● Kemajuan SDGs Indonesia positif, tetapi prioritas riset belum sejalan dengan kebutuhan pembangunan prioritas.● Riset nasional unggul di bidang kesehatan dan teknologi, tapi sangat minim pada isu ketimpangan, gender, dan kota berkelanjutan.● Kesenjangan ini dipicu oleh sistem insentif akademis dan alokasi dana, sehingga perlu koreksi kebijakan yang nyata.Indonesia menunjukkan kemajuan yang cukup baik dalam mencapai Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Menurut evaluasi Bappenas, sekitar 62,7% dari 224 indikator SDGs sudah mengalami kemajuan.SDGs adalah 17 tujuan global yang disepakati negara-negara anggota PBB untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik pada 2030. Tujuannya mencakup berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari menghapus kemiskinan, meningkatkan layanan kesehatan dan pendidikan, menciptakan pekerjaan yang layak, membangun kota yang nyaman dihuni, menjaga lingkungan, hingga mengurangi ketimpangan.Semua itu saling berkaitan. Ketika terjadi banjir, misalnya, persoalannya bukan hanya soal hujan, tetapi juga tata kota, kemiskinan, kesehatan, hingga perubahan iklim. Karena itu, riset berperan penting untuk membantu pemerintah menemukan solusi yang tepat. Namun, apakah penelitian ilmiah di Indonesia sudah benar-benar mendukung tujuan-tujuan yang paling mendesak, terutama yang paling tertinggal di kawasan ini?Riset masih terkonsentrasi pada bidang tertentuData SDGs Center Universitas Padjadjaran yang memetakan 75.892 artikel ilmiah Indonesia di jurnal tier Q1 versi SCImago 2025—tier teratas dalam penerbitan akademis internasional—menunjukkan bahwa perhatian peneliti masih terkonsentrasi pada beberapa bidang.Topik yang paling banyak diteliti adalah kesehatan dan kesejahteraan, industri, inovasi dan infrastruktur, ekosistem daratan, perdamaian, keadilan dan kelembagaan, serta pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.Fokus ini dapat dipahami. Sebagai contoh, pandemi COVID-19 telah mendorong lonjakan penelitian kesehatan masyarakat. Ini masuk dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan (SDG 3). Jumlahnya 6.634 artikel atau 8,74% dari total yang dipetakan.Di sisi lain, Indonesia juga sedang mempercepat industrialisasi, hilirisasi, dan pengembangan teknologi, sehingga riset di bidang tersebut (SDG 9) juga berkembang pesat, mencapai 5.651 artikel atau 7,45%.Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia juga membuat penelitian mengenai lingkungan dan ekosistem darat (SDG 15) relatif kuat, tercatat ada 5.258 artikel atau 6,93%Riset tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan (SDG 16) juga cukup menonjol—ada 5.203 artikel (6,86%). Artinya, penelitian di bidang hukum, tata kelola pemerintahan, dan ilmu sosial Indonesia cukup produktif.Sementara itu, banyaknya penelitian mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8)—sebanyak 4.288 artikel (5,65%)—mencerminkan besarnya perhatian akademisi terhadap isu ekonomi, bisnis, keuangan, kewirausahaan, hingga pariwisata, yang menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.Persoalan sehari-hari masih minim ditelitiSayangnya, isu penelitian yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk tentang kota dan komunitas berkelanjutan, kesetaraan gender dan pengurangan ketimpangan, justru mendapat perhatian yang sangat kecil.Penelitian mengenai kota berkelanjutan (SDG 11), misalnya, hanya sekitar 437 artikel atau kurang dari 1% dari seluruh publikasi. Padahal, semakin banyak penduduk Indonesia tinggal di kota. Persoalan seperti banjir, kemacetan, kualitas udara, transportasi publik, hingga keterjangkauan perumahan akan semakin menentukan kualitas hidup masyarakat.Hal serupa terjadi pada penelitian mengenai kesetaraan gender (SDG 5) yang hanya ada 494 artikel (0,65%). Padahal, partisipasi perempuan di dunia kerja masih jauh tertinggal dibanding laki-laki. Isu seperti kesenjangan upah dan beban kerja domestik masih menjadi tantangan.Penelitian tentang pengurangan ketimpangan (SDG 10) juga hanya sekitar 558 artikel (0,74%). Padahal, rasio Gini (indikator ketimpangan ekonomi) Indonesia masih tercatat 0,363 per September 2025. Angka ini memang menurun dari tahun sebelumnya, tapi tetap mencerminkan ketimpangan struktural yang konstan.Yang paling sedikit adalah penelitian mengenai kemitraan global SDG 17), hanya sekitar 286 artikel, atau 0,38% dari total artikel yang dipetakan. Padahal, kerja sama internasional, investasi, transfer teknologi, dan kolaborasi antarnegara menjadi salah satu kunci agar target-target pembangunan bisa tercapai. Baca juga: Indikator keberhasilan riset Indonesia terlalu berorientasi pasar, ilmu sosial terpinggirkan? Mengapa kesenjangan ini terjadi?Kesenjangan antara urgensi pembangunan dan prioritas riset bukanlah kebetulan. Ada tiga faktor struktural yang perlu diakui.Pertama, sistem akademis saat ini lebih mendorong pemilihan topik yang berpeluang terbit lebih besar di jurnal internasional.Ilmu kesehatan, teknik, dan ilmu alam umumnya memiliki metode yang lebih mudah dibandingkan lintas negara. Sebaliknya, isu sosial seperti ketimpangan, kemitraan, atau tata kota sering membutuhkan konteks lokal yang menyulitkan generalisasi.Para peneliti di bidang gender dan ketimpangan kerap menghadapi permintaan “generalisasi yang lebih luas” dari reviewer jurnal internasional. Ini sulit dipenuhi ketika objek studinya sangat kontekstual, misalnya studi ketimpangan gender di masyarakat pesisir di Indonesia.Kedua, pendanaan riset nasional belum secara eksplisit dipetakan ke SDG yang paling tertinggal. BRIN baru-baru ini mengumumkan peningkatan anggaran riset hingga 50% dengan fokus pada ketahanan pangan, transisi energi, dan industri strategis. Kebijakan ini relevan, tapi belum secara langsung menyasar keempat SDG dengan gap terdalam.Ketiga, riset tentang ketimpangan, kota, gender, dan kemitraan bersifat lintas-disiplin sehingga membutuhkan kolaborasi yang lebih kompleks. Jenis riset ini lebih sulit difasilitasi dalam sistem akademis yang masih berorientasi pada departemen tunggal. Baca juga: Komite Etik Penelitian dalam riset ilmu sosial di Indonesia kurang populer, apa dampaknya? Kajian bibliometrik terbaru mengonfirmasi bahwa pola serupa terjadi di hampir semua negara berkembang. Riset SDG terkonsentrasi pada tema “terukur” seperti kesehatan dan teknologi, sementara isu ketimpangan, gender, tata kota secara konsisten jarang ditemukan.Mengapa ini penting bagi publik?Riset bukan sekadar menghasilkan jurnal ilmiah. Hasil penelitian bisa menjadi dasar pemerintah menyusun kebijakan yang lebih efektif.Sebagai contoh, studi terbaru menemukan bahwa program perbaikan kampung/Kampung Improvement Program (KIP)—salah satu program pemukiman terbesar di dunia—justru rata-rata memiliki nilai lahan lebih rendah dan informalitas yang tinggi, terutama di dekat pusat bisnis.Jika penelitian tentang kota masih minim, pemerintah akan memiliki lebih sedikit bukti ilmiah untuk memperbaiki tata ruang, transportasi, atau perumahan. Begitu pula jika riset tentang ketimpangan atau kesetaraan gender terbatas, solusi atau kebijakan yang dihasilkan berisiko tidak menyentuh akar persoalan.Peta riset ini seharusnya jadi bahan evaluasi, bukan untuk menyalahkan peneliti secara individual. Bagaimanapun, pilihan topik penelitian sangat dipengaruhi oleh sistem pendanaan dan insentif yang ada.Pembuat kebijakan—terutama BRIN, Kemendikbudristek, dan perguruan tinggi—sebaiknya menjadikan ini dasar dalam mengalokasikan dana hibah, pembentukan pusat riset baru, dan desain kurikulum program doktoral. Selain itu, Indonesia Perlu juga memberi ruang lebih besar bagi penelitian yang menjawab persoalan yang paling dirasakan masyarakat, terutama mengenai kota yang layak huni, ketimpangan sosial, kesetaraan gender, dan kemitraan pembangunan.Dengan begitu, riset Indonesia tidak hanya menghasilkan lebih banyak publikasi, tetapi juga benar-benar membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat setiap hari. Baca juga: Bukan (hanya) soal anggaran. Bagaimana dana riset dibelanjakan juga penting Penulis adalah peneliti di SDGs Center, Universitas Padjadjaran, Direktur SDGs Center Unpad dan Presiden Indonesia SDGs Center Network (ISCN). Analisis dalam artikel ini didasarkan pada dashboard interaktif yang dapat diakses secara terbuka di sdgcenter.unpad.ac.id/dashboard.