Ilustrasi self healing. Foto: U__Photo/ShutterstockBeberapa tahun terakhir, istilah healing semakin sering digunakan, terutama di kalangan anak muda. Setelah menghadapi tugas kuliah yang menumpuk, tekanan pekerjaan, atau rutinitas yang melelahkan, banyak orang merasa perlu melakukan healing. Tidak sedikit pula yang mengaitkan healing dengan liburan ke tempat wisata, mengunjungi kafe estetik, atau bepergian ke destinasi yang sedang viral di media sosial.Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental semakin meningkat. Namun, di sisi lain, makna healing juga mulai mengalami pergeseran. Aktivitas yang seharusnya menjadi cara untuk memulihkan kondisi fisik dan mental sering kali berubah menjadi bagian dari gaya hidup. Akibatnya, seseorang merasa belum benar-benar healing jika belum pergi ke tempat yang jauh, menghabiskan banyak uang, atau membagikan momen tersebut di media sosial.Padahal, esensi dari healing bukanlah tentang lokasi yang dikunjungi atau biaya yang dikeluarkan, melainkan tentang memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat dan memulihkan energi. Liburan memang dapat membantu mengurangi stres, tetapi tidak semua masalah akan selesai hanya dengan berpindah tempat. Jika sumber tekanan, seperti beban pekerjaan, pola hidup yang tidak sehat, atau manajemen waktu yang buruk, tidak diselesaikan, rasa lelah akan kembali setelah liburan berakhir.Menurut saya, healing seharusnya dimaknai sebagai proses mengenal diri, bukan sekadar pelarian dari masalah. Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk memulihkan diri dari segala masalah. Ada yang merasa lebih tenang dengan berjalan santai di taman, membaca buku, berolahraga, menjalankan hobi, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar menikmati waktu istirahat tanpa gangguan. Semua aktivitas tersebut dapat menjadi bentuk healing selama benar-benar membantu seseorang merasa lebih baik.Media sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk persepsi tentang healing. Konten yang menampilkan liburan mewah atau tempat-tempat estetik sering kali membuat orang berpikir bahwa itulah standar untuk menghilangkan penat. Padahal, kondisi ekonomi, waktu, dan kebutuhan setiap orang berbeda. Ketika seseorang memaksakan diri mengikuti tren demi dianggap "sudah healing", tujuan utama untuk memulihkan diri justru dapat bergeser menjadi mencari pengakuan dari orang lain.Pada akhirnya, healing bukan tentang seberapa jauh kita bepergian atau seberapa menarik foto yang kita unggah di media sosial. Makna sebenarnya adalah memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat agar dapat kembali menjalani aktivitas dengan lebih sehat dan produktif. Dengan memahami makna tersebut, kita tidak perlu merasa tertinggal hanya karena tidak mengikuti tren liburan. Sebab, healing yang paling bermakna adalah yang benar-benar membuat kita pulih, bukan sekadar terlihat bahagia di hadapan orang lain.