• Gempa NTT memberi petunjuk awal seputar rumah yang lebih tahan guncangan.• Inisiatif banyak warga Sikka membangun rumah lebih kokoh dapat menjadi pelajaran. • Pemulihan bisa menjadi momentum perbaikan rumah agar lebih tangguh menghadapi bencana.Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA, gempa mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bermagnitudo 7,7 dan kedalaman 15 km ini mengakibatkan sedikitnya 78 kematian dan kerusakan 41.392 rumah (59,6% di antaranya rusak sedang dan berat). Selain itu, sebanyak 1.387 fasilitas pendidikan dan 244 fasilitas kesehatan turut mengalami kerusakan. Mayoritas kerusakan terjadi di Manggarai Timur (12.423 rumah), Manggarai Barat 6.541 rumah,Nagekeo (7.400-an rumah), Manggarai (5.988 rumah), Ngada (5.978 rumah) dan Ende (2.345 rumah).Sementara di Sikka, kerusakan rumah juga terjadi: 3.296 rumah (943 di antaranya rusak berat). Namun, angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dampak Gempa Flores 1992 (dengan magnitudo 7,8 dan kedalaman 28km) yang menyebabkan sedikitnya 15 ribu rumah rusak berat atau runtuh di Sikka. Baca juga: 30 tahun lalu gempa dan tsunami merusak Flores: apakah mitigasi risiko di sana kini lebih baik? Mengapa tingkat kerusakan rumah berbeda antarkabupaten terdampak?Sepekan belakangan, kami melakukan analisis visual multisumber untuk mengidentifikasi pola, tipe, dan tingkat kerusakan bangunan pascagempa, (termasuk 31 gempa susulan berkekuatan melebihi magnitudo 5,0). Adapun analisis kami berbasiskan observasi digital nonpartisipatif (tanpa berada di lokasi) terhadap unggahan 400-an foto yang tersedia dari 90 akun pada media sosial termasuk akun media seperti Tribun Flores dan EkoraNTT, serta dokumentasi 40-an foto pihak ketiga dari kolega lokal dan jurnalis dari berbagai lokasi di Flores. Analisis kami menggunakan pendekatan penilaian tingkat kerusakan bangunan lewat analisis foto dengan memperhatikan karakteristik kerusakan yang terlihat, seperti retakan, keruntuhan dinding, kegagalan kolom (misalkan menekuk karena gagal meneruskan beban dari atas ke fondasi), kualitas bahan (bata/batako dan plesteran), maupun indikasi kegagalan struktur dan nonstruktur lainnya.Kami menemukan beberapa fenomena menarik, khususnya pada hunian berdinding bata dan batako dengan rangka beton bertulang. Banyak bangunan mengalami kerusakan berat akibat gempa, tetapi tetap berdiri.Di beberapa rumah, hanya sebagian bidang dinding yang roboh—diduga karena luas dinding bata/batako melebihi ukuran standar tanpa diperkuat kolom praktis (Foto 1 dan 2). Kolom praktis adalah tiang di antara bidang dinding yang menguatkan kolom struktur dalam menopang beban. Foto 2: Foto rumah di Dampek, Lamba Leda, Manggarai Timur. (S Guseltri/Facebook) Hunian dengan kerusakan sedang juga banyak kami jumpai, antara lain berupa retak-retak pada dinding terutama di sekitar bukaan (baik jendela maupun pintu). Kedua hal di atas memberi peluang rehabilitasi melalui retrofit atau penguatan struktur bangunan agar lebih tahan gempa. Rumah di Sikka lebih tangguh?Yang membahagiakan, kami menyaksikan gambar-gambar hunian tanpa plesteran (lapisan semen penutup bata/batako) tetap berdiri kokoh tanpa tanda-tanda kerusakan berarti (Foto 3). Foto 3: Rumah di Ndora, Mbay, Nagekeo. (Ludgardis Maria/Facebook Messenger) Salah satu hal yang menarik perhatian kami terhadap rumah kokoh ini adalah keberadaan balok pengikat (ring balk/struktur beton bertulang yang dipasang secara horizontal). Letaknya bukan hanya di bagian atas dan bawah bidang dinding sesuai panduan teknis umumnya, tetapi juga di bagian tengahnya. Di beberapa rumah, terdapat satu bahkan dua balok pengikat tambahan (Foto 3 dan 4). Dengan demikian, setidaknya ada tiga bahkan empat balok pengikat beton dalam sebidang dinding.Fenomena ini lazim terlihat di Kabupaten Sikka. Karenanya, kecuali faktor jarak, bukan kebetulan rumah di Sikka berpotensi lebih sedikit mengalami kerusakan dalam peristiwa kali ini. Hipotesis awal kami, penggunaan balok pengikat tambahan tersebut kemungkinan besar menjadi salah satu faktor penentu ketahanan terhadap gempa.Kejadian dari Nagekeo memperkuat kemungkinan ini. Walaupun secara struktur kuat dan tidak runtuh, tanpa kualitas dan ikatan yang kuat antara tembok dan daerah bukaan (pintu) dengan balok pengikat, kerusakan tetap bisa terjadi (Foto 5). Foto 5: Rumah yang gagal dinding dekat bukaan (pintu) Batu Kodok-Langedhawe-Aesesa Selatan, Nagekeo. (P Maemali/Facebook) Baca juga: Lika-liku nelayan Demak atasi banjir: dari meninggikan rumah hingga bermigrasi Pendekatan seperti ini tentu bisa meningkatkan biaya konstruksi. Namun, menarik untuk memahami apakah praktik tersebut merupakan pengalaman lokal yang berkembang dari pembelajaran masyarakat terhadap gempa-gempa sebelumnya. Menarik pula mencermati pesan yang dituliskan sejumlah akun untuk mengiringi gambar-gambar di media sosial. Misalnya, ada akun yang menjelaskan detail bahan rumah kerabatnya di lokasi terdampak gempa (Foto 6). Foto 6: Unggahan yang berasal dari akun Paulus Nong Wil di Doreng, Nusa Tenggara Timur, pada 16 Agustus 2026. (Facebook Pro) Buah pengetahuan mitigasi gempaDari tangkapan layar tersebut, terlihat beberapa bentuk pengetahuan mitigasi yang telah dimiliki masyarakat, meskipun masih terbatas. Masyarakat tampaknya telah mengembangkan praktik yang berbeda untuk bangunan berdinding bata dan berangka beton bertulang dibandingkan konstruksi bangunan dengan material lokal seperti konstruksi kayu dan bambu.Praktik tersebut adalah berupa pemahaman bahwa dinding perlu dibatasi oleh elemen rangka beton bertulang, perlunya pengikat untuk menghubungkan elemen yang berbeda, serta pentingnya menggunakan material dengan kualitas yang baik. Baca juga: Jangan asal cepat, membangun huntara dan huntap bagi penyintas banjir Sumatra perlu memperhatikan 3 hal ini Tentu saja, pengamatan melalui gambar dan cerita di media sosial belum cukup untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara detail konstruksi tertentu dengan tingkat kerusakan bangunan. Kita masih memerlukan penelitian secara sistematis termasuk hubungannya dengan kualitas material, karakteristik tanah dan topografi. Namun, pengalaman masyarakat ini tetap menjadi sumber pengetahuan yang sangat berharga dan layak dipelajari.Kesempatan edukasi dalam membangun rumahMenarik untuk mempelajari bagaimana masyarakat menggali dan mengembangkan kearifannya sendiri.Dalam penggunaan material lokal, banyak pengetahuan telah terbentuk melalui proses belajar turun-temurun selama ratusan tahun—bahkan lebih. Hal ini tercermin dalam berbagai arsitektur dan teknik bangunan lokal. Misalnya rumah tradisional Lepo Gete) khas Sikka untuk membangun rumah dan bagaimana kondisi rumah-rumah tersebut setelah gempa.Dalam kasus bangunan berdinding bata atau batako, kita bisa mencari tahu bagaimana sekelompok masyarakat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam membangun rumah mereka. Mengapa hal ini penting?Saat ini bencana gempa NTT masih dalam masa tanggap darurat. Segala upaya harus dilakukan untuk menyelamatkan korban dan menyediakan hunian sementara bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal.Sesudahnya, para penyintas perlu dibantu untuk membangun kembali kehidupannya. Di tahap inilah terdapat sebuah kesempatan yang sangat penting.Warga akan mulai memikirkan pembangunan kembali atau perbaikan rumah mereka yang rusak. Mereka juga bisa mempertimbangkan pengalaman yang baru saja dialami: rumah mana yang rusak, rumah mana yang tetap berdiri, dan apa yang membedakan keduanya.Pengalaman masyarakat yang rumahnya bertahan perlu kita dokumentasikan dan pelajari. Detail konstruksinya perlu kita teliti, kemudian mempertemukannya dengan pengetahuan teknis dan standar konstruksi yang berlaku. Setiap bencana meninggalkan dua kemungkinan warisan: luka dan pengetahuan. Seperti pepatah Flores: Luka boleh diwariskan. Tetapi kebijaksanaan harus dilanjutkan.Artinya, pengalaman masyarakat tidak boleh berhenti hanya sebagai cerita. Ia justru dapat berkembang menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi pembangunan kembali. Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.