hormuz

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, INTERNASIONAL – Pasar logam mulia dunia bergejolak. Harga emas yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven justru terjun bebas, tersandung oleh ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Pemicunya: keputusan kontroversial Presiden AS Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz — salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia.Dampaknya langsung terasa. Harga minyak dunia melesat, dan emas justru babak belur.Emas Tembus Level Psikologis, Investor WaswasBerdasarkan data Bloomberg, harga emas spot pada Selasa pagi (14/7/2026) melemah 0,12 persen ke posisi US$3.997 per ons troi — resmi menembus ke bawah level psikologis US$4.000.Namun tekanan sesungguhnya sudah terjadi sehari sebelumnya. Pada perdagangan Senin (13/7/2026) waktu AS, harga emas ambruk hampir 3 persen, ditutup melemah 2,91 persen di US$4.001,13 per ons troi — level terendah sejak 1 Juli 2026. Kontrak emas berjangka AS pun tak luput, turun sekitar 2,6 persen ke US$4.005,7 per ons troi.Iran Klaim Tutup Selat Hormuz, Trump Balas dengan BlokadeKetegangan bermula ketika Teheran mengklaim telah menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak global. Trump merespons dengan memberlakukan blokade terhadap pengiriman kapal Iran melalui selat tersebut.Langkah saling balas ini memicu efek domino: harga minyak dunia melonjak hingga sekitar 9 persen dalam waktu singkat. Lonjakan harga energi inilah yang kemudian menjalar menjadi kekhawatiran inflasi global — dan pada akhirnya, menjadi kabar buruk bagi emas.Kenapa Emas Justru Ikut Terpuruk?Logikanya sederhana: kenaikan harga minyak mendorong ekspektasi inflasi, dan inflasi yang tinggi biasanya direspons bank sentral dengan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Karena emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), kenaikan suku bunga membuat emas kalah menarik dibanding instrumen berbunga.Analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, menegaskan lonjakan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi emas. Ia memperingatkan bahwa jika tren kenaikan minyak berlanjut, tekanan jual terhadap emas berpotensi semakin dalam — bahkan bisa menyeret harga emas turun ke kisaran US$3.800 per ons troi, dengan skenario terburuk menuju US$3.500 per ons troi.Semua Mata Tertuju ke The FedBerdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 75 persen The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September 2026 — sebuah lonjakan ekspektasi yang signifikan.Semua mata kini tertuju pada kesaksian Ketua The Fed, Kevin Warsh, di hadapan Kongres AS pada Selasa waktu setempat. Pernyataannya berpotensi menjadi penentu arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan.Tak hanya itu, sederet data ekonomi penting AS turut dinanti sepanjang pekan ini: inflasi konsumen (CPI), inflasi produsen (PPI), penjualan ritel Juni, hingga klaim tunjangan pengangguran mingguan — semua berpotensi menjadi pemicu volatilitas lanjutan di pasar emas.Bukan Cuma Emas, Logam Mulia Lain Ikut TerkaparEfek domino dari gejolak geopolitik ini tak hanya menghantam emas. Perak spot ambruk sekitar 3,8 persen ke US$57,55 per ons, platinum melemah 1,7 persen ke US$1.599,47 per ons, sementara paladium terkoreksi 2,1 persen ke US$1.249,70 per ons.Sinyal bagi InvestorGejolak harga emas kali ini menjadi pengingat bahwa status safe haven logam mulia bukan jaminan mutlak — terutama ketika konflik geopolitik justru memicu lonjakan inflasi yang direspons agresif oleh kebijakan moneter. Dengan Selat Hormuz masih memanas dan pertemuan The Fed September semakin dekat, arah harga emas dalam beberapa bulan ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana krisis ini berakhir.DYOR (Do Your Own Research): BorneoFlash.com menyajikan informasi harga emas sebagai referensi bagi pembaca. Kami tidak merekomendasikan untuk membeli, menjual, atau menahan emas maupun instrumen investasi lainnya. Seluruh keputusan investasi merupakan tanggung jawab masing-masing investor setelah melakukan riset dan analisis secara mandiri.