Bantuan alat pencacah plastik dari Pertamina di Kutawaru, Cilacap. Foto: PertaminaDi tempatnya tinggalnya yakni Kutawaru, Cilacap, Herry Yanto (46) melihat jauhnya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) menjadi masalah. Kini, masalah tersebut teratasi dengan adanya program Desa Energi Berdikari (DEB) dari Pertamina.Herry yang kini merupakan Local Hero Pertamina melalui program DEB Bank Sampah Abhipraya tersebut bercerita, dengan adanya DEB kini bank sampahnya sudah didukung energi listrik dari PLTS dukungan Pertamina. Hal itu membuatnya bisa mengolah sampah non organik lebih efektif khususnya plastik menjadi barang yang memiliki nilai tambah.“Karena kalau kita menggunakan sumber yang sebelumnya harus biaya banyak. Kalau dari PLTS kan ada energi yang kita nggak bayar. Jadi juga bisa menghidupi atau setidaknya ada ekonomi sedikit lah bagi yang bekerja di bank sampah,” kata Herry kepada kumparan di Grha Pertamina, Jakarta pada Jumat (28/9).Di samping itu, biaya yang tadinya merupakan pengeluaran untuk energi kini juga bisa dialihkan untuk masyarakat. PLTS juga digunakan untuk mendukung alat atau mesin pencacah sampah plastik. Hasil cacahan sampah tersebut digunakan untuk bahan baku berbagai produk bernilai tambah mulai dari pot bunga sampai meja kafe.Kegiatan daur ulang sampah plastik di Desa Energi Berdikari Pertamina, Cilacap. Foto: Pertamina“Bahannya ini nanti dibikin sedemikian rupa permintaannya pelanggan. Pelanggan maunya seperti apa nanti kita bikinkan. Ini kan sudah jadi, kayak triplek-triplek gitu, tapi dari plastik, dari sampah,” ucap Harry.Di samping itu, cacahan dari plastik tersebut juga menurutnya bisa dijual dan memiliki pasarnya tersendiri. Bahkan harganya bisa mencapai Rp 12 ribu per kilogramnya. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari angka pembelian sampah plastik yang biasanya hanya Rp 1.500 sampai Rp 2.000 per kilogramnya.“Kalau paling murah, kalau kita yang cacahan itu sekitar Rp 5.000-an. Kalau kita beli kan cuma Rp 2.000 (per kg). Lewat proses, biasanya (harganya) jadi tiga kali lipat sih,” ujarnya.Terkait ceritanya awal dilaksanakannya program, ia menjelaskan bahwa memang ia menyadari bahwa kota tempatnya tinggal cukup terpencil. Kondisi ini membuat lokasi TPS sangat jauh dari kota tersebut.Hasil darur ulang sampah plastik menjadi produk bernilai tambah di Desa Kutawaru, Cilacap. Foto: PertaminaHal itu membuat masyarakat sekitar membuang sampah sembarangan. Atas dasar fenomena itu, ia memilih untuk memulai langkah membuka bank sampah dan mengolah sampah plastik menjadi berbagai barang bernilai.Adapun hal itu awalnya dimulai dari melakukan edukasi kepada masyarakat sekitarnya untuk memilah sampah. Herry mengaku tak menyerah bahkan hingga membuat berbagai program agar masyarakat terbiasa memilah sampah."Masalah utamanya itu karena di tempat kita itu jauh dari kota, jadi jelas agak terpencil lah. Lokasi kita kan terpencil. Jadi nggak ada TPS. Yang dulunya itu mereka buang sampah itu kebanyakan di kali, kebanyakan di laut. Jadi ada yang dibuang di sembarangan, di lahan-lahan gitu. Kita akhirnya mengedukasi mereka supaya bisa istilahnya memilah-milah sampah tersebut,” cerita Herry.Meski demikian, ia menjelaskan bahwa saat ini tantangan tak langsung hilang. Masih ada beberapa tantangan utamanya mengenai edukasi kepada masyarakat mengenai cara dan pentingnya pemilahan sampah.“Tantangannya ya kesulitannya kita gimana caranya menyelesaikan ke mereka (masyarakat),” ujarnya.Di samping itu, masih ada tantangan lainnya utamanya terkait harga pembelian sampah plastik yang didapat dari pengepul. Saat ini harganya masih ditetapkan oleh pengepul. Dengan begitu, keuntungan yang didapat oleh bank sampah hanya bergantung pada harga produk plastik cacahan.Program Desa Energi Berdikari Pertamina di Kutawaru, Cilacap. Foto: Pertamina“Kita beli ke dia dengan harga dia menjual ke sana berapa harga kita beli. Nah keuntungan kita cuma ngambil dari cacahnya. Karena harga belinya kita ikuti harganya. Iya biar gak ribut antara kelompok bank sampah dengan pengepul-pengepulnya,” cerita Herry.Sementara itu VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron keberadaan program DEB juga menjadi salah satu alternatif solusi penanganan masalah lingkungan salah satunya sampah."Program DEB hadir untuk mengubah tantangan sampah menjadi sumber daya yang bernilai. Dengan melakukan pengolahan sampah yang tepat dan didukung sumber energi yang ramah lingkungan, masyarakat dapat menghasilkan manfaat ekonomi, menjaga kebersihan lingkungan, serta mendukung terciptanya ekosistem ekonomi sirkular di tingkat desa," kata Baron.