Peternak memanen telur ayam di peternakan ayam di Desa Kuwonharjo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Jumat (19/1/2024). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal HidayatGabungan Peternak Rakyat Solo Raya membeberkan kini harga telur di tingkat peternak mengalami kenaikan sebesar 5 persen. Pertumbuhan positif harga di tingkat peternak unggas mulai dirasakan secara gradual.Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, Parjuni, menuturkan saat ini sudah ada kenaikan harga meskipun masih belum mencapai Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat peternak Rp 24.000 per kg."Kemarin itu harganya (telur) Rp 17.000 sampai Rp 18.000. Sampai dengan hari ini di kisaran Rp 20.000 sampai Rp 21.000. Jadi memang ada growth naik. (Dahulu) itu kan ada program stunting. Barangkali nanti bisa dibikin pola yang sama. Jadi konsepnya (dibahas) sekarang, September aplikasi. Itu saya kira nanti akan mengatasi," kata Parjuni dalam keterangannya, Sabtu (18/7).Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga telur ayam ras di tingkat peternak secara nasional per 16 Juli 2026 naik 2,2 persen dibandingkan sepekan sebelumnya, dari Rp 22.495 per kg menjadi Rp 22.989 per kg.Meski demikian, harga telur di tingkat peternak di Sulawesi Utara sudah mencapai Rp 27.067 per kg atau melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp 26.500 per kg. Sementara itu, harga di Banten masih berada di bawah HAP, yakni rata-rata Rp 21.250 per kg.Di tingkat konsumen, rata-rata harga telur ayam ras secara nasional juga naik tipis menjadi Rp 27.798 per kg. Namun, harga tersebut masih 7,34 persen di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen yang dipatok sebesar Rp 30.000 per kg.Parjuni berharap, pemerintah dapat terus mendukung peternak unggas, salah satunya dengan menggulirkan program bantuan pangan berupa telur dan daging ayam karkas.Lebih lanjut dia menjelaskan faktor yang mempengaruhi harga telur adalah momen bulan Suro dan penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah. Namun saat ini mulai dirasakan adanya growth atau pertumbuhan harga di kalangan peternak unggas."Memang mungkin karena kemarin momen di bulan Juni yaitu Suro, kalau di Jawa kan sedikit turun, ditambah mungkin program MBG off kemarin. Jadi itu juga menjadikan demand (permintaan) dari masyarakat itu turun," imbuhnya.Siswa membawa tumpukan makan bergizi gratis di Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan, Sumatera Utara, Rabu (14/1/2026). Foto: Yudi Manar/ANTARA FOTO Pada 2023 dan 2024, Bapanas menugaskan ID FOOD melalui Kementerian BUMN untuk menyalurkan bantuan pangan guna percepatan penurunan stunting. Sebanyak 1,4 juta keluarga penerima manfaat masing-masing memperoleh 1 kilogram (kg) daging ayam dan 10 butir telur setiap bulan selama tiga bulan.Dalam pelaksanaannya, pemerintah menggandeng ribuan peternak rakyat, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga 2024, program tersebut telah melibatkan 8.778 peternak, terdiri dari 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler.Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan rencana melanjutkan kembali program bantuan pangan telur dan daging ayam pada tahun ini masih menunggu keputusan pemerintah. Menurut dia, rapat koordinasi terbatas (Rakortas) bidang pangan belum memutuskan kelanjutan program tersebut.“(Bantuan pangan telur dan daging ayam) belum ada keputusan Rakortas. Tentu nanti kita masih perlu menunggu. Jika dimungkinkan diputuskan, (tentu) kita lakukan,” tutur Ketut.Meski demikian, Ketut memastikan harga telur dan ayam broiler di tingkat peternak mulai menunjukkan tren positif. Menurutnya, kondisi tersebut didorong oleh kembali bergulirnya program MBG, yang meningkatkan permintaan di hulu rantai pasok pangan."Jadi MBG itu ada pengaruhnya, dengan (sudah) melewati bulan Suro sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, (lalu) MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik. Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita. Tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," jelasnya.Berdasarkan data Bapanas, rata-rata harga ayam broiler hidup di tingkat peternak secara nasional per 16 Juli naik 5,53 persen dibandingkan sepekan sebelumnya. Harga yang semula Rp 20.878 per kg berat hidup meningkat menjadi Rp 22.032 per kg berat hidup.Secara wilayah, Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan rata-rata harga ayam broiler hidup terendah, yakni Rp 19.500 per kg berat hidup. Sementara harga tertinggi tercatat di Riau yang mencapai Rp 26.000 per kg berat hidup.Di tingkat konsumen, rata-rata harga daging ayam ras juga mengalami kenaikan, meski masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp 40.000 per kg. Adapun rata-rata harga telur ayam ras di tingkat konsumen secara nasional per 16 Juli tercatat Rp 37.040 per kg, atau 7,4 persen di bawah HAP.