Anggota asosiasi memisahkan barang-barang belanjaan ke dalam tas dikirim ke manula secara gratis di Distrik Chinatown-International, di Seattle, AS. Foto: REUTERS/Lindsey WassonJutaan warga Amerika Serikat (AS) terpaksa berutang atau menguras tabungan mereka untuk membeli bahan makanan. Riset terbaru ini menunjukkan tekanan finansial yang dihadapi banyak rumah tangga di tengah meningkatnya biaya hidup.Menurut Urban Institute, lebih dari seperempat orang dewasa usia produktif yang menggunakan kartu kredit untuk membeli bahan makanan tidak mampu melunasi tagihan mereka secara penuh atau bahkan gagal membayar cicilan minimum.Sekitar satu dari 10 orang dewasa mengandalkan pinjaman “buy now, pay later” untuk membeli bahan makanan. Hasil analisis menunjukkan dari kelompok tersebut sekitar sepertiga tercatat pernah menunggak pembayaran sepanjang tahun lalu.Para peneliti pun menuturkan sekitar 20 persen orang dewasa usia produktif juga mengaku telah menggunakan tabungan jangka panjang yang sebenarnya tidak diperuntukkan bagi pengeluaran sehari-hari, seperti dana darurat, setidaknya sekali dalam 12 bulan terakhir untuk membeli bahan makanan.“Keluarga tetap harus makan. Mereka tetap harus memenuhi kebutuhan dasar mereka,” kata salah satu penulis studi, Kassandra Martinchek, dikutip dari CBS News, Rabu (15/7).“Kini mereka juga menghadapi beban tambahan karena harus melunasi utang. Hal itu dapat membatasi kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar di masa depan dan kembali memulihkan kondisi keuangan mereka,” lanjut Martinchek.Urban Institute pun menyampaikan selama lima tahun terakhir, harga bahan makanan telah melonjak 32 persen, menjadikan keterjangkauan pangan sebagai salah satu kekhawatiran utama masyarakat Amerika. Temuan tersebut didasarkan pada survei terhadap 7.500 orang dewasa berusia 18 hingga 64 tahun yang dilakukan pada Desember lalu.Temuan ini juga menegaskan semakin besarnya tekanan terhadap daya beli yang dialami banyak rumah tangga setelah lima tahun mengalami inflasi tinggi. Pada 2026, inflasi kembali meningkat akibat perang Iran yang mendorong kenaikan biaya energi dan mengerek harga konsumen ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.Dalam jajak pendapat CBS News pada Mei lalu, lebih dari tiga perempat warga Amerika mengatakan pendapatan mereka tidak mampu mengimbangi laju inflasi. Data inflasi terbaru juga menunjukkan kenaikan harga lebih cepat dibandingkan pertumbuhan upah, sehingga banyak rumah tangga kehilangan daya beli.Semakin Banyak Warga AS yang Kesulitan MembayarIlustrasi belanja di supermarket. Foto: REUTERS/Eric GaillardWarga AS juga tercatat semakin banyak yang menggunakan kartu kredit untuk membeli bahan makanan, tetapi gagal membayar cicilan minimum yang diperlukan untuk menghindari bunga. Urban Institute menemukan proporsi tersebut meningkat 1,6 poin persentase dibandingkan saat lembaga itu terakhir meneliti isu serupa pada 2023.Meski kenaikannya tampak kecil, angka tersebut mencerminkan jutaan orang tambahan yang mulai mengalami kesulitan keuangan setelah menggunakan utang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.“Artinya, jika melihat keseluruhan populasi Amerika, kini ada jutaan orang lebih banyak yang kesulitan membayar cicilan minimum setelah menggunakan kartu kredit untuk membeli bahan makanan. Hal itu sangat berarti karena tekanan finansial tersebut kini memengaruhi begitu banyak keluarga,” ujar Martinchek.Menurut Nerdwallet, gagal membayar cicilan minimum dapat dikenai denda keterlambatan hingga USD 30 untuk pelanggaran pertama, sedangkan keterlambatan berikutnya dapat dikenai denda hingga USD 41. Konsumen juga dapat dikenai penalty APR, yaitu suku bunga penalti yang mencapai sekitar 30 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata suku bunga kartu kredit saat ini yang sekitar 24 persen.“Meningkatnya jumlah warga Amerika usia produktif yang gagal membayar cicilan minimum jelas merupakan bentuk tekanan finansial yang lebih serius karena sering kali juga disertai suku bunga penalti atau biaya tambahan. Pada akhirnya, ini menjadi sinyal bahwa tekanan finansial terhadap keluarga semakin dalam,” sebut Martinchek.Studi tersebut menemukan sekitar 12 persen orang dewasa berpendapatan rendah dan menengah yang menggunakan kartu kredit untuk membeli bahan makanan gagal membayar cicilan minimum tahun lalu.Angka itu pun tiga kali lebih tinggi dibandingkan kelompok berpendapatan tinggi. Rumah tangga berpenghasilan rendah juga sekitar empat kali lebih mungkin gagal membayar cicilan buy now, pay later dibandingkan rumah tangga berpendapatan tinggi.Selama setahun terakhir, jumlah peserta Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP) atau program bantuan kupon pangan mengalami penurunan tajam setelah Partai Republik mengesahkan One Big Beautiful Bill Act 2025, yang memperkenalkan persyaratan kerja baru bagi penerima manfaat.Hingga Maret lalu, sekitar 37 juta orang masih terdaftar sebagai peserta SNAP, turun hampir 5 juta orang dibandingkan setahun sebelumnya.“Bagi keluarga berpendapatan rendah dan menengah, pengeluaran untuk bahan makanan merupakan porsi yang sangat besar dari anggaran mereka. Jadi ketika harga pangan naik, ruang gerak keuangan mereka menjadi jauh lebih sempit untuk menyesuaikan diri,” tutur Martinchek.