Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang, tempat air memulai perjalanan panjang sebagai bagian dari sistem Sungai Citarum. Foto: Dokumentasi pribadi.Bandung memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Sebagian tampak megah dan eksklusif, sementara sebagian lainnya justru sederhana dan tenang. Dari sekian banyak tempat yang nampak sederhana, ada beberapa tempat yang menyimpan cerita panjang dan menarik tentang Bandung. Salah satunya adalah Situ Cisanti.Situ Cisanti dikenal sebagai salah satu danau kecil atau telaga yang terletak di kaki Gunung Wayang, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Situ Cisanti juga dikenal sebagai titik nol Sungai Citarum atau hulu Sungai Citarum. Di sinilah orang akan menjumpai sejumlah mata air sebagai sumber awal aliran Sungai Citarum. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum menyatakan bahwa terdapat tujuh mata air yang mengalir di kawasan Situ Cisanti, yaitu Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, Cikawudukan, dan Cisanti.Bagi sebagian orang, Situ Cisanti dikenal sebagai salah destinasi favorit warga setempat dan wisatawan lokal untuk menikmati udara sejuk dan pemandangan gunung yang memanjakan mata, atau sekadar mencari suasana yang tenang.Meski demikian, patut kita sadari bahwa keheningan Situ Cisanti menawarkan cerita yang jauh lebih besar. Dari sinilah kita dapat melihat kembali tentang bentang alam Cekungan Bandung dan bagaimana air yang menjadi bagian dari situ menjadi penting bagi kehidupan di bagian hulu hingga hilir Sungai Citarum.Tujuh mata air di Situ Cisanti, Kertasari, Kabupaten Bandung. Foto: BBWS Citarum.Air tidak mengenal batas administrasiSaat melihat Peta Cekungan Bandung, kita mungkin melihat bagaimana wilayah ini seolah-olah dikotak-kotakkan oleh batas administrasi, yang mana kita ketahui Cekungan Bandung meliputi Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan sebagian Kabupaten Sumedang.Padahal, alam tidak bekerja berdasarkan pagar administrasi tadi. Air tidak mengenal batas awal dan akhir suatu kabupaten atau kota. Ia mengikuti kemiringan lereng, lembah, batuan, dan gravitasi.Dari tempat yang lebih tinggi, air mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Sebagian air meresap ke dalam tanah, sebagian mengalir di permukaan, sebagian lainnya dapat terkumpul dalam suatu sistem aliran sungai. Perjalanan panjang air dari hulu hingga hilir menunjukkan interaksi panjang air dengan berbagai bentang alam yang telah terbentuk melalui proses geologi selama ribuan hingga jutaan tahun yang lalu.Oleh karena itu, ketika berbicara tentang air di Cekungan Bandung, kita seharusnya melihat juga sistemnya secara utuh, baik saluran drainase, sungai, bendungan atau waduk, bahkan genangan air sekalipun yang muncul di sekitar tempat tinggal kita. Lebih luas lagi kita perlu melihatnya sebagai suatu bentang alam yang menjadi tempat semua proses tadi berlangsung.Dan untuk memahami bentang alam itu, Situ Cisanti menjadi salah satu tempat yang menarik.Dari kaki Gunung Wayang menuju Cekungan BandungSitu Cisanti terletak di bagian hulu Sungai Citarum, tepatnya pada kawasan pegunungan di selatan Cekungan Bandung. Di sini kita melihat bagaimana wilayah yang lebih tinggi berfungsi sebagai daerah tangkapan air. Dari kawasan tersebut, air bergerak mengikuti kemiringan lereng dan jaringan sungai menuju wilayah yang lebih rendah.Perjalanan panjang air tersebut menjadi bagian dari yang kita kenal sebagai sistem Sungai Citarum. Oleh karena itu, Situ Cisanti tidak seharusnya dipandang sebagai suatu objek tunggal berupa telaga atau danau kecil di kawasan pegunungan tetapi sebagai bagian dari sistem hidrologi yang jauh lebih luas.BBWS bahkan menggunakan istilah “kilometer nol” untuk menandai posisi Situ Cisanti sebagai awal mula perjalanan Sungai Citarum. Pada Desember 2025, BBWS menekankan pentingnya kawasan ini sebagai titik awal Sungai Citarum yang membawa air ke berbagai wilayah di Jawa Barat.Dari sini kita memahami suatu hal sederhana: persoalan yang terjadi di hilir tidak selalu dapat dipisahkan dari apa yang terjadi di hulu. Pun demikian, hubungan tersebut bukan berarti bahwa setiap persoalan yang terjadi di hilir semata-mata disebabkan oleh apa yang terjadi di hulu.Cekungan Bandung bukan sekadar tempat yang rendahJika kita mendengar istilah “cekungan” maka yang terbersit oleh kita adalah suatu wadah atau mangkuk besar. Interpretasi atau gambaran tersebut tidak sepenuhnya keliru namun terlalu sederhana jika kita langsung menghubungkan pemaknaan itu dengan istilah “Cekungan Bandung”.Cekungan Bandung merupakan suatu bentang alam yang terbentuk melalui sejarah geologi yang panjang di mana di dalamnya dapat ditemukan berbagai bentuk lahan, mulai dari kawasan pegunungan dan perbukitan di bagian tepi atau pinggir cekungan hingga kawasan dataran yang relatif rendah di bagian tengah.Proses pembentukan bentang alam tersebut melibatkan berbagai proses seperti proses fluvial, denudasional, vulkanik, dan proses geologi lainnya dalam waktu yang panjang.Dalam kondisi alaminya, air merupakan salah satu kekuatan yang bekerja membentuk bentang alam. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, aktivitas manusia juga menjadi salah satu faktor yang semakin kuat dalam mengubah bentang alam tersebut. Kawasan yang dahulu berfungsi sebagai lahan terbuka, sawah, kebun, atau area resapan berubah menjadi jalan, permukiman, kawasan industri, dan berbagai bentuk pembangunan lain.Perubahan tersebut tidak selamanya harus dipandang sebagai suatu hal yang negatif, tetapi perlu kita lihat sebagai suatu arah pembangunan yang memerlukan ruang-ruang khusus tanpa mengabaikan fungsi lahan lainnya. Persoalannya kemudian adalah: apakah perkembangan ruang tersebut sudah cukup mempertimbangkan karakter bentang alamnya?Dari hulu menuju Cekungan BandungPertanyaan tersebut menggelitik untuk dijawab ketika kita mencoba untuk renungkan perjalanan air dari kawasan pegunungan ke bagian yang lebih rendah dari Cekungan Bandung.Dari bagian hulu, air bergerak mengalir mengikuti kemiringan lereng membentuk jaringan sungai menuju bagian yang lebih rendah. Dalam perjalanannya, air berinteraksi dengan bentang alam sekaligus dengan ruang yang semakin banyak dimanfaatkan manusia untuk permukiman, infrastruktur, pertanian, dan berbagai aktivitas lainnya.Di lain pihak, hujan tetap turun, air tetap mengalir mengikuti lereng dan gravitasi, sebagian meresap ke dalam tanah. Yang berubah hanyalah ruang gerak dan ruang resap air. Di sinilah perspektif geomorfologi (ilmu bentang alam) menjadi penting.Geomorfologi tidak sekadar memahami bentuk bukit, gunung, lembah, dataran, dan sebagainya. Lebih dari itu, ilmu ini membantu kita memahami bagaimana bentang alam dapat terbentuk, mengapa bentang alam memiliki karakter tertentu, dan bagaimana bentang alam merespons perubahan yang terjadi di atasnya.Karena itu, ketika berbicara tentang persoalan air di Cekungan Bandung, pertanyaan yang perlu kita jawab bersama misalnya: Dari mana air datang? Di mana air dapat meresap dan tertahan? Ke mana air bergerak? Bagaimana karakter bentang alam memengaruhi pergerakannya? Dan apa yang telah berubah pada bentang alam tersebut?Papan informasi Situ Cisanti yang menggambarkan posisi kawasan ini sebagai bagian penting dari hulu Sungai Citarum. Foto: Dokumentasi pribadi.Menjaga Situ Cisanti bukan hanya menjaga airnyaDari Situ Cisanti kita melihat bagaimana air menjadi bagian dari perjalanan panjang melintasi Cekungan Bandung. Dari kawasan pegunungan, air mengalir mengikuti lereng dan jaringan sungai menuju wilayah yang lebih rendah dan berinteraksi dengan bentang alam yang terbentuk melalui proses geologi dalam waktu yang panjang.Namun, bentang alam tersebut kini mengalami perubahan yang tidak mungkin dielakkan akibat perkembangan permukiman, pertanian, infrastruktur, dan sebagainya. Hujan sebagai proses alam tetap turun, air tetap mengalir mengikuti gaya gravitasi, namun ruang gerak air terus berubah.Di sinilah geomorfologi menjadi penting. Memahami Cekungan Bandung tidak cukup hanya dengan melihat sungai atau saluran air yang ada di samping tempat tinggal kita tetapi juga perlu memahami karakter bentang alam dan penggunaan lahannya. Pada akhirnya, persoalan air di Cekungan Bandung adalah bagian dari hubungan panjang antara hulu, bentang alam, air, dan manusia. Suatu hubungan yang mungkin paling sederhana untuk kita pahami dengan kembali melihat Situ Cisanti—tempat air memulai perjalanan panjangnya menyusuri Cekungan Bandung menuju hilir Sungai Citarum.