Cegah anemia sebelum hamil: Kesehatan calon ibu perlu disiapkan sejak remaja

Wait 5 sec.

• Pencegahan anemia harus dimulai sejak remaja sebagai fondasi masa kehamilan.• Tingginya angka anemia remaja perempuan dipicu siklus menstruasi dan nutrisi.• Rendahnya konsumsi TTD menunjukkan perlunya penguatan edukasi serta akses kesehatan.Seorang perempuan tidak tiba-tiba mengalami anemia ketika hamil. Kondisi gizinya saat memasuki kehamilan merupakan hasil perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelumnya, termasuk sejak masa remaja.Sayangnya, perhatian terhadap gizi perempuan sering kali baru menguat ketika mereka menikah atau hamil. Padahal, masa remaja merupakan periode penting bagi pertumbuhan dan perkembangan. Kecukupan gizi pada periode ini ikut menjadi fondasi kesehatan pada fase kehidupan berikutnya. Baca juga: 4,8 juta remaja putri Indonesia anemia, bagaimana aplikasi Android bisa menguranginya Persoalan ini masih nyata di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 27,7% ibu hamil mengalami anemia. Artinya, lebih dari satu dari empat ibu hamil masih menghadapi masalah ini.Karena itu, pencegahan anemia seharusnya tidak menunggu sampai seorang perempuan hamil.Mengapa remaja perempuan rentan anemia?Remaja mengalami pertumbuhan pesat sehingga membutuhkan energi, protein, zat besi, dan berbagai zat gizi lainnya dalam jumlah cukup.Remaja perempuan menghadapi tantangan tambahan karena mengalami menstruasi. Darah yang keluar saat menstruasi juga membawa zat besi. WHO menyebut perempuan dan anak perempuan yang mengalami menstruasi sebagai salah satu kelompok yang rentan terhadap anemia.Risiko dapat meningkat ketika kebutuhan tersebut tidak diimbangi pola makan yang cukup dan beragam. Kekurangan zat besi memang menjadi salah satu penyebab penting anemia, tetapi bukan satu-satunya. Kekurangan folat, vitamin B12, vitamin A, dan riboflavin, serta infeksi, penyakit kronis, dan perdarahan menstruasi berlebihan juga dapat menyebabkan anemia.Anemia pun bukan sekadar persoalan terlihat pucat. Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan, lemah, pusing, dan sesak napas, sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.Dalam jangka panjang, anemia juga dapat berdampak pada kemampuan fisik dan produktivitas. Pada remaja, tinjauan sistematis terhadap 50 penelitian menunjukkan adanya hubungan antara status zat besi dan anemia dengan aspek tertentu dari fungsi kognitif dan performa akademik. Selain itu, tinjauan sistematis pada 2023 menemukan bahwa sebagian besar studi yang ditelaah menunjukkan ibu dengan anemia berhubungan dengan stunting atau pertumbuhan anak. Salah satu jalurnya dapat dimulai sejak kehamilan: anemia pada ibu berkaitan dengan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau prematur. Hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan anak. Itulah mengapa pencegahan anemia sebelum dan setelah kehamilan perlu ditempatkan sebagai salah satu bagian dari upaya pencegahan stunting, bukan sebagai satu-satunya solusi. Banyak siswa memiliki Hb rendahMasalah kurang darah juga kami temukan pada siswa SMA Muhammadiyah 23 Jakarta.Kami mengedukasi siswa mengenai anemia sekaligus memeriksa kadar hemoglobin mereka di sekolah, menggunakan metode point of care testing/POCT (pemeriksaan di luar laboratorium). Baca juga: Bagaimana kenaikan dan penurunan berat badan sama-sama memengaruhi menstruasi? Hasilnya cukup mengkhawatirkan: sekitar 39% siswa perempuan yang kami periksa memiliki kadar hemoglobin rendah. Pada siswa laki-laki, proporsinya sebesar 16%.Kegiatan tersebut juga menunjukkan pentingnya edukasi. Rata-rata nilai pengetahuan siswa tentang anemia meningkat dari 43 sebelum edukasi menjadi 83 setelah edukasi.Temuan kami memang tidak dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh remaja Indonesia. Namun, hasil tersebut menunjukkan bahwa anemia dapat ditemukan pada remaja yang tampak sehat dan pentingnya menggabungkan edukasi dengan deteksi dini.Banyak remaja belum dapat penambah darahIndonesia sebenarnya telah memiliki program Tablet Tambah Darah (TTD) untuk mencegah anemia pada remaja perempuan. Namun, tantangannya bukan sekadar menyediakan tablet. Pemberian tablet tambah darah di sekolah Cilacap, Jawa Tengah. (Puskesmas Wanareja) Data SKI 2023 yang diangkat Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) pada 2026 menunjukkan 54,8% remaja perempuan belum pernah mendapatkan TTD. Lebih parah lagi, sebanyak 51,4% yang tidak mengonsumsi TTD tersebut mengaku tidak mengetahui manfaatnya.Artinya, ada dua persoalan yang harus diselesaikan bersamaan: akses dan pemahaman.Sekolah tidak cukup hanya membagikan TTD. Remaja perlu memahami mengapa mereka membutuhkannya. Keluarga juga perlu mendukung pola makan bergizi, sedangkan puskesmas dan posyandu remaja dapat memperkuat edukasi dan skrining sekaligus menjangkau remaja yang tidak bersekolah.Kesehatan calon ibu dimulai sebelum kehamilanKesehatan perempuan tidak seharusnya baru kita perhatikan setelah kehamilan terjadi.Pencegahan anemia perlu dimulai sejak remaja melalui pola makan bergizi seimbang, konsumsi TTD sesuai anjuran, edukasi, dan akses terhadap pemeriksaan kesehatan.Temuan kami bahwa 39% siswa perempuan yang diperiksa memiliki Hb rendah, ditambah fakta bahwa lebih dari separuh remaja perempuan Indonesia belum pernah mendapatkan TTD, memberikan pesan penting: menyiapkan kesehatan ibu harus dimulai sebelum perempuan menjadi ibu dan masa remaja adalah salah satu waktu terbaik untuk memulainya.Ratih Kartika Dewi merupakan dosen di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang dengan bidang keahlian Biomedical Sciences.