BMKG Catat 3.055 Gempa Susulan di NTT, Peluruhan Berlangsung 3-4 Pekan

Wait 5 sec.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparanKepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani memperkirakan proses peluruhan gempa 7,7 magnitudo di Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung hingga tiga sampai empat pekan ke depan.Faisal memastikan gempa susulan yang terjadi saat ini akan semakin mengecil. Menurutnya, dalam waktu dekat tidak akan terjadi gempa susulan yang lebih besar daripada gempa utama yang dapat memicu tsunami.Hingga pukul 17.00 WIB pada Rabu (19/8), BMKG mencatat 3.055 gempa susulan. Gempa susulan terbesar tercatat 6,2 magnitudo, sedangkan yang terkecil 1,1 magnitudo.“Jadi jumlah gempa susulan sampai dengan jam 17.00 sore hari ini, 19 Agustus 2026, adalah sejumlah 3.055 gempa susulan dengan gempa susulan terbesar adalah 6,2 magnitudo dan yang terkecil 1,1 magnitudo. Yang dirasakan oleh manusia itu 88 gempa,” jelas Faisal di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/8).Menurut Faisal, banyaknya gempa susulan merupakan bagian dari proses setelah gempa utama. Mengingat gempa yang terjadi cukup besar, proses peluruhan membutuhkan waktu beberapa pekan.Faisal meminta masyarakat tidak hanya berfokus pada jumlah gempa susulan. Menurutnya, hal yang juga penting ialah memberikan ketenangan dan kepastian kepada masyarakat, khususnya mereka yang masih berada di lokasi pengungsian.“Jadi ketika terjadi gempa, tim BMKG sudah ada di lokasi dan kita membersamai masyarakat, Forkopimda, segenap tim SAR, TNI, Polri untuk benar-benar memberikan kenyamanan bagi masyarakat karena ada dua isu utama yang dihadapi,” katanya.Kondisi Gereja St. Fransiskus Asisi-Karot yang rusak pascaditempa gempa bumi di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin (17/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERSMasyarakat Tak Perlu Khawatir Gempa Besar dalam Waktu DekatFaisal mengatakan salah satu kekhawatiran utama masyarakat ialah kemungkinan kembali terjadi gempa besar dalam beberapa hari hingga beberapa minggu ke depan.“Yang pertama, ketakutan dari masyarakat akan terjadi gempa besar dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu ke depan. Nah, ini perlu dipastikan bahwa diperlukan waktu hingga puluhan tahun, ya, agar sesar naik di busur belakang dari Flores ini dapat mengumpulkan energi dan menghasilkan gempa sebesar yang ada sekarang ini atau bisa lebih besar atau lebih kecil. Jadi diperlukan waktu panjang,” kata Faisal.Karena itu, Faisal meminta masyarakat tetap tenang sembari BMKG memantau perkembangan aktivitas gempa di NTT.“Kemudian, masyarakat tidak perlu khawatir tentang itu. Mohon tetap tenang bahwa kita terus memantau kondisinya. Insya Allah dalam 3 sampai 4 minggu ke depan itu peluruhan akan terjadi,” tuturnya.Kendaraan melintas di jalan yang retak akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTOFaisal mengatakan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir juga khawatir gempa susulan dapat memicu tsunami.Dia memastikan BMKG mampu memberikan peringatan dini tsunami dengan cepat apabila terjadi gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami.“Kemudian yang kedua adalah isu yang berkembang di masyarakat, ketakutan untuk dapat berada di daerah tempat tinggalnya yang terutama di dekat pantai, khawatir akan ada tsunami besar yang akan terjadi. Nah, ini kami pastikan bahwa pemerintah Indonesia melalui BMKG itu mampu memberikan peringatan dini tsunami akibat gempa ini kurang dari 3 menit sesuai dengan protokol internasional,” jelasnya.Dengan sistem tersebut, informasi peringatan dini dapat disampaikan kepada masyarakat untuk segera melakukan tindakan penyelamatan apabila terdapat ancaman tsunami.Meski demikian, Faisal menekankan sistem peringatan dini harus dibarengi kesiapan masyarakat dan pemerintah daerah dalam melakukan evakuasi.“Di sini kita tentunya perlu memperkuat terkait dengan SOP untuk evakuasinya, kemudian juga rambu-rambu evakuasi. Apakah evakuasinya vertikal atau menuju ke tempat yang lebih aman? Ini juga harus kita siapkan bersama dengan BNBP, bersama dengan Basarnas dan Forkopimda yang ada di lokasi tersebut,” ucapnya.Warga mengamati tanah yang retak dan longsor akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTOFaisal menjelaskan BMKG terus memantau perkembangan gempa susulan di NTT. Berdasarkan pengamatan BMKG sejauh ini, tidak terdapat indikasi terjadinya gempa besar baru. Aktivitas yang berlangsung merupakan bagian dari proses peluruhan.“Kalau sejauh ini dari pengamatan, ini saya bersama Direktur Gempa Bumi dan Tsunami di BMKG dalam pengamatan kami, ini tidak terjadi gempa besar, tapi yang sekarang berproses adalah peluruhannya,” ungkapnya.Pemantauan dilakukan secara langsung karena BMKG memiliki sejumlah UPT dan pos di wilayah Flores. BMKG memiliki empat UPT di Pulau Flores, yakni di Labuan Bajo, Ruteng, Maumere, dan Larantuka, serta dua pos di Ende dan Bajawa.Selain jaringan pemantauan di daerah, BMKG memiliki dua Multi Hazard Early Warning System (MHEWS), yakni di Kemayoran dan Denpasar.“Nah, ini kedua bangunan dibangun dengan sistem seismic base isolation yang membuat bangunannya tahan terhadap gempa. Harapannya kalau nanti ada kejadian yang tidak kita harapkan di Jakarta, yang back up yang ada di Denpasar dapat mengambil alih untuk dapat memberikan peringatan bagi seluruh masyarakat di Indonesia,” ucap dia.Menara Masjid Nurul Huda yang rusak usai diguncang gempa 7,7 magnitudo di Reok, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERSGempa Susulan Cenderung Semakin MengecilTerkait kemungkinan tsunami di tengah masih terjadinya gempa susulan, Faisal menjelaskan pola umum gempa menunjukkan gempa susulan setelah mainshock cenderung semakin kecil dan kemudian meluruh.“Sebenarnya kalau dari umumnya untuk gempa-gempa yang terjadi di seluruh dunia itu ketika terjadi mainshock, kemudian aftershock-nya akan semakin mengecil dan kemudian meluruh, ya,” katanya.Namun, dia mengakui dalam kasus tertentu gempa utama dapat lebih kecil dibandingkan gempa susulannya. Meski demikian, kondisi tersebut sangat jarang terjadi.“Tapi juga ada satu dua gempa yang terjadi mainshock-nya itu lebih kecil dari aftershock-nya, tapi ini sangat jarang terjadi,” ungkapnya.Menara Masjid Nurul Huda yang rusak usai diguncang gempa 7,7 magnitudo di Reok, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERSSementara Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menegaskan gempa susulan setelah gempa utama 7,7 M saat ini cenderung lebih kecil. Dia memastikan tidak ada gempa susulan yang lebih besar daripada gempa utama tersebut.“Jadi, bisa kita pastikan untuk gempa susulan itu kan lebih kecil ya sekarang. Tidak ada gempa susulan yang lebih besar dari gempa utamanya. Gempa utamanya sudah 7,7 dan itu sudah menjadi gempa yang memiliki maksimum magnitudo yang terjadi di Back Arc Thrust. Back Arc Thrust itu punya potensi magnitudo di sana 7,8. Sekarang sudah rilis 7,7,” jelas dia.Menurut Wijayanto, aktivitas gempa susulan yang masih terjadi merupakan bagian dari proses menuju kestabilan lempeng.Karena itu, BMKG memastikan dalam waktu dekat tidak akan ada gempa susulan yang lebih besar daripada gempa utama yang dapat mengakibatkan tsunami.“Jadi, kita pastikan bahwa dalam waktu dekat tidak akan ada gempa susulan yang bisa mengakibatkan terjadinya tsunami,” tegas dia.