Saat gempa mengguncang, apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran kita?

Wait 5 sec.

• Keselamatan saat gempa bergantung pada keputusan dan perilaku manusia.• Masyarakat cenderung meniru orang lain dalam situasi penuh ketidakpastian.• Kebijakan bencana perlu beralih dari informasi menuju desain perilaku.Apa yang akan kamu lakukan ketika gempa tiba-tiba terjadi? Mungkin alarm di gedung tempatmu bekerja langsung berdering, tapi kamu tidak tahu harus berbuat apa. Orang di sebelahmu juga tampak bingung—belum ada yang bergerak. Apa yang semestinya harus kamu lakukan di detik-detik krusial itu?Situasi seperti ini barangkali dialami penyintas gempa NTT Pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Sejauh ini, gempa telah merusak 11 ribuan bangunan, mengakibatkan 71 korban jiwa, dan mendorong lebih dari 55 ribu warga mengungsi.Selama ini, usaha mengurangi dampak dan korban bencana banyak berfokus pada bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini, peta risiko, jalur evakuasi, kesiapan SAR, dan ketersediaan logistik.Keenam komponen itu memang penting, tapi ada satu yang sering kurang mendapat perhatian: perilaku manusia.Sebaik apa pun kita merancang sistem, keselamatan pada akhirnya bergantung pada keputusan orang-orang. Ketika gempa terjadi, keputusan apakah akan segera keluar, menunggu anggota keluarga, mencari informasi lebih lanjut, atau mengikuti apa yang dilakukan orang di sekitar, akan ada di tangan manusia.Pertanyaannya kemudian bukan hanya “Apa yang seharusnya dilakukan manusia ketika terjadi bencana?”, tetapi juga “Apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran manusia ketika berada dalam situasi penuh ketidakpastian, tekanan waktu, dan ancaman keselamatan?”Ilmu perilaku (behavioral science) memberikan beberapa jawaban menarik. Baca juga: Mengapa masih banyak orang yang pasrah merespons bencana? Meniru orang lainDalam keadaan darurat, orang lain bukan cuma kerumunan, mereka adalah sumber informasi.Fenomena ini teruji dalam eksperimen menggunakan immersive virtual reality kepada 42 orang di Florida, Amerika Serikat. Peneliti menyimulasikan situasi evakuasi dan mengamati orang-orang mengambil keputusan. Hasilnya, peserta mengikuti perilaku orang lain sekalipun pilihan itu lebih berisiko.Dalam ilmu perilaku, fenomena meniru ini dikenal sebagai social influence (pengaruh sosial) atau social proof (bukti sosial). Jika semua orang diam, kita mungkin menyimpulkan bahwa situasinya belum terlalu berbahaya. Sebaliknya, ketika orang-orang mulai bergerak menuju pintu keluar, kita mendapat sinyal bahwa mungkin sudah waktunya untuk bertindak. Baca juga: Bagaimana membangun pendidikan risiko bencana untuk generasi muda dari sekolah Kita juga mencari siapa yang bisa dipercayaTemuan yang lebih dekat dengan konteks gempa datang dari eksperimen psikologi dengan virtual reality untuk menyimulasikan gempa dan proses evakuasinya.Peneliti meminta peserta mengambil keputusan dalam lingkungan simulasi gempa yang imersif kepada 83 staf dan pengunjung rumah sakit di Auckland, Selandia Baru. Peneliti kemudian menggunakan menganalisis proses berpikir yang mereka ungkapkan secara lisan atau verbal protocol analysis.Hasilnya menunjukkan bahwa keputusan evakuasi terbentuk melalui interaksi berbagai informasi, termasuk kondisi lingkungan dan keberadaan orang lain.Ini masuk akal. Sebab, dalam situasi yang tidak biasa, kita cenderung mencari seseorang yang dapat dijadikan rujukan. Di sekolah, mungkin guru. Di rumah sakit, mungkin tenaga medis. Di gedung publik, mungkin petugas keamanan.Artinya, dalam situasi darurat, pertanyaan masyarakat juga berupa “Siapa yang harus saya percaya?”, bukan hanya “Apa yang harus saya lakukan?”Eksperimen lainnya tentang komunikasi evakuasi dalam bencana banjir, menunjukkan bahwa tingkat otoritas pembawa pesan memengaruhi persepsi masyarakat terhadap pesan dan sumbernya tersebut.Oleh karena itu, sistem peringatan dini tidak cukup hanya memiliki teknologi yang baik. Masyarakat juga harus mengetahui siapa sumber informasi yang dapat dipercaya dan memilah pesan mana yang harus segera ditindaklanjuti.Kita tidak selalu panik, kita mencoba memahami situasiAda anggapan bahwa ketika bencana terjadi, manusia akan panik dan kehilangan kemampuan berpikir.Dua penelitian eksperimental di atas justru membuktikan bahwa situasinya tidak sesederhana itu. Dalam simulasi evakuasi, manusia memang dipengaruhi oleh orang lain, tetapi mereka juga terus membaca lingkungan dan mengevaluasi informasi sebelum mengambil keputusan. Baca juga: Bagaimana jejaring sosial dapat menyelamatkan hidup saat terjadi bencana Keduanya juga menjadi krusial bagi cara kita mendefinisikan masalah yang nantinya akan menentukan kebijakan.Jika kita menganggap masalahnya adalah kepanikan, solusi kita mungkin berfokus pada bagaimana menenangkan masyarakat.Tetapi jika masalahnya adalah ketidakpastian, solusinya berbeda: menyediakan informasi yang sederhana, jelas, kredibel, dan langsung menjawab pertanyaan paling penting:“Saya harus melakukan apa sekarang?”Dalam beberapa detik pertama setelah gempa, masyarakat tidak membutuhkan penjelasan panjang tentang mekanisme tektonik. Mereka membutuhkan instruksi yang mudah dipahami dan mudah dilakukan.Tahu risikonya belum tentu membuat kita bertindakMasalah berikutnya adalah persepsi risiko.Pengetahuan tentang risiko tidak otomatis menghasilkan perilaku tangguh bencana. Sebab, dua orang yang menerima informasi tentang bahaya yang sama bisa mengambil keputusan berbeda karena pandangan mereka terhadap ancaman tidaklah serupa.Kerangka protective action decision model menjelaskan bahwa keputusan untuk melakukan tindakan perlindungan merupakan sebuah proses. Individu menerima beragam petunjuk dari lingkungan, memproses informasi, menilai ancaman, lalu menentukan bagaimana mereka akan bertindak.Artinya, ada gap perilaku antara mengetahui tindakan yang benar dan benar-benar melakukannya. Seseorang bisa mengetahui bahwa gempa berbahaya, tetapi mereka bisa jadi menunda keluar dari bangunan karena ingin mengambil barang. Yang lain mungkin tahu harus evakuasi, tetapi tidak tahu ke mana harus pergi. Pengalaman bencana bisa memudarGempa Yogyakarta memberi pelajaran penting mengenai hal ini.Riset Thamarapani dan Rockmore (2022) dari gempa Yogyakarta 2006 menunjukkan bahwa pengalaman gempa memang mengubah beberapa karakteristik perilaku. Namun, perubahan tersebut tidak permanen. Baca juga: Mewariskan pengetahuan kebencanaan ke generasi muda perlu usaha berkelanjutan Setelah mengalami gempa besar, masyarakat mungkin menjadi sangat waspada. Mereka mengikuti berita, memeriksa rumah, mempelajari jalur evakuasi, dan berbicara tentang kesiapsiagaan.Tetapi waktu berjalan. Kehidupan kembali normal. Dan perlahan, urgensi tersebut memudar.Dari memberikan informasi ke merancang perilakuJumlah korban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan atau pun kedalaman gempa. Ia turut dipengaruhi oleh keputusan manusia dalam beberapa menit pertama setelah gempa terjadi.Dengan demikian, kebijakan kebencanaan perlu bergerak dari sekadar penyampaian informasi ke desain perilaku. Pun, membangun infrastruktur yang tahan bencana tidaklah cukup. Kita juga perlu membiasakan perilaku yang tangguh bencana.Kita tidak cukup mengatakan “kenali jalur evakuasi”. Masyarakat perlu berlatih menggunakan jalur tersebut.Kita tidak cukup mengatakan “segera evakuasi”. Masyarakat harus tahu kapan harus berhenti mencari informasi dan mulai bergerak.Kita tidak cukup mengandalkan satu kanal komunikasi. Kita perlu membangun jaringan sumber informasi yang dipercaya masyarakat, termasuk di tingkat lokal.Simulasi pun tak cukup sekali kita adakan. Perilaku tangguh bencana perlu kita buat sedemikian rupa agar menjadi kebiasaan.Lury Sofyan tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.