Masayoshi Son, CEO SoftBank. Foto: Sam Yeh/AFPKebutuhan energi untuk menjalankan pusat data (data center) Artificial Intelligence atau AI diperkirakan akan terus melonjak dalam beberapa tahun mendatang. Untuk saat ini, gas alam masih jadi andalan utama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun menurut Chairman sekaligus CEO SoftBank Group Corp., Masayoshi Son, ketergantungan pada gas alam ini hanya soal waktu dan penggantinya sudah mulai terlihat.Son memperkirakan kebutuhan kapasitas data center global bisa mencapai 3 terawatt pada tahun 2040, jauh melampaui kapasitas saat ini. Di titik itulah, ia yakin sumber energi baru akan mengambil alih peran gas alam: fusi nuklir, teknologi yang meniru proses pembentukan energi di matahari dan bintang-bintang."Fusi akan menjadi sumber utama energi baru yang lebih murah, bersih, dan aman di bumi," kata Son (68 tahun) dalam acara tahunan SoftBank World di Tokyo dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/7). Ia bahkan mempertanyakan langsung ketergantungan pada gas alam saat ini. "Apakah tidak masalah kalau kita terus memakai begitu banyak gas? Saya pikir dalam 15 tahun, fusi akan menggantikan posisinya," lanjut Son.Trauma Fukushima jadi Latar Belakang Ilustrasi SoftBank. Foto: ymgerman/ShutterstockSon dikenal lantang menyuarakan sikap menentang ketergantungan pada energi nuklir konvensional (fisi) sejak terjadinya insiden meleburnya reaktor PLTN Fukushima Daiichi milik Tokyo Electric Power Co. pada 2011. Ia melihat fusi nuklir sebagai alternatif yang lebih aman karena secara teori mampu menghasilkan energi besar dengan emisi karbon rendah, limbah radioaktif jangka panjang yang lebih sedikit, dan tanpa risiko reaksi berantai seperti pada reaktor fisi biasa.Belakangan ini, minat investasi terhadap perusahaan-perusahaan pengembang teknologi fusi nuklir terus melonjak. Beberapa perusahaan bahkan sudah mulai beralih dari tahap riset ke pembuatan purwarupa (prototipe). Departemen Energi Amerika Serikat pun telah menetapkan target untuk memperbesar skala teknologi ini pada pertengahan tahun 2030-an.Meski begitu, teknologi ini tetap rumit. Fusi nuklir menjanjikan sumber listrik bersih yang hampir tak terbatas, tetapi baru segelintir negara yang berhasil menguasai prinsip dasarnya.Sebagai perbandingan, gas alam saat ini menyumbang lebih dari seperlima total pembangkitan listrik dunia dan mudah didapat. Namun meski emisi gas alam lebih rendah dibanding minyak atau batu bara, pembakarannya tetap menghasilkan emisi yang berkontribusi terhadap pemanasan global.AI Bukan Sekadar "Bubble"Dalam kesempatan yang sama, Son juga membela besarnya belanja infrastruktur AI yang mencapai ratusan miliar dolar AS. Ia yakin biaya besar tersebut pada akhirnya akan terbayar. "Mempertanyakan apakah AI itu bubble adalah pertanyaan yang sangat bodoh," ujar Son. Menurutnya pertanyaan semacam itu muncul dari orang-orang yang belum benar-benar memahami atau memanfaatkan AI secara maksimal.Son juga memperingatkan jika Jepang gagal menangkap potensi besar AI, negara itu berisiko kehilangan peluang menciptakan kekayaan besar, peluang yang sama yang berhasil melahirkan perusahaan-perusahaan raksasa dunia seperti Google, Amazon, dan Meta.