Anak buah kapal MT Honour 25 Ashari Samadikun (kanan) bersama Fiki Mutakin (keempat kiri) dan Adi Faizal (ketiga kanan) berpelukan dengan keluarga setibanya di Terminal VIP Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (6/10/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO Empat WNI awak kapal MT Honour 25 tiba di Indonesia, Selasa (6/10), setelah disandera perompak di Somalia selama sekitar 5 bulan 10 hari. Mereka mendarat di Terminal VIP Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, dan disambut keluarga dengan isak tangis. Menlu Arrmanatha Nasir dan Menko PMK Sugiono turut mendampingi penyambutan.Keempatnya adalah Kapten Azhari Samadikun (34) asal Sulawesi Selatan, Wahudinanto (48) asal Jawa Tengah, Adi Faizal (27) asal Sulawesi Selatan, dan Fiki Mutakin (25) asal Jawa Barat. Mereka dibebaskan pada 29 September 2026 lewat operasi pemerintah negara bagian Puntland, Somalia.Dalam pembajakan MT Honour 25, lima awak kapal tewas: tiga warga Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar. Sejumlah awak lain juga dilaporkan luka-luka.Kapten Azhari Menangis, Minta Maaf kepada Keluarga Kru yang MeninggalSetibanya di Soekarno-Hatta, Azhari tak kuasa menahan tangis. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga kru yang meninggal selama insiden itu. Azhari merasa gagal memenuhi janjinya membawa seluruh kru pulang dengan selamat.Azhari juga berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia yang membantu proses pembebasan. Ia bercerita, saat mendapat kesempatan menghubungi pihak luar kapal, ia langsung menghubungi Kedutaan Besar RI (KBRI) di Nairobi.Fiki Ditembak, lalu Berpura-pura MatiDuta Besar RI untuk Kenya Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji mengungkap kondisi Fiki Mutakin, salah satu WNI yang sempat ditembak pembajak. Menurut Witjaksono, Fiki sempat diikat untuk dieksekusi. Tali itu dilepas setelah salah satu pembajak memintanya menurunkan sekoci dan mengoperasikan crane agar mereka bisa kabur.Saat Fiki menjalankan perintah itu, para pembajak berselisih. Pembajak lain marah dan berusaha menembaknya."Ada bagian pembajak yang menyuruh dia (Fiki) seperti itu (menurunkan sekoci), tapi ada bagian pembajak lain yang 'kita enggak boleh kabur, jangan!'," kata Witjaksono kepada wartawan di Terminal VIP Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (6/10)."Ditembak, enggak kena kepala, terus kemudian ditembak kedua, kena kaki," ujarnya.Setelah tertembak, Fiki berpura-pura mati agar tak kembali jadi sasaran."Dia katanya pura-pura mati. Pura-pura mati, enggak bergerak, diam aja," tuturnya.Situasi itu membuat seorang pembajak yang dekat dengan para ABK ikut membantu Fiki. Pembajak tersebut disebut sedih melihat Fiki terluka.Anak buah kapal MT Honour 25 Ashari Samadikun menangis saat menyampaikan keterangan pers di Terminal VIP Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (6/10/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO "Dan dia juga dibantu oleh pembajak lain, kan pembajak ada yang simpatik juga kepada ABK, dan bahkan yang sedih tahu bahwa dia tertembak gitu, karena udah 6 bulan bersama," ujarnya.Pembajak itu lalu menyelimuti dan menutupi tubuh Fiki agar tampak seperti sudah meninggal."Sama pembajak yang baik dia diselimuti, ditutup. Jadi memang seolah-olah dia sudah meninggal sehingga pembajak yang memang memburu dia enggak lagi memburu," katanya.Dirawat di GaroweSeusai operasi pembebasan, Fiki dan sejumlah ABK yang terluka diturunkan di Bandar Bayla, kota pesisir di Puntland. Tiga WNI lain yang dalam kondisi sehat melanjutkan perjalanan ke Bosaso."Yang sakit langsung dievakuasi ke rumah sakit di kota Garowe, itu ibu kotanya Puntland. Di situ Fiki dirawat," ujar Witjaksono.Meski fasilitasnya sederhana, Fiki tetap mendapat perawatan serius. Pemerintah Puntland juga terus memberi kabar perkembangan kondisinya kepada pihak Indonesia.Lobi ke Puntland dan Kabar yang Simpang SiurWitjaksono mengatakan ia lebih dulu mendekati pemerintah Puntland sebelum operasi dilakukan. Pendekatan juga ia lakukan ke pemerintah pusat Somalia di Mogadishu. Pasalnya, Somalia adalah negara federal dan tiap negara bagian punya otonomi, termasuk kepolisian sendiri."Saya dua kali berkunjung ke ibu kota Puntland, Garowe, untuk mendesak mereka untuk memperhatikan kasus yang dihadapi oleh WNI kita," bebernya.Menko PMK Sugiono (kiri) dan Menlu Arrmanatha Nasir (kedua kanan) berpelukan dengan ABK MT Honour 25 Ashari Samadikun (kanan) dan Adi Faizal (kedua kiri) usai konferensi pers di Terminal VIP Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (6/10). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO Usai operasi, informasi yang diterima Indonesia berubah-ubah. Awalnya semua ABK dikabarkan selamat. Lalu muncul kabar ada korban jiwa, termasuk kabar bahwa Kapten Azhari meninggal. Kabar itu terbantahkan setelah Azhari sendiri menghubungi pihak Indonesia."Tapi karena fluid, berita berubah-ubah, kemudian kita dapat kontak dari Kapten Azhari sendiri. Berarti masih hidup, selamat Kapten Azhari," lanjutnya."Dan menurut informasi Kapten Azhari, semua awak Indonesia hidup, tapi ada satu yang terluka kena tembakan di kaki," ujarnya.