Seleksi alam yang berbahaya: Evolusi parasit jadi ancaman manusia

Wait 5 sec.

(CDC)● Parasit kini berevolusi lebih cepat akibat ulah manusia.● Pengobatan massal yang berulang tanpa perbaikan sanitasi memicu munculnya parasit kebal.● Indonesia harus memantau perubahan genetik parasit, bukan sekadar menghitung jumlah kasus.Kita sering memperlakukan parasit sebagai masalah teknis. Misalnya, saat kasus malaria tengah meluas, kita mencoba mengendalikan populasinya dengan penyemprotan gas pembunuh nyamuk hingga pengobatan massal.Perlakuan itu memang tidak salah. Namun, di masa depan, cara-cara mengatasi parasit tersebut bisa jadi tidak cukup. Mengapa?Parasit adalah makhluk yang dapat berevolusi di bawah tekanan perubahan iklim, pencemaran, alih fungsi lahan, perdagangan satwa, pertanian intensif, maupun penggunaan obat berulang. Artinya, kemampuan parasit dalam bertahan dan beradaptasi turut berkembang.Inilah pesan penting dari artikel Robert Poulin dan puluhan koleganya di jurnal Evolutionary Applications. Mereka mengingatkan bahwa di era Antroposen (ketika aktivitas manusia mengubah Bumi begitu cepat), sebagian parasit dapat beradaptasi dan berevolusi dalam waktu tidak terlalu lama.Karena itu, kita tidak cukup hanya bertanya: ke mana parasit akan menyebar ketika suhu meningkat? Kita juga perlu bertanya: parasit seperti apa yang sedang terbentuk oleh perubahan lingkungan dan bagaimana cara mengendalikannya?Bagaimana parasit berevolusi?Suhu, hujan, banjir, kekeringan, dan kelembapan dapat memengaruhi siklus hidup parasit serta vektornya. Vektor adalah organisme penular, misalnya nyamuk Anopheles yang dapat membawa parasit malaria dari satu manusia ke manusia lain. Pada kondisi tertentu, tekanan lingkungan dapat menjelma “materi ujian” dalam seleksi alam: parasit yang lebih mungkin bertahan adalah yang lebih tahan terhadap kondisi baru, lebih cepat berkembang, atau lebih efisien menginfeksi inang.Ambil contoh suhu. Pada malaria, suhu memengaruhi daya hidup nyamuk Anopheles dan kemampuan parasit Plasmodium menyelesaikan siklus pertumbuhannya di tubuh nyamuk. Jika suhu cukup hangat, perkembangan parasit di dalam nyamuk bisa berlangsung lebih cepat. Nyamuk yang awalnya tak sempat menularkan parasit sebelum mati, bisa hidup cukup lama untuk menularkannya. Baca juga: 58% penyakit menular manusia dapat diperburuk oleh perubahan iklim – kami menjelajahi 77.000 riset untuk petakan jalurnya Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat menguntungkan parasit atau vektor yang paling sesuai dengan lingkungan baru.Poulin dan koleganya menekankan bahwa evolusi parasit akibat ulah manusia bukan sekadar teori. Salah satu contoh paling dikenal adalah resistansi obat pada parasit malaria. Di banyak tempat, Plasmodium falciparum pernah berubah sehingga obat lama seperti klorokuin dan sulfadoksin-pirimetamin tidak semanjur sebelumnya. Akhirnya banyak negara menggunakan cara pengobatan lain. link Contoh lain datang dari peternakan domba atau kambing. Cacing parasit saluran pencernaan seperti Haemonchus contortus dapat terus beredar ketika obat cacing diberikan berulang tanpa pemeriksaan infeksi, dosis yang tepat, dan perbaikan tata kelola kandang. Cacing yang masih hidup setelah pengobatan berpeluang lebih besar untuk berkembang biak dan meneruskan ‘sifat tangguhnya’.Mengapa ini penting bagi Indonesia?Pengendalian parasit merupakan isu yang sangat dekat dengan kita. Mulai dari puskesmas, sekolah, kandang ternak, kolam budidaya, kawasan pesisir, sanitasi permukiman, hingga wilayah lain yang semakin tertekan oleh perubahan iklim. Dua contoh yang mudah dikenali adalah malaria dan penyakit cacingan. Keduanya cukup akrab bagi masyarakat Indonesia, tetapi perkembangan kasusnya sering kali hanya dilihat dari sisi jumlah kasus, sebaran wilayah, atau program pengobatan. Padahal, keduanya membutuhkan pemantauan parasit yang lebih cermat.Dalam penularan malaria, parasit seperti Plasmodium falciparum tidak bekerja sendirian. Ada suhu, curah hujan, perubahan lingkungan, mobilitas penduduk, kualitas diagnosis, dan kemanjuran obat yang turut menentukan penyebarannya. Baca juga: Malaria di Tanah Papua: Komunikasi lisan kunci percepat pemberantasan penyakit Oleh karena itu, pengendalian malaria akan sulit ampuh jika pemantauan penyakit hanya mengandalkan pencatatan jumlah kasus. Pemantauan juga perlu membaca kemanjuran obat, perubahan pola penularan, serta hubungan antara iklim, lingkungan, dan vektor malaria. Di Papua sebagai daerah dengan kasus malaria tertinggi, misalnya, pembabatan hutan ataupun perpindahan manusia juga perlu dikendalikan karena bisa menjadi salah satu sebab penyebaran nyamuk Anopheles. Adapun dalam kasus cacingan, program pemberian obat cacing memang penting untuk melindungi anak dari infeksi cacing gelang dan cacing cambuk. Namun, infeksi dapat terjadi kembali bila sanitasi buruk, air bersih terbatas, dan kebiasaan hidup bersih belum kuat. Dalam kasus cacing usus manusia, bukti resistansi obat memang belum sekuat pada parasit ternak. Namun, para peneliti mengingatkan pemberian obat massal berulang dapat menjadi ajang seleksi cacing-cacing kebal, sehingga efektivitasnya harus terus dipantau. Baca juga: Ancaman cacingan strongyloidiasis di Kalimantan Selatan: Kebiasaan warga bisa picu penyakit Memantau dari hulu ke hilirSebenarnya dunia telah mengenal pendekatan One Health untuk menekankan bahwa masalah kesehatan tidak hanya terkait pada manusia, melainkan juga hewan dan lingkungan. Misalnya, perburuan satwa liar dan mencegah pembabatan hutan bisa mengurangi munculnya risiko wabah baru seperti COVID-19. Baca juga: Bagaimana memahami pendekatan One Health dari sepotong steak dan pizza di piring kita? Namun, pendekatan One Health juga perlu memasukkan dimensi evolusi karena parasit maupun kuman berbahaya juga bisa berubah. Penyakit akibat makhluk mikroskopis ini bukan hanya berpindah antarruang atau antarspesies.Apa yang bisa kita lakukan?Pertama, memperkuat pemantauan evolusi parasit. Pemantauan tidak boleh hanya mencatat ada atau tidaknya parasit, jumlah kasus, atau cakupan pengobatan. Untuk malaria, kita perlu memantau pola penularan, efektivitas obat, perubahan vektor, dan kaitannya dengan iklim. Sementara untuk kasus cacingan, kita perlu memantau infeksi ulang, sanitasi, kepatuhan minum obat, dan kelompok anak yang paling rentan. Selain itu, kapasitas lab, pemeriksaan genomik, dan penyimpanan sampel parasit juga harus diperkuat agar kita bisa membaca perubahan parasit dari waktu ke waktu. Kedua, memperbaiki tata kelola obat, produksi pangan, dan sanitasi. Obat tetap penting, tetapi penggunaannya perlu tepat dosis, tepat sasaran, dan berbasis diagnosis. Kita harus lebih memperhatikan kondisi lingkungan di peternakan dan perikanan budi daya, biosekuriti, kepadatan hewan, hingga kualitas air. Ketiga, menghubungkan kebijakan kesehatan dengan iklim dan lingkungan. Alih fungsi lahan, pencemaran air, kerusakan habitat, sanitasi buruk, dan perubahan hidrologi dapat mengubah keseimbangan antara manusia, hewan, vektor, dan parasit. Karena itu, menjaga kualitas lingkungan bukan hanya agenda konservasi. Ia juga bagian dari usaha mencegah evolusi parasit menjadi lebih tangguh.Onrizal terafiliasi dengan. 1. Universitas Sumatera Utara,2. Perhimpunan Akademisi dan Saintis Indonesia; ASASI3. Orangutan Information Centre; OIC4. Cendekia Kreatif Indonesia5. Jejaring Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia; APIK Indonesia