Warga yang Protes Kembang Api saat Maulid di Pondok Pinang Konsultasi ke Polisi

Wait 5 sec.

Amanda Andono, korban dari kembang api di peringatan Maulid Nabi dan haul di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dikunjungi Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar di kediamannya, Senin (5/10/2026). Foto: Dok. IstimewaAmanda Andono (50), warga yang terlibat cekcok dalam kericuhan acara Maulid Nabi dan haul di Jalan Kramat 2, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mendatangi Polres Metro Jakarta Selatan, Senin (5/10) malam.Kedatangannya untuk berkonsultasi terkait rencana pelaporan atas kejadian yang berlangsung pada Sabtu (3/10) dini hari tersebut. Namun, Amanda mengaku belum membuat laporan secara resmi.“Saya datang ke sana (Polres Jakarta Selatan). Cuma tadi diarahkan, ya saya juga bingung, kenapa saya mau lapor ke dia (PPPA), tapi akhirnya diarahkan untuk ke Bankum,” kata Amanda saat dihubungi, Senin (5/10).Amanda kemudian berkonsultasi dengan bagian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) di lantai 3 Polres Metro Jakarta Selatan. Ia juga bertemu dengan tim PPPA DKI Jakarta untuk membahas kejadian tersebut.Dari konsultasi itu, Amanda diminta membuat kronologi kejadian yang kemudian diserahkan kepada pihak kepolisian dengan tembusan langsung kepada Kapolres Metro Jakarta Selatan.“Keputusannya adalah saya harus membuat kronologi yang harus segera diserahkan ke sana dengan tembusannya langsung Bapak Kapolres,” ujarnya.Amanda mengatakan dirinya belum mengetahui secara pasti alasan diarahkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan bagian Bantuan Hukum (Bankum), alih-alih langsung membuat laporan.“Saya kurang paham ya. Mungkin karena kasus ini sudah ketahuan seperti gimana, jadi saya dimintanya ke Bankum,” katanya.Klaim Alami IntimidasiIlustrasi kembang api. Foto: Zaki Zulfikar/ShutterstockAmanda mengatakan rencana pelaporan tersebut berkaitan dengan tindakan yang menurutnya tidak menyenangkan serta dugaan intimidasi yang dialaminya bersama sejumlah warga lain saat memprotes penggunaan kembang api dalam acara Maulid dan haul tersebut.“Sebetulnya lebih ke tindakan tidak menyenangkan kepada saya ya dan beberapa rekan saya yang juga mengalami hal yang sama. Karena kami protes tapi bukannya malah diterima atau, pokoknya ya bukan diterima, tapi ternyata malah diintimidasi,” tutur Amanda.Ia mengeklaim situasi kemudian berkembang hingga dirinya disebut mengalami serangan dan pelecehan. Amanda juga mengatakan anaknya mengalami luka di tangan ketika berusaha melindunginya.“Mau hampir dipukul. Anak saya aja sampai luka tangannya,” ujarnya.Amanda mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan dirinya berkonsultasi dengan PPPA DKI Jakarta. Menurutnya, kejadian tersebut turut melibatkan anaknya yang disebut terluka saat berusaha melindunginya.“Makanya saya kenapa lapor ke PPPA DKI Jakarta, karena ini hubungannya dengan anak saya dan saya. Karena anak saya terluka karena berusaha untuk melindungi saya,” kata Amanda.Akan Kembali Lapor ke PolresIlustrasi Polres Metro Jakarta Selatan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparanAmanda memastikan akan kembali ke Polres Metro Jakarta Selatan setelah menyelesaikan surat kronologi yang diminta. Ia berharap proses tersebut bisa dilakukan secepatnya agar persoalan tidak berlarut-larut.“Kalau saya bisa selesaikan malam ini, saya selesaikan malam ini, atau mungkin besok baru saya bikin. Tapi sebaiknya sih memang secepatnya supaya tidak berlarut-larut,” ujarnya.Amanda memperkirakan dirinya kemungkinan kembali ke Polres Metro Jakarta Selatan pada Selasa (6/10), meski waktunya belum dipastikan.“Mungkin iya (lapor lagi ke Polres), tapi mungkin agak sore atau malam,” katanya.Sebelumnya, acara peringatan Maulid Nabi dan haul oleh warga di Jalan Kramat 2, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, berujung ricuh pada Sabtu (3/10) dini hari.Dalam unggahan yang viral, kericuhan diduga bermula dari penggunaan kembang api bersuara keras dalam acara tersebut.Kembang api disebut dinyalakan secara intensif sekitar pukul 00.00 WIB hingga 01.00 WIB sehingga mengganggu warga yang sedang beristirahat.Sejumlah anak disebut terbangun dan menangis akibat suara ledakan kembang api. Situasi kemudian memanas setelah seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) mendatangi lokasi untuk memprotes penggunaan kembang api tersebut.