Para pekerja yang merakit panel surya di pantai waduk Tengeh sebagai bagian dari pembangunan pembangkit listrik tenaga surya terapung di Singapura. Foto: ROSLAN RAHMAN/AFPSingapura tengah mengkaji pengembangan infrastruktur pembangkit listrik tenaga gas baru dan terminal LNG di pulau Pulau Tekong bagian timur. Hal ini dilakukan sebagai langkah menghadapi kenaikan permintaan listrik di negara tersebut.Dikutip dari Bloomberg, Energy Market Authority (EMA) menyebutkan infrastruktur energi yang diusulkan akan dibangun tersebut dapat mencakup pembangkit listrik tenaga hidrogen dan teknologi rendah karbon lainnya.Negara singa tersebut sebelumnya dikabarkan akan menghadapi lonjakan permintaan listrik seiring pertumbuhan sektor-sektor yang membutuhkan banyak energi seperti pusat data.Pulau Tekong memiliki fasilitas pelatihan militer dan pemerintah juga sedang mempelajari terowongan bawah laut untuk menghubungkannya ke daratan utama.Berdasarkan laman resmi Singapore Press Centre, pembangunan infrastruktur energi ini juga dilakukan untuk memanfaatkan lahan di Pulau Tekong. Peningkatan permintaan listrik di Singapura akan seiring dengan pertumbuhan ekonomi menjadi latar belakang proyek ini.“EMA sedang meneliti potensi penempatan infrastruktur energi di sebagian lahan reklamasi di Pulau Tekong. Ini dapat mencakup pembangkit listrik tenaga gas alam yang siap menggunakan hidrogen, terminal gas alam cair, dan teknologi energi rendah karbon lainnya,” tulis EMA dalam keterangannya, dikutip Selasa (6/10).Foto udara Pulau Tekong, Singapura. Foto: RidhamSupriyanto/ShutterstockUntuk menilai kelayakan pembangunan klaster infrastruktur energi di Pulau Tekong, EMA akan menunjuk konsultan melalui tender yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026.Sebagai bagian dari studi tersebut, konsultan akan mengembangkan rencana induk yang diusulkan untuk membangun klaster infrastruktur energi di lahan seluas sekitar 200 hektare di Pulau Tekong. Penunjukan konsultan yang terpilih diharapkan pada pertengahan tahun 2027, dan studi tersebut diperkirakan akan memakan waktu sekitar dua tahun.“Energi adalah sumber daya penting untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan Singapura yang berkelanjutan. Sangat penting bagi kita untuk merencanakan kebutuhan infrastruktur energi kita di masa depan. Jika terwujud, klaster infrastruktur energi di Pulau Tekong akan memainkan peran penting untuk memenuhi kebutuhan energi Singapura yang terus meningkat,” Kepala Eksekutif EMA Puah Kok Keong.Sebelumnya, Singapura mendirikan entitas milik negara Singapore GasCo pada tahun lalu untuk memusatkan pengadaan gas alam cair dan memastikan pasokan yang stabil.Melalui perusahaan tersebut, Singapura berhasil mendapatkan pengiriman gas alam cair dalam jumlah yang cukup untuk bertahan hingga akhir tahun dari wilayah di luar Timur Tengah melalui pasar spot. Pasokan tersebut menjadi pengganti pengiriman yang tertahan di Selat Hormuz akibat perang dengan Iran.“Kami telah mengamankan cukup LNG untuk mengatasi pengurangan produksi yang kami lihat terjadi dari Timur Tengah,” CEO Alan Heng.Foto udara Pulau Tekong, Singapura. Foto: zelvan/ShutterstockHeng menyebut perusahaan tersebut juga mengincar kesepakatan jangka panjang dengan berbagai pemasok, termasuk AS, Australia, dan Kanada.Strategi perusahaan ini berubah setelah perang Iran-Israel meletus, mulanya Singapore GasCo berencana membangun portofolio pasokan gas jangka panjang Singapura tahun ini. Sejak saat itu, perusahaan tersebut juga mengelola kebutuhan jangka pendek Singapura dan membeli pengiriman spot.Perang Iran telah mendorong pemerintah untuk mencari pengiriman LNG di pasar spot, beralih ke alternatif seperti batu bara dan menerapkan pembatasan bahan bakar untuk mengatasi kekurangan.Singapura bergantung pada gas alam untuk menghasilkan hampir seluruh listriknya, dan mengimpor lebih dari 40 persen LNG-nya dari Qatar tahun lalu. Pada bulan Maret, Singapura memperingatkan kenaikan harga listrik karena konflik tersebut membebani pasokan.Importir tersebut juga berupaya untuk memperoleh sebanyak 4 juta ton LNG per tahun pada tahun 2032, dengan jumlah pastinya bergantung pada faktor-faktor termasuk ketersediaan gas melalui pipa, pembangkit listrik baru, dan permintaan.