Keputusan untuk menggaet Lupita Nyong’o sebagai Helen dan Elliot Page sebagai prajurit bernama Sinon menjadi langkah berani dan menarik dalam film “The Odyssey” karya Christopher Nolan.Kedua pilihan pemeran ini menandai pergeseran dari gaya penggarapan mitologi Yunani versi Hollywood yang konvensional dan maskulin secara berlebihan. Berbagai komentar Elon Musk dan banyak pengguna lainnya di platform X makin menegaskan keberhasilan Nolan dalam hal tersebut.Namun, sebagai akademisi kajian sastra dan kebudayaan Yunani kuno, saya menilai film ini mengecewakan dalam menggambarkan sosok para perempuan.Karakter perempuan versi Nolan (sebagian besar) digambarkan sebagai sosok mandiri dan tangguh yang memegang peranan sentral dalam mengusung tema antiperang miliknya. Kendati demikian, mereka memainkan peran tunggal—seperti istri, ibu, pengasuh, ratu, atau penyihir—yang kehilangan kompleksitas seksual dan intelektual dari puisi asli karya Homer. Hasrat, agensi, serta pilihan hidup mereka disajikan kurang bergelora atau bahkan pudar sama sekali.Dalam mahakarya The Odyssey, sosok perempuan karya Homer memiliki kompleksitas psikologis yang begitu mendalam. Begitu dalamnya, hingga pada 1897, penulis asal Inggris Samuel Butler sempat berargumen bahwa sang pengarang sejatinya adalah seorang perempuan. The Odyssey sendiri lahir dari tradisi lisan. Siapa sosok penciptanya tetap tak tersingkap hingga kini. Nama “Homer” lebih merujuk pada konvensi sastra ketimbang fakta sejarah.PenelopePenelope versi Nolan sangat memahami ketidakberdayaan seorang ratu yang ditinggal suaminya bertahun-tahun, ketika kerajaannya terancam oleh para pria yang berambisi merebut takhtanya.Ia memanfaatkan kemampuannya menenun untuk mengulur waktu dari desakan para pelamar yang memaksanya menikah lagi. Ia berdalih harus menyelesaikan kain kafan untuk ayah mertuanya, sembari diam-diam mengurai kembali hasil tenunannya setiap malam.Perannya sebagai istri yang setia dan ibu yang berdedikasi menjadi inti dalam The Odyssey karya Homer. Sosok Penelope di depan alat tenun telah menjadi simbol kesucian moral dan kesetiaan perempuan, yang diabadikan dalam pelbagai karya seni—mulai dari lukisan vas ornamen merah era klasik hingga potret neoklasik, seperti karya Angelica Kauffman (1741–1807). Lukisan vas yang menggambarkan Penelope sedang duduk berduka di dekat alat tenunnya bersama putranya, Telemachus. (Wikimedia/Museo archeologico nazionale di Chiusi), CC BY Dalam film Nolan, sosok Penelope digambarkan tak pernah jauh dari alat tenunnya. Namun, salah satu momen paling penting yang cukup krusial dalam karya Homer justru absen: saat ia menguji Odysseus usai kepulangannya.Dalam karya Homer, Penelope berhasrat memastikan identitas Odysseus setelah kepergian sang suami yang amat panjang. Mengetahui bahwa Odysseus memahat ranjang pernikahan mereka langsung dari tunggul pohon zaitun yang masih tertanam, Penelope memerintahkan pelayannya untuk merapikan ranjang tersebut di luar kamar pengantin demi melihat respons Odysseus. Sang suami sempat mencurigainya telah berselingkuh, hingga ia menyadari bahwa ranjang tersebut tetap kokoh dan tak bergeming dari tempatnya.Siasat uji ranjang ini makin mengukuhkan posisi Penelope sebagai sosok yang sepadan bagi sang pria polutropos (“punya seribu cara”). Namun, tindakan ini juga menuntut Penelope untuk secara gamblang menyuarakan kemungkinan atas ketidaksetiaannya sendiri.Persoalan mengenai kesucian moral Penelope menyeruak dalam narasi Homer saat ia menampakkan diri di hadapan para pelamar, hingga Telemachus sendiri sempat mempertanyakan apakah Odysseus benar-benar ayah kandungnya.Tradisi mitologi Penelope yang sarat dinamika ini kemudian diangkat kembali dalam novel The Penelopiad karya Margaret Atwood, yang mengimajinasikan ulang kisah tersebut dari sudut pandang Penelope dan 12 pelayan perempuannya. Kisahnya juga menjadi sarana untuk mengeksplorasi kompleksitas emosional dari para pasangan prajurit yang diterjunkan ke medan perang.CirceKarakter perempuan paling memikat dalam film karya Nolan ini adalah Circe—dan itu bukan sekadar karena adegan saat ia menyihir anak buah Odysseus menjadi kawanan babi. Bejana terakota jenis calyx-krater yang menampilkan adegan konfrontasi Odysseus dengan Circe sang penyihir, lengkap dengan tongkat sihir dan ramuan pengubah manusia menjadi binatang di antara keduanya. (Metropolitan Museum of Art) Melalui karakter Circe inilah, Nolan menyampaikan pandangannya mengenai kekerasan seksual sebagai strategi perang, dan bukan sekadar dampak buruk yang tak terhindarkan. Melalui pendekatan ini, ia mengembangkan penafsiran novelis Amerika Madeline Miller yang melihat keahlian sihir Circe sebagai bentuk pertahanan diri terhadap kekerasan pria, meskipun ancaman semacam itu sebenarnya tak pernah ada dalam puisi aslinya.Novel karya Miller yang berjudul Circe merupakan salah satu dari sederet adaptasi karya Homer belakangan ini—termasuk serial Women of Troy karya Pat Barker dan A Thousand Ships karya Natalie Haynes—yang memberi ruang suara bagi karakter-karakter perempuan serta menerapkan sudut pandang feminis terhadap kisah epik Homer.Identitas Circe sebagai seorang penyihir dalam film Nolan lebih dipengaruhi oleh tradisi narasi yang muncul belakangan. Dalam karya asli Homer, ia adalah seorang dewi yang menguasai pengetahuan tentang tanaman, layaknya dewa-dewi lainnya. Dewa Hermes memberi Odysseus tanaman pelindung bernama moly agar ia kebal terhadap ramuan sihir Circe.Dalam narasi Homer, nyanyian Circe memikat anak buah Odysseus untuk mendatangi kediamannya, tempat ia menyulap mereka menjadi kawanan babi. Ketika Odysseus menyusul, ia memaksa Circe mengembalikan wujud anak buahnya menjadi manusia kembali. Setelahnya, Odysseus membiarkan Circe memikatnya, menikmati keramahan sang dewi, dan berbagi tempat tidur dengannya selama setahun.HelenPenggambaran paling mengecewakan dalam film karya Nolan adalah sosok Helen, yang penculikannya oleh pangeran Troya, Paris, diyakini menjadi pemantik meletusnya Perang Troya. Pada era kuno, masyarakat Sparta bahkan menghormatinya dengan mendirikan kuil sebagai bagian dari pemujaan pahlawan (hero cult).Dalam The Odyssey garapan Nolan, Helen ditampilkan sebagai sosok jelita yang terdomestikasi, penuh penyesalan, dan memiliki cacat fisik. Film ini merombak adegan kemunculan megahnya dari versi epik aslinya: Menelaus memalingkan wajah Helen ke arah Telemachus, putra Odysseus, untuk memperlihatkan luka parut di wajahnya sembari mempertanyakan apakah ia masih tetap menawan.Nolan cenderung menghadirkan sosok Helen sebagai karakter sampingan ketimbang dalam puisi aslinya. Momen paling krusial baginya di dalam film terjadi saat Telemachus hendak pamit berpisah, ketika ia meminta Telemachus menyampaikan kepada Penelope betapa ia sangat menyesali seluruh penderitaan yang telah ia sebabkan.Sebaliknya, sosok Helen karya Homer jauh lebih kompleks dan memikat. Saat pertama kali muncul dalam The Odyssey, ia menuturkan kisahnya sendiri, menjelaskan bagaimana menjelang akhir perang—ketika tak lagi berada di bawah pengaruh Dewi Aphrodite—ia telah siap untuk kembali pulang. Ia mengisahkan kembalinya momen saat ia membantu (atau mungkin memikat) Odysseus yang kala itu menyusup ke Troya dengan menyamar sebagai pengemis.Menelaus lantas menggambarkan bagaimana Helen berjalan mengitari Kuda Troya sembari memanggil para prajurit di dalamnya dengan menirukan suara istri-istri mereka, guna memancing mereka agar keluar. Perpaduan narasi ini makin menepis kesan pasif dan justru menonjolkan kecerdikannya di samping seksualitas serta agensi dirinya, yang tetap menjadi inti penting dalam versi-versi kisahnya di kemudian hari.Penyair Yunani, Alcaeus, melayangkan perundungan berbasis stigma seksual kepadanya. Sebaliknya, penyair Stesichorus dan sejarawan Herodotus menyajikan versi berbeda: Helen berada di Mesir selama perang berlangsung (sehingga kesucian moralnya tetap terjaga), sementara sosok eidōlon (“kembaran” atau bayangannya) yang menggantikan posisinya di Troya. Baca juga: Guide to the classics: Euripides’ The Trojan Women – an unflinching look at the brutality of war Penulis lakon Euripides mengeksplorasi kedua versi kisah Helen ini dalam dua pementasan drama yang berbeda, yakni Trojan Women dan Helen. Sementara itu, Sappho—salah satu dari sedikit penyair perempuan dari era Yunani kuno—justru memujinya karena berani memilih Paris ketimbang suami dan putrinya demi mengikuti hasrat pribadinya.Setiap versi kisah tersebut menuntut pemahaman atas seksualitas Helen, sekaligus menjadi cerminan dari otonomi seksual dan daya tawar yang sejatinya tak pernah dimiliki oleh perempuan Yunani kuno pada umumnya.Perempuan sebagai sosok yang punya hasratThe Odyssey karya Homer telah berusia lebih dari 2.500 tahun. Keberlanjutan kisah ini sebagian bergantung pada cara generasi-generasi setelahnya meresapi kembali serta menginterpretasikan ulang karyanya.Dalam film Nolan, karakter-karakter perempuan dihadirkan kembali untuk mengusung narasi antiperang—sebuah tema yang tentu sangat relevan saat ini. Circe menghukum anak buah Odysseus atas kejahatan perang mereka, Helen menjadi korban amukan prajurit, dan Penelope menjelma sebagai pendengar bagi perenungan diri seorang tentara.Namun, lewat pendekatan ini, Nolan sejatinya melanjutkan tradisi panjang berupa pengambilalihan narasi perempuan melalui kacamata pria. Langkah ini mengabaikan kesempatan untuk mengeksplorasi perempuan sebagai subjek yang berhasrat dan memiliki otonomi seksual, yang terus berjuang melawan standar ganda—kerap menghakimi pilihan hidup serta menempatkan mereka sebagai sumber kecemasan.The Odyssey karya Nolan menjadi pengingat bagi kita bahwa kekerasan, bahkan kekerasan seksual sekalipun, ternyata masih lebih bisa diterima oleh penonton ketimbang otonomi seksual perempuan.Allison Glazebrook tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.