Pendaur Ulang Sampah di Mesir Raup Cuan saat Krisis Plastik Imbas Perang Iran-AS

Wait 5 sec.

Seorang pekerja Mesir menyiapkan plastik untuk diproses di pabrik daur ulang di kota sampah di lingkungan Manshiyet Nasser di Kairo, Mesir (6/7/2026). Foto: Khaled Desouki/AFPPelaku usaha daur ulang di kawasan Garbage City atau Kota Sampah di Kairo, Mesir, menikmati lonjakan permintaan plastik daur ulang setelah perang di Iran mengganggu pasokan bahan baku global.Mengutip AFP, Peter Romany, spesialis daur ulang berusia 25 tahun kini kebanjiran pesanan dari berbagai pabrik. Jika sebelumnya ia harus menawarkan hasil daur ulang kepada pelanggan, kini justru pihak pabrik yang aktif menghubunginya untuk mencari stok plastik.“Sebelum perang, justru kami yang menelepon pabrik untuk menawarkan hasil daur ulang kami. Tetapi setelah perang pecah, pabrik-pabrik yang mulai menghubungi kami. Mereka bertanya: Berapa banyak stok yang Anda punya? Bisa dikirim hari ini? Dulu hal seperti itu tidak pernah terjadi,” kata Romany kepada AFP.Lonjakan permintaan terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran menghambat lalu lintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama pengiriman bahan baku plastik dunia. Kondisi tersebut memaksa banyak produsen di Mesir beralih menggunakan plastik daur ulang lokal.Aktivitas daur ulang tersebut terpusat di Manshiyet Nasser, kawasan padat penduduk di timur Kairo yang dikenal sebagai Garbage City. Wilayah yang dihuni lebih dari 115.000 orang itu selama beberapa generasi mengembangkan sistem daur ulang informal dan menangani lebih dari sepertiga sampah ibu kota Mesir.Di kawasan itu, aktivitas memilah sampah berlangsung berdampingan dengan kehidupan sehari-hari warga. Plastik, kardus, logam, kaca, dan kertas dipilah di lantai bawah rumah sebelum dikirim ke bengkel atau pabrik, sementara anggota keluarga lainnya beraktivitas di lantai atas.Kini, kawasan tersebut bekerja jauh lebih sibuk karena meningkatnya kebutuhan industri terhadap bahan baku daur ulang. Romany mengkhususkan diri mendaur ulang polietilena, salah satu jenis plastik yang paling banyak digunakan untuk kemasan. Menurut Independent Commodity Intelligence Services (ICIS), sekitar 85 persen ekspor polietilena dari Timur Tengah melewati Selat Hormuz. Sementara itu, Kamar Dagang Industri Kimia Mesir mencatat sekitar 40 persen kebutuhan bahan baku plastik negara tersebut masih bergantung pada impor dari negara-negara Teluk, Eropa, China, dan Korea Selatan.Tiga pelaku industri mengatakan kepada AFP bahwa harga kemasan dan sejumlah produk plastik telah melonjak lebih dari dua kali lipat akibat terganggunya pasokan. Situasi itu membuat produsen beralih ke bahan baku daur ulang yang tersedia di dalam negeri.Rizq Yousif, pelaku usaha yang mendaur ulang plastik untuk botol minuman dan kemasan makanan, mengatakan kalau pabrik kini bahkan bersedia membayar tunai di muka demi mengamankan pasokan.Yousif mengatakan permintaan meningkat tiga kali lipat, sementara harga beberapa jenis plastik daur ulang naik hingga 60 persen.Dampak positif juga dirasakan pelaku industri hilir. Chief Executive Sadat City Chemical Fibre Factory, Fayrouz El-Sayed, mengatakan perusahaannya yang memproduksi serat poliester dari botol plastik bekas berhasil menembus pasar baru hingga Brasil setelah krisis terjadi.“Kami sudah menjalankan bisnis ini selama 16 tahun,” kata Fayrouz El-Sayed.Di sisi lain, Senior Marketing and Sales Manager Uflex Egypt, Nesma El-Areef, menyebut permintaan terhadap produk daur ulang perusahaannya meningkat sekitar 40 persen.“Kami melihat peningkatan pesanan yang signifikan, terutama dari produsen makanan dan minuman, karena kami menawarkan alternatif yang lebih mudah diperoleh dibandingkan bahan baku impor,” ujarnya.Meski demikian, para pelaku industri menilai lonjakan permintaan ini kemungkinan hanya bersifat sementara. Yousif mengatakan harga dan permintaan sempat melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump bulan lalu mengumumkan kemajuan dalam negosiasi dengan Iran.“Hanya satu unggahan saja sudah membuat pasar turun. Setelah perang selesai, saya tidak yakin kondisi ini akan bertahan,” kata Yousif.Namun, setelah Trump kembali mengumumkan blokade terhadap pelabuhan Iran dan mengambil alih Selat Hormuz di tengah memanasnya konflik, permintaan kembali meningkat.“Kami sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Setiap kali ada masalah di sana, para pelanggan langsung menghubungi kami,” kata Yousif.