Akses pendidikan bagi anak buruh sawit di kawasan pedalaman Malaysia masih dibayangi tantangan besar. Himpitan ekonomi dan keterbatasan fasilitas sering kali memaksa para Pekerja Migran Indonesia (PMI) menyudahi sekolah anak mereka sejak usia dini demi membantu bekerja di ladang. Berikut adalah catatan emosional dan kisah nyata seorang anak buruh migran yang berjuang merajut asa di tengah perkebunan pohon kelapa sawit Giram, Kunak, Sabah, Malaysia.Sumber: Dokumen Pribadi, Papan nama selamat datang Ladang Giram tempat PMI dan anak buruh sawit bekerja.Bagi seorang anak yang lahir, dan berkembang di kawasan pedalaman perkebunan kelapa sawit, cakrawala dunia itu sempit. Duniaku hanyalah sebatas pohon-pohon sawit yang berbaris rapi namun angkuh, pelepah-pelepah berduri yang siap menggores kulit, dan debu jalanan perkebunan yang mengepul setiap kali truk pengangkut buah lewat di sampingku. Sejak kecil, aroma tanah basah dan buah kelapa sawit matang sudah menempel di hidung, dan menjadi bagian dari napasku. Saat anak-anak lain bermain dengan ponsel pintar mereka, aku hanya bermain dengan sebuah karung kecil. Tugasku sangat sederhana namun bagiku itu sangat melelahkan, mengikuti jejak kaki orang tua yang berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, membungkuk mengelilingi setiap pohon demi memungut brondolan kelapa sawit matang yang jatuh berserakan setelah dipanen."Jangan ada sisa satu pun yang tertinggal, harus bersih," begitulah pesan tegas dari orang tuaku yang tidak pernah luput dari ingatan dewasaku. Setiap brondolan kelapa sawit adalah bagian dari keberlanjutan hidup keluarga kami. Tangan yang masih kecil ini perlahan menebal dan menghitam, mulai bersahabat dengan duri. Di bawah terik matahari, bernaung di balik bentangan pelepah sawit yang melebar luas, tempat keluarga kecil kami berlindung. Aku sering mencuri pandang menatap langit biru.Di dalam hati, aku berpikir, "Apakah sampai tua hidupku akan terus seperti ini?" Sebuah pertanyaan pilu yang aku tahu, bahkan orang tuaku tidak akan pernah sanggup untuk menjawabnya.Secercah harapan yang redup terlalu cepathttps://catatanclcgiram.blogspot.com/2017/05/, Pendidikan anak pekerja migran Indonesia di SabahJauh sebelum Sekolah Humana hadir, ruang belajar pertamaku sebenarnya hanyalah sebuah sudut sunyi di dalam masjid perkebunan tempat kami tinggal, yang kami sebut dengan Ruang Bilik KAFA (Kelas Al-Quran dan Fardu Ain). Di sanalah, di antara gema doa dan lantunan ayat suci Al-Quran yang menyejukkan hati, tangan kecilku untuk pertama kalinya dituntun untuk mengenal guratan huruf dan angka.Bilik KAFA di masjid itu kini telah menjadi kenangan, harapan baru yang lebih besar kembali tumbuh saat pusat belajar komunitas, Humana 128, resmi hadir di perkebunan kami. Di Humana-lah, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasakan bangganya mengenakan seragam sekolah.Di sana pula, untuk kedua kalinya, aku kembali mengeja kata demi kata dengan binar mata yang berbeda. Rasanya luar biasa bahagia. Bagiku saat itu, selembar kain seragam dan setiap huruf yang kubaca adalah sepasang sayap dan jendela ajaib yang siap membawaku terbang menuju dunia luar, dunia luas yang selama ini sengaja disembunyikan dari takdir anak ladang sepertiku. Namun, rasa bahagia itu tidak cukup lama. Akses yang terbatas dan pekerjaan orang tua mulai tidak stabil karena pergantian tuan perkebunan, membuat orang tua terpaksa untuk berhenti kerja dari ladang karena tuntutan yang tidak dapat dipenuhi. Belum lagi tuntutan ekonomi keluarga memaksa aku berhenti di tengah jalan.Langkah kakiku diseret kembali ke realitas; hamparan ladang sawit yang luas tak bertepi. Di usia yang masih sangat muda, aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku putus sekolah. Cahaya yang sempat datang bagaikan permata ditelan juga oleh gelapnya realitas kehidupan.Aku tidak lagi di Ladang Giram, melainkan ikut bersama dengan abang pertamaku. Waktu itu orang tuaku tidak bisa membawa diriku karena berbagai pertimbangan. Meskipun berat sekali rasanya tidak dapat bersama dengan orang tuaku, tapi siapalah aku yang mampu mengubah takdir itu?Kala keputusasaan menyelimuti diriku, aku hanya bisa memaksakan diri untuk mengucapkan sepatah dua kata bahwa aku baik-baik saja. Di benakku kala itu biarlah waktu membawa aku dan keluargaku ke tempat yang membutuhkan kami. Meskipun pada akhirnya aku masih tetap di ladang kelapa sawit menetap bersama abangku dan tidak ada sekolah di tempat baruku, tapi aku mencoba berdamai dengan keadaan. Aku menarik napas panjang, membendung sesak berat yang tak dapat kutahan lagi.“Biarlah aku mengubur dulu mimpi-mimpiku untuk keluar dari selimut sawit ini. Aku dengan segenap keputusasaanku hanya bisa berharap dengan jalan yang sudah ditentukan ini, ekonomi keluarga akan segera membaik seiring dengan berjalannya waktu,” harapku dalam hati, walau nurani kecil terus berbisik lirih, “Tidak ada yang bisa berubah.”Angin segar bagi anak buruh sawit di Ladang GiramTahun-tahun berlalu bersama dengan rutinitas yang membunuh mimpiku. Sampai pada suatu sore yang gerah, tanpa sengaja aku mendengar kabar yang masih samar-samar di telingaku."Kalian sudah dengar? Katanya ada sekolah baru mau dibuka," ucap salah satu buruh dengan suara setengah berbisik, seolah itu adalah sebuah rahasia besar."Ah, paling seperti yang sudah-sudah. Sekolah cuma dasar saja, habis itu kerja lagi jadi buruh kelapa sawit, tidak ada perubahan," sahut yang lain, skeptis."Bukan, ini beda. Katanya sekolah resmi dari Indonesia. Tempatnya di Ladang Giram, jadi setelah Humana kelas enam bisa lanjut ke sekolah Indonesia itu."Kata 'Ladang Giram' dan 'sekolah' malam itu terus berdengung di telingaku. Di tengah keputusasaan yang sudah mengakar, kabar burung itu tiba-tiba memicu sebuah letupan kecil di dalam dada. Rasa penasaran yang besar bercampur dengan secuil harapan yang dulu sempat mati. Apakah ini jalan keluar yang aku doakan selama ini, atau justru hanya kekecewaan baru yang siap mematahkan hati dan mengubur lebih dalam mimpi-mimpiku lagi?Referensi:https://haisawit.co.id/news/detail/sabah-masih-bergantung-pada-pekerja-sawit-indonesia-konsulat-ri-dorong-penyaluran-resmihttps://kumparan.com/kumparanbisnis/indonesia-setop-sementara-kirim-tki-ke-malaysia-gara-gara-apa-1ySkZrlIkIM/full