Budaya Membeli Kopi dari Kafe dan Kedai Kopi: Antara Fungsi dan Gengsi

Wait 5 sec.

Ilustrasi secangkir kopi yang tergeletak di atas meja. Foto: Nam Quach/UnsplashSaat ini, berbagai kafe dan kedai kopi mulai tersebar luas menawarkan variasi kopi yang beranekaragam dengan harga mencapai puluhan ribu. Mereka tidak sekadar menawarkan produk kopi itu saja, melainkan juga pelayanan yang baik, kebersihan tempat, bahkan kelengkapan fasilitas seperti Wi-Fi dan stop kontak.Meskipun begitu, keberadaan pedagang kopi keliling atau starling masih hadir hingga hari ini. Mereka menjajakan berbagai minuman, salah satunya kopi, dengan harga yang lebih ramah di kantong. Namun, banyak orang yang lebih memilih untuk membeli kopi di kafe atau kedai kopi yang sedang viral. Mengapa?Yang Dibeli Bukan Sekadar KopiKopi yang dibeli di kafe atau kedai kopi terbungkus dalam kemasan menarik dengan merek produk yang terpampang jelas sehingga dapat membuat orang lain penasaran dan ikut "terpengaruh" untuk membeli produk yang sama. Belum lagi jika terdapat banyak orang yang mengunggah produk kopi tersebut ke media sosial. Akibatnya, banyak orang berbondong-bondong untuk membeli produk yang sama karena menganggap "mengonsumsi kopi merek A = keren" mengingat harganya yang tidak murah bagi sebagian orang.Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Tania, C. & Hurdawaty, R. (2022) yang menemukan bahwa budaya konsumsi kopi berpengaruh dari globalisasi yang berakar dari budaya barat. Penyebabnya ialah prioritas diri untuk menampilkan kelas sosial yang tercermin dalam pertimbangan harga kopi untuk menunjukkan kemewahan.Satu Kopi = Dua MaknaUmumnya, target pasar untuk kopi kafe atau kedai kopi ialah mahasiswa dan pekerja korporat. Mereka mengonsumsi produk kopi untuk menahan rasa kantuk serta memperbaiki suasana hati. Inilah yang disebut sebagai nilai guna (use value), yakni fungsi praktis kopi yang dikonsumsi untuk membantu individu.Di samping itu, terdapat pula nilai tanda (sign value) pada segelas produk kopi. In this economy, kopi dari kafe dan kedai kopi ternama—terlebih lagi jika sedang naik daun—cenderung dianggap superior. Akhirnya, terbentuklah stereotip di masyarakat yang memandang bahwa produk kopi tersebut menandakan citra diri, gaya hidup modern, dan status sosial (prestise) yang "tinggi" dari sang pembeli. Ini adalah interpretasi dari pemikiran kritis Jean Baudrillard dalam kajian masyarakat konsumen.Dengan demikian, satu produk kopi tidak hanya menjadi minuman yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan fisik individu saja, melainkan juga sebagai penanda bermakna eksklusif yang merepresentasikan identitas diri dan status sosial sang pembeli kopi.