Australia Bidik Lebih Banyak Impor Kakao dan Cokelat dari Indonesia

Wait 5 sec.

Seorang petani menujukkan kakao yang mengalami pembusukan buah di Desa Powelua, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Foto: Basri Marzuki/Antara FotoAsisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Matt Thistlethwaite, menyatakan Australia terbuka untuk kembali mengimpor kakao beserta produk turunannya dari Indonesia.Thistlethwaite mengatakan rata-rata masyarakat Australia mengkonsumsi sekitar 6 kilogram cokelat per orang setiap tahun. Secara keseluruhan, konsumsi cokelat di Australia mencapai sekitar 160 ribu ton per tahun.“Namun yang menarik, Australia hampir tidak memproduksi kakao sendiri. Kami hanya memiliki sedikit perkebunan kakao yang terkonsentrasi di wilayah Utara Australia, tepatnya di Queensland,” sebut Thistlethwaite dalam acara peluncuran Katalis 2.0 di Raffles Jakarta, Senin (13/7).Karena itu, ia mengatakan Australia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi cokelat. Biji kakao di impor dari Peru, Papua Nugini, dan sejumlah negara di Afrika, sementara produk cokelat olahan didatangkan dari Eropa dan negara lainnya.Thistlethwaite pun mengatakan Australia juga mengimpor biji kakao, cocoa butter, dan cocoa paste dari Indonesia. Oleh karena itu, ia menilai perdagangan kakao antara kedua negara seharusnya dapat terus diperluas.“Kami ingin meningkatkan impor (kakao dan cokelat) tersebut. Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di kawasan sekaligus produsen kakao terbesar keenam di dunia. Oleh karena itu, seharusnya kita dapat melakukan lebih banyak kerja sama,” tutur Thistlethwaite.Menurutnya, hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara telah terjalin selama puluhan tahun, kuat, mendalam, dan diyakini akan semakin erat seiring dimulainya fase baru kerja sama dengan meningkatkan perdagangan dengan satu sama lain.Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, mengatakan Indonesia kini tidak hanya mengekspor bahan baku kakao, tetapi juga telah mampu menghasilkan produk cokelat premium melalui proses hilirisasi.“Kini mampu menghasilkan produk cokelat premium yang kemudian kami ekspor ke berbagai negara, salah satunya Australia,” sebut wanita yang biasa dipanggil Roro dalam kesempatan yang sama.Menurut Roro, keberhasilan Indonesia dalam menghasilkan produk cokelat premium itu merupakan salah satu contoh kolaborasi yang dapat terus diperluas dan diperkuat pada masa mendatang.“Setidaknya kerja sama dalam konteks yang lebih luas,” ucap Roro.Adapun Indonesia dan Australia secara resmi meluncurkan Katalis 2.0 pada Senin (13/7), program baru di bawah Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA). Program ini bertujuan untuk memperkuat perdagangan dan investasi secara dua arah dan melanjutkan program Katalis 1.0.Nilai perdagangan barang antara kedua negara meningkat dari USD 7,2 miliar pada 2020 menjadi sekitar USD 13 miliar pada 2025. Kata Thistlethwaite, pemerintah Australia melalui fase baru program ini akan mengalokasikan dana sebesar AUD 40 juta dolar.