Balikpapan Perkuat Antisipasi Kebakaran TPA, Penyaluran Gas Metana ke 380 Rumah Jadi Kunci Pencegahan

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Cuaca panas yang mulai melanda sejumlah wilayah di Indonesia mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Berbeda dengan sejumlah daerah yang mengalami insiden kebakaran TPA, Balikpapan mengandalkan sistem pengelolaan gas metana sebagai langkah utama mitigasi.Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengatakan pemerintah pusat telah meminta seluruh daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau dan potensi dampak El Nino, termasuk ancaman kebakaran di TPA.Menurutnya, kebakaran yang terjadi di sejumlah TPA di daerah lain menjadi pelajaran penting agar langkah mitigasi dilakukan lebih dini."Kita belajar dari kejadian di daerah lain, seperti di Banten, di mana kebakaran berlangsung berhari-hari dan sulit dipadamkan. Kami sudah diminta melakukan mitigasi kewaspadaan terhadap kebakaran TPA," ujarnya.Sudirman menjelaskan, salah satu penyebab utama kebakaran di TPA bukan semata karena suhu udara yang tinggi, melainkan akumulasi gas metana yang terbentuk dari timbunan sampah.Untuk mengurangi risiko tersebut, TPA Manggar telah menerapkan sistem penyaluran gas metana yang dimanfaatkan sebagai energi bagi 380 rumah tangga. Selain itu, DLH juga memasang beberapa titik flare atau pembakaran gas untuk mengurangi penumpukan metana di dalam timbunan sampah."Gas metana inilah yang menjadi penyebab utama kebakaran ketika bertemu suhu panas. Di Balikpapan, gas tersebut sudah kami salurkan ke rumah tangga dan sebagian dibakar melalui flare sehingga penumpukannya bisa dikurangi," jelasnya, pada hari Rabu, 15 Juli 2026.Selain pemanfaatan gas metana, sistem pengelolaan sampah di TPA Manggar juga dinilai lebih aman karena menggunakan metode sanitary landfill, yakni setiap lapisan sampah ditutup dengan tanah. Metode ini berbeda dengan sistem open dumping yang masih digunakan di sejumlah daerah."Kalau open dumping, sampah terus ditumpuk sehingga gas metananya terakumulasi di permukaan. Begitu cuaca sangat panas, potensi terbakar menjadi lebih besar. Di Balikpapan, sampah selalu dilapisi tanah sehingga gas lebih terkendali," katanya.Meski optimistis kondisi TPA Manggar relatif aman, DLH tetap memperketat langkah antisipasi. Seluruh petugas telah diinstruksikan meningkatkan pengawasan, melarang aktivitas pembakaran di sekitar TPA, serta memastikan ketersediaan sumber air apabila sewaktu-waktu diperlukan untuk penanganan awal.Sekitar 40 petugas yang bertugas di TPA juga telah dibekali pelatihan penanggulangan keadaan darurat melalui kerja sama dengan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM)."Kalau terjadi kondisi darurat, petugas kami langsung bergerak melakukan penanganan awal. Setelah itu, bila diperlukan kami akan berkoordinasi dengan BPBD untuk penanganan lanjutan," ujar Sudirman.Ia menambahkan, meski Balikpapan hampir dua pekan tidak diguyur hujan, kondisi TPA masih dalam batas aman. Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan, terutama apabila suhu udara mulai menembus kisaran 32 derajat Celsius seperti yang pernah terjadi pada musim kemarau tahun sebelumnya."Kalau suhu mulai sangat tinggi, kami lakukan pembasahan di beberapa titik. Yang terpenting, sumber gas metananya sudah bisa kami kendalikan sehingga risiko kebakaran dapat diminimalkan," pungkasnya. (*)