Arthur Rimbaud Publikasikan Puisi Saat Usia 15 Tahun

Wait 5 sec.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.Dengan berbekal konsep Je est un autre. Dibaca “Zhe e-t-eh no-tr“. Artinya “Aku adalah orang lain”. Penyair Prancis Arthur Rimbaud (baca: “Ar-tyur Rem-bo”) , kelahiran 20 Oktober 1854 di Charleville dan tutup usia pada 10 November 1891 di Marseille, mengarungi proses kreatifnya dengan cara unik dan menjadi salah satu misteri dalam sejarah sastra dunia.Dalam rentang hidupnya selama 37 tahun itu, penyair yang terkenal lewat puisi seperti “Le bateau ivre“ (“Perahu yang Mabuk”) itu, mengusung cetusan konsepnya, bahwa penyair bukan merupakan pusat kesadaran yang mengendalikan atau mengontrol segalanya. Melainkan sebaliknya, penyair adalah saluran pasif bagi suara dan alam bawah sadar yang datang dari luar dirinya sendiri.Dalam konteks ini, penyair bertindak sebagai mediator yang membiarkan alam, realitas sosial, dan gejolak batin semesta menyapa dengan begitu karib mesra sehingga mengalir begitu saja menjadi karya. Posisi pasif penyair di sini, adalah tidak ada niatan untuk mengatur atau memanipulasinya secara egois.Di sini, peran penyair menjadi wadah dengan berbekalkan kepekaan rasa, menangkap suara zaman, penderitaan, atau keindahan dari luar diri penyair. Sikap pasif penyair, yaitu tidak memaksakan ego pribadi. Membiarkan isi, makna, dan bentuk puisi mengalir jujur sesuai dengan esensi rasa. Penyair hanya alat rekam dari realitas sosial, alam, atau misteri hidup.Dengan perkataan lain, kesadaran ego personal Arthur Rimbaud telah mengalami peleburan dan penggantian dengan suara asing yang berasal dari alam bawah sadar. Emosinya juga telah terkuras ekstrem, tatkala dia berada pada posisi peran sebagai wadah pasif bagi kekuatan gaib puitis yang menyebabkan terombang-ambing visi-visi yang melelahkan batin.Realitas MenarikMenjadi realitas menarik manakala, Arthur Rimbaud yang menulis puisi pada usia 15 tahun, kemudian memutuskan untuk berhenti pada usia 19 (atau 20) tahun. Sudah pasti kata interogatif “mengapa” akan segera datang bertandang?Arthur Rimbaud bisa jadi pada usia 19 (atau 20) tahun sudah tiba di batas pencapaian. Manakala dia merasa penjelajahan batin itu telah menggapai batas atau tidak lagi mampu menangkap kemutlakan, proses menulis kemudian menjadi kehilangan makna.Terdapat beban mental yang menggayuti dan melelahkan hati Arthur Rimbaud. Sebab, dia secara sadar dan sengaja mempraktikkan konsep estetika le voyant (baca: luh vwa-yahn), “penyair sebagai pelihat”. Melalui dérèglement de tous les sens (baca: de-reg-le-man de tu sanz), “penghancuran indra secara total”, dia mendorong jiwanya menembus alam bawah sadar dan merangkul kekacauan demi menggapai dimensi gaib seni (sisi batin, misteri, atau kekuatan spiritual karya sastra).Dalam mempraktikkan konsep dérèglement de tous les sens, Arthur Rimbaud meyakini penyair seharusnya mengalami semua bentuk cinta, penderitaan, dan kepedihan agar bisa menyerap racun jiwa dan menyaring intisarinya. Dia melampaui batas sadar, sengaja, menguras mental dan fisik, melalui kelelahan ekstrem demi membongkar batasan nalar manusia biasa.Ilustrasi kreasi Gemini AI.Ternyata keputusan pengunduran diri secara dini dari aktivitas menulis puisi secara total, memboyong krisis spiritual bagi Arthur Rimbaud. Beban psikologis yang luar biasa itu terekam dalam karyanya, Une Saison en Enfer (Suatu Musim di Neraka). Deraan perasaan tersiksa dan terkuras habis secara mental, mengakibatkan dia berhenti total menulis puisi pada usia 19 (atau 20) tahun.Kemudian dia menjalani sisa hidupnya selama 18 (atau 17) tahun sebagai penjelajah di Afrika sebelum meninggal pada usia 37 tahun. Dia lebih menyukai pilihan untuk pergi berkelana sambil berdagang. Sebab, dia merasakan setelah itu, betapa pengalaman hidup yang riil lebih penting daripada kata-kata di atas kertas.Di samping Arthur Rimbaud, ada juga penyair lain yang menghentikan kegiatan menulisnya pada usia muda. Dia penyair Prancis juga, namanya Paul Valéry (baca: Pol Va-le-ri). Lahir pada 30 Oktober 1871 di Sète dan meninggal pada 20 Juli 1945 di Paris). Dia mengalami krisis eksistensial dan memutuskan berhenti menulis puisi pada usia 20 tahun (1892). Dia membiarkan “keheningan” itu selama 20 tahun. Dan, pada usia sekitar 40 tahun, Paul Valéry menulis lagi.Dekomposisi EgoKembali ke Arthur Rimbaud. Konsep dekomposisi egonya mirip dengan pandangan surealisme awal. Dalam dekomposisi ego, dia memasukkan konsep penyair sebagai pelihat (le voyant). Ketika menulis surat kepada Paul Demény (1844 - 1918), penyair dan salah seorang pendiri Majalah Sastra La Jeune France.Paul Demény yang mendapat titipan 22 puisi awal Arthur Rimbaud yang pada kemudian waktu tersohor sebagai Cahiers de Douai (Buku Catatan Douai), dan menyelamatkan dari permintaan pemusnahan dari sang penyairnya sendiri, pernah menerima Lettre du Voyant (Surat Sang Visioner) pada 15 Mei 1871.Dalam surat itu, Arthur Rimbaud antara lain menulis, bahwa penyair seharusnya pelihat. Substansi konsep pelihat di sini, yaitu mengacaukan batas indra secara sadar dan total. Kekacauan itu terjadi ketika tangkapan mata, telinga, dan kulit tumpang tindih. Tidak tahu lagi batas kenyataan dan khayalan. Ada sensasi baru, pikiran atau perasaan mendobrak cara normal saat merasakan sesuatu.Dengan demikian, keluar dari pola pikir dan kebiasaan lama. Hal yang tidak diketahui (the unknown) pun kemudian dijangkau. Menjadi penerjemah atau penemu ekspresi bahasa baru yang universal.Adapun cara mencapai visi pelihat, yakni mengalami segala bentuk cinta, penderitaan, dan kepedihan. Serta, mendobrak norma logika agar jiwa berada pada titik pencapaian maksimal. Untuk menggapainya, penyair bukan sekadar perangkai kata, melainkan juga penjelajah kesadaran.Penjelajah kesadaran, yaitu ketika penyair memberikan kontribusi perannya untuk menyelami lubuk hati, pikiran manusia, dan rahasia yang paling mendalam. Dengan kepekaan rasa, penyair menangkap makna tersembunyi dari realitas. Lalu menyampaikannya kepada para pembaca.Menurut Arthur Rimbaud, penyair mesti menjadi pelihat lewat dérèglement de tous les sens (kekacauan atau disorganisasi pada semua indra). Penyair mesti pula melampaui batas realitas biasa demi demi menggapai hal-hal yang tidak terketahui (l'inconnu) melalui kekacauan indra dengan sengaja dan terencana.Oleh karena itu, penyair perlu keluar dari batasan normal. Dengan mengacaukan panca indra, berarti penyair menolak cara pandang, rasa, dan logika kaku. Penyair perlu pula bernalar untuk menegaskan, kekacauan itu bukan kegilaan biasa, melainkan suatu metode terencana guna merombak kesadaran.Ilustrasi dari Gemini AI.Penyair pelihat menembus gaib. Bertindak sebagai penerjemah hal-hal tersembunyi yang belum dapat terbaca orang awam. Pencari kebenaran tertinggi. Kalau perlu menanggung beban penderitaan jiwa agar tiba pada jangkauan rengkuh pengetahuan mutlak. Dan, pencipta bahasa baru, menggeser cara pandang dunia agar sastra mampu menyuarakan hal universal tanpa batas.Arthur Rimbaud dengan konsep je est un autre menekankan, betapa perlu menghancurkan kesadaran ”aku” yang rasional, logis, dan terikat aturan sosial. Adapun tujuan yang mengikutinya, agar suara dari alam bawah sadar dan dimensi lebih dalam dapat bermanifestasi tanpa kendali moral atau logika formal.Pandangan Arthur Rimbaud ini mempunyai raut kemiripan dengan surealisme awal. Tokoh sentral surealisme Prancis, André Breton, lahir di Tinchebray, 18 Februari 1896 dan tutup usia di Paris, 28 September 1966, mengagumi Arthur Rimbaud berkat pemikirannya menolak dominasi akal sehat (common sense).Penolakan Arthur Rimbaud terhadap ego personal memiliki kesejajaran dengan teknik penulisan otomatis (automatic writing) dalam surealisme. Sama-sama melangkahkan tujuan guna mematikan sensor akal sehat, sehingga karya sastra lahir secara murni dari dorongan bawah sadar yang tidak terkekang.Terdapat jamahan dekonstruksi subjek. Konsep bahwa subjek manusia atau penyair bukan pusat kendali yang utuh, seperti gagasan je est un autre, mengalami pengadopsian kaum surealis guna mengonstruksi identitas tetap. Penyair pun menjadi sekadar medium bagi visi-visi irasional yang terkadang menghadiahkan kejutan.Puisi PertamaPuisi karya Arthur Rimbaud, Les Étrennes des orphelins (Hadiah Tahun Baru untuk Anak-Anak Yatim Piatu) yang pertama kali muncul di media cetak, yaitu Majalah Mingguan Prancis La Revue pour tous terbitan 2 Januari 1870. Saat puisi terpublikasikan, usia sang penyair baru 15 tahun.Ilustrasi kreasi Gemini AI.Puisi ini menarasikan kesedihan dua anak yatim piatu tatkala merayakan tahun baru. Tak ada lagi ibu dan ayah yang menyertai. Terlebih di tengah suasana dingin. Begitulah alam berkehendak, 1 Januari senantiasa bersamaan dengan musim dingin di wilayah benua Eropa. Termasuk Prancis tentu saja.Puisi ini menarasikan suasana pagi hari pada hari tahun baru yang dingin dan suram. Manakala anak-anak lain dengan orang tua lengkap (atau setidaknya masih ada salah seorang di antaranya) terbangun dengan pelukan rasa riang di hati karena akan mendapat hadiah. Mereka terpenjara dalam mimpi dan kerinduan terhadap sang ibu. Tersengat dalam kesepian yang menjebak.Mari kita simak kutipan puisi yang relatif panjang tersebut dalam versi asli dan terjemahan Indonesianya:Les Étrennes des OrphelinsHadiah Tahun Baru untuk Anak-Anak Yatimi//La chambre est pleine d’ombre. On entend vaguement/ De deux enfants le triste et doux chuchotement.////Ruangan itu dipenuhi bayang-bayang. Terdengar samar/ Bisikan lembut nan pilu dari dua anak.////Leur front se penche, encore alourdi par le rêve,/ Sous le long rideau blanc qui tremble et se soulève.////Dahi mereka saling mendekat, masih berat oleh mimpi,/ Di balik tirai putih panjang yang bergetar dan tersingkap.////Au dehors, les oiseaux se rapprochent, frileux;/ Leur aile s’engourdit sous le ton gris des cieux.////Di luar, burung-burung berimpitan menahan dingin;/ Sayap mereka kaku di bawah langit yang kelabu.////Et la nouvelle année, à la suite brumeuse,/ Laissant traîner les plis de sa robe neigeuse,/ Sourit avec des pleurs et chante en grelottant.////Dan tahun baru, dalam iring-iringan berkabut,/ Menyeret lipatan jubah bersaljunya,/ Tersenyum di sela air mata dan bernyanyi sembari menggigil.//ii//Or les petits enfants, sous le rideau flottant,/ Parlent bas, comme on fait dans une nuit obscure./ Ils écoutent, pensifs, comme un lointain murmure.////Namun anak-anak kecil itu, di balik tirai yang berkibar,/ Berbisik pelan, seperti saat suasana gelap di malam hari./ Mereka mendengarkan dengan penuh renungan,/ suara bagai gumaman sayup di kejauhan.////Ils tressaillent souvent à la claire voix d’or/ Du timbre matinal, qui frappe et frappe encor/ Son refrain métallique en son globe de verre.////Mereka kerap tersentak mendengar suara jernih nan keemasan/ Dari lonceng pagi yang berdentang-berdentang lagi/ Mengalunkan nada logamnya di dalam kubah kacanya.////Et la chambre est glacée. On voit traîner à terre,/ Épars autour des lits, des vêtements de deuil.////Dan ruangan itu terasa membeku./ Terhampar di lantai,/ Berserakan di sekeliling tempat tidur, pakaian-pakaian duka.///L’âpre bise d’hiver, qui se lamente au seuil,/ Souffle dans le logis son haleine morose.////Angin musim dingin yang menusuk,/ melolong di ambang pintu,/ Mengembuskan hawa dingin yang kelam ke dalam rumah.////On sent, dans tout cela, qu’il manque quelque chose…/ Il n’est donc point de mère à ces petits enfants,/ De mère au frais sourire, aux regards triomphants?////Terasa ada sesuatu yang hilang dalam semua ini.../ Apakah anak-anak kecil ini tak memiliki ibu/ Tak punya ibu dengan senyum segar dan tatapan penuh semangat?////Elle a donc oublié, le soir, seule et penchée,/ D’exciter une flamme à la cendre arrachée,/ D’amonceler sur eux la laine et l’édredon?////Apakah ia lupa, saat petang, kala sendiri dan membungkuk lesu,/ Untuk menyalakan api dari abu yang dingin dan mati,/ Untuk menyelimuti mereka dengan tumpukan wol dan bulu angsa yang hangat?////Avant de les quitter, en leur criant: pardon!/ Elle n’a point prévu la froideur matinale,/ Ni bien fermé le seuil à la bise hivernale ?…////Sebelum meninggalkan mereka sembari berseru "Maafkan aku!",/ Apakah ia luput mengantisipasi dinginnya pagi,/ Atau gagal menghalau angin musim dingin dari ambang pintu?...////Le rêve maternel, c’est le tiède tapis,/ C’est le nid cotonneux où les enfants, tapis/ Comme de beaux oiseaux que balancent les branches,/Dorment leur doux sommeil plein de visions blanches!////Impian seorang ibu adalah hamparan permadani yang hangat dan lembut,/ Sebuah sarang empuk tempat anak-anak meringkuk rapat/ Bak burung-burung jelita yang diayun dahan yang bergoyang,/ Menjemput tidur lelap yang damai, penuh bayangan serbaputih!////Et là, c’est comme un nid sans plumes, sans chaleur,/ Où les petits ont froid, ne dorment pas, ont peur;/ Un nid que doit avoir glacé la bise amère …////Namun di sini, sarang itu tak berbulu halus ataupun hangat,/ Tempat si kecil kedinginan, terjaga, dan diliputi ketakutan;/ Sebuah sarang yang membeku diterjang angin yang menusuk ...//iii//Votre cœur l’a compris : ces enfants sont sans mère./ Plus de mère au logis ! — et le père est bien loin !…/ Une vieille servante, alors, en a pris soin.////Hatimu telah mengerti: anak-anak ini tak punya ibu./ Tiada lagi ibu yang menanti di rumah! /— dan ayah mereka pun jauh di sana!…/ Maka, seorang pelayan tua kini mengasuh mereka.////Les petits sont tout seuls en la maison glacée …/ Orphelins de quatre ans, voilà qu’en leur pensée/ S’éveille, par degrés, un souvenir riant.////Si kecil tinggal seorang diri di rumah yang dingin membeku …/ Namun, meski yatim piatu, sebuah kenangan indah/ Perlahan bangkit dalam benak mereka.////C’est comme un chapelet qu’on égrène en priant:/ Ah! quel beau matin que le matin des étrennes !/ Chacun, pendant la nuit, avait rêvé des siennes,////Bak untaian doa yang dipanjatkan:/ Ah! betapa indahnya pagi saat menerima hadiah Tahun Baru!/ Sepanjang malam, masing-masing telah memimpikan hadiahnya,////Dans quelque songe étrange où l’on voyait joujoux,/ Bonbons habillés d’or, étincelants bijoux/ Tourbillonner, danser une danse sonore,/ Puis fuir sous les rideaux, puis reparaître encore.////Dalam lamunan ajaib ketika mainan,/ Permen berbalut emas, dan permata berkilauan/ Tampak berputar dan menari dengan irama merdu,/ Lalu menghilang di balik tirai, hanya untuk muncul kembali.////On s’éveillait matin, on se levait joyeux,/ La lèvre affriandée, en se frottant les yeux;/ On allait, les cheveux emmêlés sur la tête,/ Les yeux tout rayonnants comme aux grands jours de fête////Mereka akan bangun pagi-pagi sekali dengan penuh sukacita,/ Mulut berair karena tak sabar,/ sembari mengucek mata yang masih mengantuk;/ Mereka pun melangkah, rambut acak-acakan,/ Mata berbinar cerah layaknya hari raya besar,////Et les petits pieds nus effleurant le plancher,/ Aux portes des parents tout doucement toucher;/ On entrait; puis, alors, les souhaits… en chemise,/ Les baisers répétés, et la gaieté permise!////Kaki-kaki mungil tanpa alas menyentuh lantai/ Untuk mengetuk pintu kamar orang tua mereka dengan lembut;/ Mereka pun masuk; lalu, sapaan hangat... dalam balutan baju tidur,/ Ciuman yang bertubi-tubi, dan kebebasan untuk bersukaria!//iv//Ah ! c’était si charmant, ces mots dits tant de fois …/ Mais comme il est changé, le logis d’autrefois !g/ Un grand feu pétillait, clair, dans la cheminée.////Ah! Betapa memikatnya kata-kata yang sering diucapkan itu dahulu ...// Namun, betapa jauh berbeda rumah masa lampau itu kini!/ Api besar yang terang benderang berderak di perapian.////Toute la vieille chambre était illuminée;/ Et les reflets vermeils, sortis du grand foyer,/ Sur les meubles vernis aimaient à tournoyer./ L’armoire était sans clefs, sans clefs la grande armoire!////Seluruh ruangan tua itu bermandikan cahaya;/ Dan semburat merah hangat, yang memancar dari perapian lebar,/ Seolah gemar menari-nari di atas perabotan yang mengilap./ Lemari itu tak memiliki kunci, lemari besar itu, tanpa kunci!////On regardait souvent sa porte brune et noire:/ Sans clefs, c’était étrange! On rêvait bien des fois/ Aux mystères dormant entre ses flancs de bois;/ Et l’on croyait ouïr, au fond de la serrure////Orang sering kali menatap pintunya yang gelap dan penuh bayang-bayang:/ Tanpa kunci, sungguh aneh rasanya!/ Sering kali orang berangan-angan/ Tentang misteri yang tersembunyi di balik dinding kayunya;/ Dan seolah mendengar, jauh di dalam lubang kunci////Béante, un bruit lointain, vague et joyeux murmure… / La chambre des parents est bien vide aujourd’hui!/ Aucun reflet vermeil sous la porte n’a lui.////Yang menganga, sebuah suara samar, gumaman riang yang sayup .../ Kamar orang tua kini terasa begitu hampa!/ Tiada lagi cahaya hangat yang memancar dari celah bawah pintu.////Il n’est point de parents, de foyer, de clefs prises;/ Partant, point de baisers, point de douces surprises./ Oh ! que le jour de l’an sera triste pour eux!////Tiada lagi orang tua, tiada perapian, tiada kunci yang diambil;/ Maka, tiada pula kecupan ataupun kejutan manis./ Oh! Betapa pilunya Hari Tahun Baru bagi mereka!////Et, tout pensifs, tandis que de leurs grands yeux bleus/ Silencieusement tombe une larme amère,/ Ils murmurent: "Quand donc reviendra notre mère?"////Dan, dalam lamunan, saat air mata kepedihan/ Diam-diam jatuh dari mata biru mereka yang besar,/ Mereka berbisik: "Kapan, oh kapan, Ibu akan kembali?"//v//Maintenant, les petits sommeillent, tristement./ Vous diriez, à les voir, qu’ils pleurent en dormant,/ Tant leurs yeux sont gonflés et leur souffle pénible:/ Les tout petits enfants ont le cœur si sensible!///Kini si kecil terlelap dalam duka./ Melihat mereka, kau akan mengira mereka menangis dalam tidur,/ Begitu bengkak mata mereka, begitu berat napas mereka:/ Sungguh lembut hati anak-anak kecil!////Mais l’ange des berceaux vient essuyer leurs yeux/ Et dans ce lourd sommeil met un rêve joyeux,/ Un rêve si joyeux que leur lèvre mi-close,/ Souriante, paraît murmurer quelque chose.////Namun malaikat penjaga buaian datang mengusap mata mereka/ Dan menanamkan mimpi indah di tengah lelapnya tidur itu,/ Mimpi yang begitu indah hingga bibir mereka yang sedikit terbuka,/ Sambil tersenyum, seolah menggumamkan sesuatu.////Ils rêvent que, penchés sur leur petit bras rond,/ Doux geste du réveil, ils avancent le front;/ Et leur vague regard tout autour d’eux repose./ Ils se croient endormis dans un paradis rose…////Mereka bermimpi, bersandar pada lengan mungil nan bulat/ Sebuah gerakan lembut saat terjaga, mereka mencondongkan dahi ke depan;/ Dan tatapan sayu mereka menyapu sekeliling./ Mereka membayangkan diri tertidur di surga yang bermandikan rona merah muda...////Au foyer plein d’éclairs chante gaiement le feu;/ Par la fenêtre, on voit là-bas un beau ciel bleu;/ La nature s’éveille et de rayons s’enivre;/ La terre, demi-nue, heureuse de revivre,/ A des frissons de joie aux baisers du soleil,////Di dekat perapian yang berkilat hidup, api bernyanyi riang;/ Dari balik jendela, tampak langit biru yang indah;/ Alam pun bangkit, mabuk oleh kehangatan sinar surya;/ Bumi, yang setengah telanjang dan bahagia hidup kembali,/Bergetar penuh sukacita menyambut kecupan sang surya,////Et, dans le vieux logis, tout est tiède et vermeil,/ Les sombres vêtements ne jonchent plus la terre,/ La bise sous le seuil a fini par se taire:/ On dirait qu’une fée a passé dans cela!…////Dan, di dalam rumah tua itu, segalanya terasa hangat dan bersuasana merah muda;/ Pakaian gelap tak lagi berserakan di lantai,/ Angin dingin di ambang pintu pun akhirnya mereda:/ Seolah-olah ada peri yang baru saja melintas di sini!…////Les enfants, tout joyeux, ont jeté deux cris… Là,/ Près du lit maternel, sous un beau rayon rose,/ Là, sur le grand tapis, resplendit quelque chose./ Ce sont des médaillons argentés, noirs et blancs,////Anak-anak itu, diliputi kegembiraan, berseru... Lihatlah,/ Di samping tempat tidur ibu,/ di bawah pancaran cahaya merah muda yang indah,/ Di sana, di atas permadani besar, sesuatu berkilau cemerlang./ Ada medali-medali perak, hitam, dan putih,////De la nacre et du jais aux reflets scintillants,/ Des petits cadres noirs, des couronnes de verre,/ Ayant trois mots gravés en or.////Paduan mutiara dan batu jet yang berkilauan indah,/ Bingkai-bingkai hitam mungil, serta untaian hiasan kaca,/ Yang memuat tiga kata terukir dalam warna emas.//Demikian kutipan seutuhnya. Terdapat sentuhan makna yang begitu mendalam pada Puisi Les Étrennes des Orphelins (Hadiah Tahun Baru untuk Anak-Anak Yatim). Kata foyer (rumah/perapian) yang tidak lagi memancarkan flambeau (obor/api) melambangkan rumah yang telah kehilangan entitas ibu sebagai oase kehangatan dan kehidupan dalam keluarga.Arthur Rimbaud menempatkan tahun baru sebagai latar narasi puisinya itu, sebagai bentuk upaya kreatifnya untuk menunjukkan kontras yang sedemikian lebar antara kebahagiaan anak-anak dalam naungan keluarga masing-masing dan penderitaan batin anak-anak yatim piatu.Karya TerakhirIlustrasi kreasi Gemini AI.Arthur Rimbaud berhenti menulis puisi setelah tahun 1872. Buku puisinya yang terakhir, yaitu Derniers vers (Bait-Bait Terakhir). Kemudian dia beralih ke prosa liris. Buku Une Saison en Enfer (Suatu Musim di Neraka) merupakan puisi panjang dalam bentuk prosa (prose poem). Ini karya terakhirnya yang melafazkan krisis spiritual sebelum dia hengkang dari dunia sastra pada usia 19 (atau 20) tahun.Adieu (Perpisahan) merupakan bagian pamungkas dari karya prosa liris tersohor Arthur Rimbaud tersebut yang terbit pada tahun 1873. Bagian ini menjadi penanda sang penyair telah kembali dari gejolak spiritual menuju ke kenyataan dunia. Prosa liris ini menjadi semacam proklamasi dari Arthur Rimbaud bahwa dirinya hendak meninggalkan ambisi magis, halusinasi, dan pencarian kekuasaan supernatural.Arthur Rimbaud pun setelah pelepasan ilusi itu, berupaya menggapai realitas baru. Dia menyambut fajar dengan kesabaran yang terawat dan tekad untuk "menjadi sepenuhnya modern" (il faut être absolument moderne). Kalimat pembuka yang ikonik prosa liris penutup tersebut terasa begitu menohok.Tulis Arthur Rimbaud, “L'automne déjà! Mais pourquoi regretter un éternel soleil, si nous sommes engagés à la découverte de la divine clarté...?” (Musim gugur telah tiba! Tapi mengapa menyesali matahari abadi, jika kita berkomitmen menemukan kejelasan ilahi...?).Kalimat ini konon menandai transisi bagi Arthur Rimbaud dari gejolak halusinasi dan “neraka” masa lalu bergerak ke arah kenyataan yang lebih sadar, dewasa, dan berpijak pada Bumi (menyongsong fajar dengan kesabaran nan membara).Dan, penutup ikonis kian menegaskan hal iti. “Ces jours-ci, je serai si fort, je permettrai la tombe. Et l'on ne m'aura point menti. Enfin je tendrai la main vers la clarté” (Di hari-hari ini, aku akan begitu kuat, aku akan mengizinkan kuburan. Dan aku tidak akan dibohongi lagi. Akhirnya aku akan mengulurkan tangan ke arah cahaya).Karya termasuk akhir dari Arthur Rimbaud sebelum berhenti total dalam kegiatan menulis adalah bagian penutup dari buku Une Saison en Enfer dengan judul Adieu. Serta, kumpulan prosa liris dalam Les Illuminations (Iluminasi) yang mendapatkan realisasi penyusunan pada kisaran tahun 1873 - 1874.Les Illuminations merupakan kumpulan puisi prosa yang hidup dan bersuasana seperti mimpi. Ditulis Arthur Rimbaud di kisaran tahun 1872 - 1874. Paul Verlaine (30 Maret 1844 - 8 Januari 1896), sahabat sesama penyair, yang memberikan judul tersebut. Dan, membantu menerbitkannya di Paris pada 1886 tatkala Arthur Rimbaud tengah melanglang buwana.Sebagian besar karya ini menggunakan teks yang mengalir bebas. Bukan baris-baris berima tradisional. Tulisannya menghadirkan panorama kota, alam, dan lanskap magis yang begitu dinamis memeluk perubahan. Begitu terasa seperti mimpi atau teka-teki yang bergerak sedemikian gesit.Arthur Rimbaud menentukan diksi berlandaskan pada kesan dan bunyi paduannya. Bukan sempadan makna harfiah yang terkesan kurang luwes. Hal ini sedemikian menancapkan pengaruh kepada para penulis modern dan surealis pada kemudian hari.Kebanyakan karya di Les Illuminations ini, dia menulisnya ketika bepergian bersama Paul Verlaine melintasi Britania Raya dan wilayah Eropa lainnya. Makna judul buku tersebut, menurut catatan Paul Verlaine yang memberikannya, merujuk pada ukiran atau ilustrasi yang menunjukkan warna. Kumpulan karya ini terbit pertama kali pada 1886 lewat Majalah La Vogue berkat inisiasi Paul Verlaine.Adapun keunikan dan daya tarik puisi Arthur Rimbaud terletak pada kepiawaiannya mendobrak aturan baku gramatika dan norma sosial pada zamannya. Bahasa yang bergulir dalam karyanya begitu penuh gairah serta emosi mentah. Respons perasaan yang muncul spontan tanpa disaring, ditutupi, atau dikendalikan pikiran sadar.Karya-karya Arthur Rimbaud merupakan akar inspiratif untuk gerakan seni modern dan surealis. Terlebih karena bait-baitnya, seperti mimpi, penuh asosiasi warna, bunyi, dan imajinasi kosmik yang melompat-lompat. Maksudnya, raut suasana dalam puisi tidak nyata, kabur, dan penuh kejutan seperti mimpi.Kemudian, kata-kata yang membentuk bangunan puisi-puisinya, menghidupkan asosiasi khalayak pembaca untuk membayangkan warna tertentu atau mendengar bunyi tertentu secara simultan. Juga imajinasi kosmik yang berkaitan dengan bintang, langit, alam semesta, atau hal-hal besar di luar Bumi. Relasi antargagasan tidak lurus, tetapi melompat dari satu angan-angan menuju ke angan-angan lain.Alasan BerhentiArthur Rimbaud berhenti menulis puisi dan prosa liris pada usia 19 (atau 20) tahun. Alasan dia berhenti, lantaran merasa sudah tiba pada batas radikal eksperimen estetikanya. Dia merasa telah mengungkapkan segala sesuatunya melalui karya puncaknya, seperti Une Saison en Enfer dan Les Illuminations. Dan, dia menganggap seni kata-kata tidak sanggup “mengubah hidup” sebagaimana angan-angannya semula.Sementara itu, rekan sesama penyair, Paul Verlaine, mengemukakan bahwa Arthur Rimbaud berhenti menulis puisi dan prosa liris, karena dia telah beranjak dewasa. Jiwa “anak kecil” atau “kekanak-kanakan” yang memberontak di dalam dirinya telah menemui ajal.Arthur Rimbaud juga kecewa pada dunia sastra. Sebab, dia merasa seni dan kata-kata telah gagal mengubah hidup atau membebaskan manusia. Dia menilai dunia sastra borjuis sangat munafik, dangkal, dan terbatas. Dia pun merasa dunia seni bohemian di Paris palsu dan sarat dengan drama yang berlebihan.Terlebih lagi kasus kekerasan yang pernah menimpanya di lingkungan tersebut menyebabkannya kehilangan rasa aman, sehingga pikirannya tidak menjadi tenang. Arthur Rimbaud pun selanjutnya memilih berhenti total dari dunia sastra pada usia yang boleh terbilang relatif muda. Semua itu, demi menggapai kedamaian hidup, jauh dari lingkaran pergaulan lama tersebut.Oleh karena itu, Arthur Rimbaud lebih memilih menjalani kehidupan riil yang penuh aksi. Dia merasakan dahaga pengalaman fisik dan menetapkan pilihan menukar pena dengan petualangan nyata. Dia kemudian lebih menekuni aktivitas menjelajahi dunia serta menjadi pedagang di Afrika dan Timur Tengah.Nah, sebagai catatan ringan penutup tulisan ini perlu dikisahkan, Arthur Rimbaud pernah singgah dan tinggal di Pulau Jawa pada 1876. Pada Mei tahun itu, dia mendaftar sebagai tentara bayaran Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), Tentara Kerajaan Hindia Belanda di Harderwijk, Belanda. Motifnya demi memperoleh uang bonus 300 Gulden.Pada 22 Juli 1876, dia tiba di Batavia menumpang Kapal Prins van Oranje dari Pelabuhan Den Helder, Belanda. Delapan hari setelah kedatangannya, dia melanjutkan perjalanan dengan kapal uap Minister Fransen van de Putte ke Semarang. Ini bagian dari perjalanannya sebagai tentara bayaran KNIL.Tiba di Pelabuhan Semarang pada 1 Agustus 1876. Dia mendapat penugasan di Garnisun Militer Salatiga. Dari Semarang, bersama rekan-rekan yang mendapat penugasan di tempat sama, dia menumpang kereta api milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), melewati Kedungjati, dan turun di Stasiun Tuntang. Kemudian menempuh sisa jarak sekitar delapan kilometer ke Salatiga dengan berjalan kaki.Hanya dalam hitungan tidak lebih dari dua minggu (2 - 15 Agustus 1876) berada di Salatiga, Arthur Rimbaud memutuskan untuk membelot dari dinas militer. Sebab, dia tidak memiliki sifat yang cocok dengan disiplin barak yang ketat. Dan, niat awalnya saat mendaftar hanya demi uang panjar kontrak dan tiket gratis guna melunasi hasrat mengembara. Bukan untuk menjalani kehidupan sebagai tentara kolonial.Selama dua minggu di Salatiga, dia segera merasakan kejenuhan dan tertekan dengan rutinitas barak. Dia kabur sebelum pasukannya menerima penugasan terjun ke medan perang. Dia pun desersi, melarikan diri dari dinas kemiliteran sebagai KNIL. Dia, menurut dugaan, berjalan kaki ke pelabuhan di Semarang. Selanjutnya menumpang kapal dagang non-Belanda agar bisa melanjutkan petualangan ke lokasi selanjutnya. ***