Wall Street Melemah, Tertekan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS

Wait 5 sec.

Ilustrasi Wall Street. Foto: ShutterstockIndeks saham utama Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis (20/8). Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS menekan minat investor terhadap aset berisiko, sementara kinerja Walmart yang turun juga memperburuk sentimen investor terhadap sektor konsumer. Dikutip dari Reuters, Jumat (21/8), Dow Jones Industrial Average turun 703,84 poin atau 1,32 persen ke level 52.759,21. S&P 500 melemah 66,82 poin atau 0,87 persen menjadi 7.641,16, sedangkan Nasdaq Composite turun 263,92 poin atau 1 persen ke 26.067,17.Dengan penurunan tersebut, S&P 500 berada sekitar 2 persen di bawah rekor penutupan yang dicapai pada pekan lalu. Sementara Nasdaq masih lebih dari 3 persen di bawah rekor penutupan yang dicapai pada 2 Juni.Saham Walmart anjlok 9,2 persen setelah perusahaan ritel terbesar di dunia tersebut melaporkan penjualan toko yang telah beroperasi setidaknya satu tahun (comparable sales) di bawah ekspektasi Wall Street. Kenaikan harga bensin disebut membuat konsumen lebih membatasi berbelanja. Kepala Strategi Investasi Edward Jones, Mona Mahajan, mengatakan kenaikan harga minyak di atas USD 87 semakin menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi konsumen AS. Kekhawatiran tersebut muncul setelah data penjualan ritel dan pasar tenaga kerja AS pada Juli menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan."Muncul pertanyaan mengenai seberapa besar ketahanan konsumen di tengah harga bensin yang terus tinggi dan tekanan inflasi," ujar Mahajan dikutip dari reuters, Kamis (21/8).Selain kondisi konsumen, kenaikan yield obligasi kembali menjadi tekanan bagi pasar saham. Pada Rabu, Wall Street sempat menguat setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali obligasi dengan nilai lebih dari dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya.Namun demikian, pada perdagangan Kamis, yield kembali naik sehingga saham-saham AS kembali tertekan. Yield obligasi AS tenor 10 tahun dan 30 tahun sempat memangkas kenaikannya setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah kemungkinan kembali meningkatkan volume pembelian kembali surat utang. Yield kemudian kembali melanjutkan kenaikan."Ada beberapa tekanan yang dihadapi pasar ketika perdagangan dibuka hari ini. Salah satunya adalah kenaikan kembali yield obligasi di berbagai tenor yang terjadi meskipun ada langkah Departemen Keuangan kemarin," kata Mahajan.Di tengah tekanan pasar, saham perusahaan yang berkaitan dengan cryptocurrency justru menguat. Strategy dan operator bursa kripto Coinbase Global masing-masing naik lebih dari 7 persen, sehari setelah Presiden AS Donald Trump mendorong Kongres untuk mengesahkan rancangan undang-undang terkait aset kripto.Sejumlah saham individual juga bergerak signifikan. Saham Moderna anjlok 23,5 persen setelah sehari sebelumnya melonjak hampir 177 persen. Sebaliknya, saham produsen alat pertanian Deere naik 6,9% setelah perusahaan menaikkan proyeksi laba bersih tahunannya.Secara keseluruhan, saham yang melemah di Bursa New York (NYSE) lebih banyak dibandingkan saham yang menguat dengan rasio 1,94 banding 1. Sebanyak 156 saham mencatatkan level tertinggi baru, sedangkan 132 saham mencapai level terendah baru.Di Nasdaq, sebanyak 1.672 saham menguat dan 3.217 saham melemah, dengan rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 1,92 banding 1.S&P 500 mencatat 16 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan tiga saham mencatat level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite mencatat 67 saham di level tertinggi baru dan 104 saham di level terendah baru.Total volume perdagangan di bursa AS mencapai sekitar 9,61 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 sesi perdagangan terakhir yang mencapai 16,64 miliar saham.