Indonesia Perluas Ekspor Unggas ke China dan Timur Tengah untuk Serap Kelebihan Produksi

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, JAKARTA  - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan pemerintah terus membuka peluang ekspor produk unggas ke China dan kawasan Timur Tengah guna memperluas pasar, menyerap kelebihan produksi, dan meningkatkan kesejahteraan peternak nasional."Kementerian Pertanian membuka peluang ekspor produk unggas ke berbagai negara, termasuk China dan Timur Tengah, seiring meningkatnya kebutuhan pangan di pasar internasional," ujar Sudaryono di Jakarta, Sabtu.Sudaryono menjelaskan Kementerian Pertanian terus memperluas akses pasar ekspor sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan sekaligus meningkatkan daya saing industri perunggasan nasional.Ia menegaskan ekspor tidak hanya bergantung pada harga dan kualitas produk, tetapi juga memerlukan dukungan diplomasi antarnegara."Ekspor bukan hanya soal harga dan kualitas produk. Kita harus membangun diplomasi antarnegara untuk membuka pasar," katanya.Karena itu, pemerintah terus memperkuat hubungan dengan berbagai negara agar lebih banyak negara membuka pasar bagi produk pertanian Indonesia.Sudaryono menyebut sektor perunggasan nasional saat ini mengalami kelebihan pasokan dibandingkan permintaan. Namun, kondisi tersebut menunjukkan produksi ayam dan telur nasional berada dalam kondisi baik."Ini sebenarnya masalah yang positif. Kita memiliki pasokan yang cukup. Sekarang kita harus mengelola pasokan, permintaan, dan distribusi agar ketersediaan pangan merata di seluruh wilayah," ujarnya.Ia mengungkapkan kelebihan pasokan paling banyak terjadi di Pulau Jawa. Karena itu, pemerintah terus memperluas distribusi ke daerah yang masih membutuhkan untuk menjaga keseimbangan pasar.Selain memperluas distribusi, Kementerian Pertanian juga berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyerap lebih banyak komoditas pangan dalam negeri, termasuk ayam dan telur, saat harga di tingkat peternak menurun.Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melepas ekspor 545 ton produk unggas dan turunannya senilai Rp18,2 miliar pada Maret 2026. Indonesia mengekspor produk tersebut ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste sebagai bagian dari upaya memperluas pasar komoditas pangan strategis setelah mencapai swasembada.Di sisi lain, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan harga ayam broiler di tingkat peternak mulai meningkat.Berdasarkan data per 14/7/2026, harga rata-rata ayam broiler nasional mencapai Rp21.736 per kilogram (kg) berat hidup atau naik 4,11 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang mencapai Rp20.878 per kg.Meski demikian, peternak di Sumatera Selatan masih menjual ayam broiler dengan harga rata-rata Rp18.125 per kg. Sementara peternak di Riau menjual ayam broiler dengan harga rata-rata Rp25.600 per kg atau melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) produsen sebesar Rp25.000 per kg.Untuk telur ayam ras, harga rata-rata nasional mencapai Rp22.644 per kg pada 14/7/2026 atau naik 0,66 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang mencapai Rp22.495 per kg.Bapanas mencatat peternak di Banten menjual telur ayam ras dengan harga rata-rata terendah, yakni Rp20.300 per kg. Sementara peternak di Sulawesi Utara menjual telur ayam ras dengan harga rata-rata tertinggi, yakni Rp28.200 per kg. Pemerintah menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) telur ayam ras di tingkat peternak sebesar Rp26.500 per kg. (*)